Tukang Kupas Tebu di Tanggo Rajo Keluhkan Sepi Pembeli

Ia biasanya mengupaskan tebu yang ia beli dari kebun orang untuk dia bersihkan dan ia jual kembali kepada pedagang es tebu di sekitaran Kota Jambi.

Penulis: Monang Widyoko | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Tribunjambi/widyoko
Jaharman (60) tukang kupas tebu di Tanggo Rajo, Ancol Jambi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Jaharman (60) tukang kupas tebu di Tanggo Rajo, Ancol Jambi.

Ia biasanya mengupaskan tebu yang ia beli dari kebun orang untuk dia bersihkan dan ia jual kembali kepada pedagang es tebu di sekitaran Kota Jambi.

Tebu yang ia jual, didapatkannya dari perkebunan tebu orang. Yang berada di Jerambah Bolong, Kasang Pudak, dan Kumpeh.

"Biasanya saya beli itu dari kebun mulai dari Rp 1.000-Rp 3.000, tergantung dari jenisnya. Soalnya tebu ini ada bermacam jenis mulai dari yang global sampai yang super," ungkapnya saat Tribunjambi.com temui, Kamis (5/11/2020).

Baca juga: Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Ajukan 2,2 Juta Vaksin Covid-19 untuk Provinsi Jambi

Baca juga: VIDEO Hampir Pasti Menang Jadi Presiden AS Biden Butuh 6 Suara Lagi, Donald Trump Kemungkinan Kalah

Baca juga: Covid-19 di Batanghari Meningkat, Belajar Tatap Muka Belum Diperbolehkan, Disdik Keluarkan Edaran

Biasanya bapak kelahiran Jambi, 4 Juli 1960 ini menyetok tebu hingga 500 batang. Kalau lagi ramai ia mampu menjualnya dan habis dalam tiga hari. Namun kalau sepi, tebu itu baru habis selama satu minggu bahkan lebih.

"Saya biasa menjualnya kembali ke pedagang es tebu, mulai dari Rp 4.000 untuk yang belum dikupas dan Rp 5.000 untuk yang sudah dibersihkan," ujarnya.

"Orang kebun tebu itu senang kalau saya beli tebu mereka. Soalnya kalau pedagang es tebu langsung ke lokasi, biasanya mereka memilih yang bagus-bagus saja. Jadi kalau yang kurang bagus biasa tidak laku dan malah terbuang," tambahnya.

Ia juga mengatakan yang biasa membeli di tempatnya adalah penjual es tebu di sekitaran Tanggo Rajo ini.

"Rata-rata mereka yang berjualan mulai dari dekat WTC itu sampai dekat pintu air sini. Tapi banyak juga yang beli ditempat saya dari daerah lain. Seperti Talang Banjar, The Hok, Kota Baru, Nusa Indah, Telanai, masih banyak lagi," bebernya.

Namun di masa pandemi ini ia mengeluhkan sepi yang membeli. Ia berujar, biasanya orang mampu beli 10 batang bahkan lebih. Sekarang mereka beli paling banyak lima batang tebu.

"Semenjak korona inilah yang beli jadi sedikit-sedikit. Mereka mungkin juga takut kalau beli tebu banyak-banyak nanti tidak habis. Tapi namanya rezeki saya yakin semua sudah ada yang atur," jelasnya sambil memberi senyum tipisnya.

Dirinya mengatakan mengupas tebu ini tidak menjadi andalan dia mencari nafkah. Ia juga terkadang ikut kerja borongan.

"Ya kalau ada panggilan kerja borongan, entah bangun rumah, masang keramik, dan lainnya, saya ikut. Namanya zaman susah semua harus dikerjakan. Biar bisa bertahan hidup," tutup Jaharman dengan mantap.

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved