Pakar Ekonomi Sebut Pemerintah Provinsi Jambi Harus Segera Naikan Serapan Anggaran, Ini Sebabnya
Ada beberapa Hal yang menarik, pertama walaupun nilai tukar petani tinggi rata-rata diatas 110 untuk tanaman pangan khususnya holtikultura dan polawij
Penulis: Vira Ramadhani | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi saat ini minus 1,72 persen.
Pakar ekonomi, Prof Dr H Haryadi SE M MS, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, mengatakan sejak krisis ekonomi dulu, ini pertama kalinya kondisi ekonomi Jambi minus dan kondisinya juga hampir semua daerah minus, bahkan nasional juga minus hal ini juga dikarenakan pandemi Covid-19.
“Kalau dilihat data yang ada, ekspor Jambi dibanding tahun lalu cenderung meningkat. Dan Impor kita juga menurun, bila dilihat dari neraca perdagangan cukup bagus. Dan nilai tukar petani masih baik. Hal ini pertanda indeks yang diterima petani lebih tinggi,” ujarnya melalui sambungan telepon, Kamis (8/10/2020).
Ada beberapa Hal yang menarik, pertama walaupun nilai tukar petani tinggi rata-rata diatas 110 untuk tanaman pangan khususnya holtikultura dan polawija itu indeksnya masih dibawah angka 100. Itu artinya pertanian disektor itu secara teoritis tidak menguntungkan.
• Bawaslu Tanjabbar Sebut Masih Temukan Paslon yang Tak Patuhi Protokol Kesehatan Saat Kampanye
• 7 Drama Korea 2020 dengan Rating Terbaik, Ada Record of Youth dan Secret Forest Season 2
• Temui Massa Aksi Tolak UU Omnibus Law, Ketua DPRD Sarolangun Mendukung dan Tangani Kesepakatan
Artinya kondisi ekonomi masyarakat yang bekerja disektor itu mengindikasikan tidak baik, padahal di Jambi ini hampir sebagian masyarakat miskin bekerja di sektor itu.
Upaya yang bisa dilakukan agar ekonomi Jambi menjadi lebih baik yaitu, Karena saat ini pandemi Covid-19, pengerjaan proyek-proyek relatif lambat, oleh karena itu serapan anggaran juga relatif rendah.
“Padahal sektor riil kita sekarang saat ini masih kurang bergairah, jadi yang diharapkan menggenjot yaitu dari sektor konsumsi,” katanya.
Terutama dari sektor konsumsi pemerintah, harusnya sekarang proyek-proyek pembangunan harusnya sudah dikucurkan (dikeluarkan), agar sektor ril lebih bergairah. Kalau tidak dilakukan maka pertumbuhan ekonomi Jambi diperkirakan akan cenderung lebih minus dibandingkan sekarang ini.
Jadi Pemerintah Provinsi Jambi harus mendorong serapan anggaran dinaikan, untuk sekarang masih dibawah 50 persen.
“Saya takutnya kebiasaan lama itu terjadi yaitu pada akhir tahun buru-buru mencairkan proyek-proyek yang ada. Waktunya akan mepet, dikhawatirkan dalam pelaksanaannya kualitas tidak sesuaikan dengan standarnya atau tidak maksimal,” sebutnya.
Kita saat ini disibukan dengan pilkada, banyak daerah-daerah di Provinsi Jambi akan menjalankan pilkada. Dan ada beberapa bupati yang mecalonkan diri menjadi gubernur Jambi.
“Saya khawatir konsentrasi dari beliau-beliau ini terpecah sehingga serapan dari anggaran untuk memperbaiki ekonomi ini jadi terhambat,” pungkasnya.