Berita Tanjab Timur
Produksi Jengkol di Tanjab Timur Tahun Ini Menurun, Pembeli Hanya Berani Bayar Rp 6.000 per Kg
Buah yang memiliki citarasa legit dan berbau tersebut, sejak beberapa tahun terakhir menjadi tumpuan perekonomian baru bagi warga Timur. Selain dari t
Penulis: Abdullah Usman | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Hasil panen jengkol tidak sesumringah tahun sebelumnya, para petani berharap musim depan jauh lebih baik.
Di Kabupaten Tanjabtim yang masih didominasi kawasan perkebunan, baik tanaman produksi maupun pangan cukup banyak dijumpai. Satu di antaranya tanaman jengkol.
Buah yang memiliki citarasa legit dan berbau tersebut, sejak beberapa tahun terakhir menjadi tumpuan perekonomian baru bagi warga Timur. Selain dari tanaman kelapa, karet, sawit dan pinang.
Meski kondisi hasil buah jengkol di petani pada musim ini cenderung mengalami anjlok, mulai dari kualitas buah harga hingga permintaan pasar. ( harga jengkol Tanjabtim )
• Siapa Sebenarnya Kakek Sugiono yang Terkenal, Fotonya Dikolase dengan Wapres RI
• Bupati Tanjabbar Ingatkan Lurah untuk Tidak Lakukan Mark Up dan Fiktif Kelola Dana Kelurahan
• Profil Pangeran Cendana di Usia Muda Jadi Pengusaha Papan Atas, Berseteru Dengan Eks Danjen Kopassus
Abdul Kadir, satu dari petani jengkol di Kecamatan Sabak Timur menuturkan, tahun ini memang terjadi penurunan terutama dari buah yang dihasilkan. Jauh berbeda jika dibandingkan pada tahun sebelumnya.
"Tahun lalu kemarau panjang dan parah, tetapi buah jengkol lebih banyak dan melimpah. Kalau tahun ini justru sedikit bahkan ada juga pohon yang tidak berbuah," ujarnya, Rabu (30/9/2020).
"Jika tahun lalu bisa panen atau menjual hingga berkali kali, bahkan hitungan ton. Kalau sekarang paling kencang 3 kali jual. Itupun sudah ngasak (buah sisa)," tambahnya.
Para petani sendiri tidak mengetahui pasti penyebab produksi buah tahun ini menjadi minim. Jika dilihat dari gangguan hama jauh berkurang karena hama kera tahun ini tidak begitu beringas.
Terpisah Fatmah, petani jengkol menuturkan, untuk harga juga sedikit mengalami perbedaan dengan tahun sebelumnya. Jika semakin penghujung buah biasanya harga semakin tinggi tidak seperti saat.
"Kemarin pertama panen bisa harga Rp 9.000 per kg, untuk harga beli pengepul yang datang ke pembeli langsung. Jika diantar mungkin bisa lebih tinggi lagi," ujarnya.
"Kalau sekarang pembeli datang hanya berani bayar Rp 6.000 per kg dengan kualitas buah yang sudah maksimal tua (siap gulai)," tambahnya.
Dengan kondisi buah yang tidak terlalu banyak ini, para petani lebih memilih menjual kiloan ke pedagang pasar. Selain tidak terlalu banyak harga jualnya pun cukup tinggi bisa Rp 8.000 perkilo.
Meski demikian, para petani sangat bersyukur di tengah masa pandemi dan paceklik ekonomi saat ini, para petani masih bisa mengandalkan dari hasil jual jengkol. Sembari menunggu buah pinang kembali normal dari trek dan harganya naik lagi.