Kisah Pertempuran Hebat Di Hutan Papua, Meski Tertembak, Anggota Kopassus Ini Tetap Selamat
Sejak dibentuk, Kopassus telah terlibat berbagai operasi militer di medan tempur maupun operasi-operasi rahasia.
TRIBUNJAMBI.COM - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merupakan satu di antara Komando Utama Komando Utama (Kotama) tempur yang dimiliki TNI AD.
Selama lima hari, Pardjo tidur di antara jenazah, sementara itu Letda Agus Hernoto ditangkap.
Sejak dibentuk, Kopassus telah terlibat berbagai operasi militer di medan tempur maupun operasi-operasi rahasia.
Tugas Kopassus Operasi Militer Perang (OMP) di antaranya Direct Action serangan langsung untuk menghancurkan logistik musuh, Combat SAR, Anti Teror, Advance Combat Intelligence (Operasi Inteligen Khusus).
• UPDATE Corona Indonesia 10 September 2020: Total Kasus 207.203, Global AS Terbanyak
• UPDATE Corona Indonesia 10 September 2020: Total Kasus 207.203, Global AS Terbanyak
• Ada 3.861 Kasus Baru, UPDATE Corona di Indonesia & Sebaran per Provinsi, Terbanyak DKI
Selain itu, Tugas Kopasus Operasi Militer Selain Perang (OMSP) diantaranya Humanitarian Asistensi (bantuan kemanusiaan), AIRSO (operasi anti insurjensi, separatisme dan pemberontakan), perbantuan terhadap kepolisian/pemerintah, SAR Khusus serta Pengamanan VVIP.
Sebagai satuan tempur utama, para prajurtit Kopassus memiliki kemampuan khusus seperti bergerak cepat di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan anti teror.
Kopassus telah kenyang pengalaman di medan pertempuran, anggotanya pun bukan prajurit sembarangan.
Satu diantara kisah keberanian Kopassus yakni saat berlangsungnya pertempuran dengan Belanda di Papua.
Kopassus yang waktu itu masih bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) gagah berani bertempur melawan tentara Belanda.
Kisah nyata anggota RPKAD ini terjadi saat Operasi Trikora atau Tri Komando Rakyat di Papua.
Saat Letda Agus Hernoto yang dalam kondisi luka parah ditangkap, anggota RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang bernama Kopassus) PU II Pardjo ternyata masih hidup.
Kondisi Pardjo sangat parah, tak bisa bergerak jauh.
Dia harus bertahan hidup di antara jenazah teman-temannya yang menjadi korban penyergapan musuh.
Selama lima hari, Pardjo tidur di antara jenazah.
Tak ada obat-obatan dan makanan yang bisa digunakanannya.