Inspirasi Bisnis
Ketika UAS Kenakan Batik Motif Kopi Liberika, Apresiasi Tertinggi Saat Banyak Pengguna
Siapa yang tidak kenal dengan batik. Sebagai warisan nenek moyang Bangsa Indonesia yang juga telah ditetapkan sebagai warisan dunia,
Penulis: Samsul Bahri | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL - Siapa yang tidak kenal dengan batik. Sebagai warisan nenek moyang Bangsa Indonesia yang juga telah ditetapkan sebagai warisan dunia, semakin membawa batik dikenal seluruh dunia.
Batik Indonesia memiliki keragaman, sehingga tidak akan ditemukan kesamaan dalam setiap motif batik di tiap-tiap daerah di Indonesia. Apresiasi tertinggi dari batik Indonesia adalah semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan.
Dampaknya semakin banyaknya andil masyarakat dalam memperkenalkan dan mempertahankan batik sebagai identitas bangsa Indonesia.
Keberagaman batik di tiap-tiap daerah, menjadikan batik sebagai salah satu identitas tiap daerah.
Kebanyakan motif yang diusung atau dibuat oleh pembatik mengangkat kearifan lokal, termasuk kekayaan alam hingga sosial budaya masyarakat lokal.
Provinsi Jambi sebagai satu diantara Provinsi yang ada di Indonesia yang memiliki 11 Kabupaten/kota dengan masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri terutama berbicara soal batik.
Kabupaten Tanjabbar misalnya, setidaknya ada 40 motif, 30 motif di antaranya telah dipatenkan sebagai motif ciri khas Kabupaten Tanjabbar.
Perajin batik cap Tanjabbar, Ahmad Daud merupakan satu diantara pembatik yang ada di Kabupaten Tanjabbar.
Sebagai pembatik cap, dirinya telah melakukan pembatikan dengan berbagai motif yang juga telah dijual dan dipakai oleh orang-orang ternama.
Ustadz Abdul Somad (UAS) misalnya, telah memakai baju batik buatannya dengan motif kopi liberika Tanjabbar. Motif batik khas Tanjabbar, Kopi Liberika yang dikenakan UAS.
"Kopi liberika kita kenal sebagai hasil kopi khas dari tanah Tanjabbar. Ini kita angkat sebagai motif batik, untuk lebih memperkenalkan kekayaan alam yang ada di Tanjabbar," sebutnya.
Ahmad Daud merupakan pembatik yang berfokus pada batik cap, dengan menggunakan alat cap yang di pesan dari luar daerah.
Di tangan perajin batik cap ini berbagai motif Ia aplikasikan. Selain motif Kopi Liberika, motif Cempakul, Udang Ketak, Buah Kelapa, Buah Nipah juga menjadi bagian motif batik cap yang berasal dari daerah ini.
"Untuk peralatan cap nya kita pesan dari Pekalongan. Jadi kita bikin desainnya, kemudian kita kirim dan mereka buatnya," sebutnya.
Menggunakan cap dan lilin, motif-motif asli Kabupaten Tanjabbar diaplikasi dalam lembaran-lembaran kain.
Proses ini hanya menampakkan motif dari cap tadi, sementara untuk mendapatkan hasil batik, dilanjutkan dengan proses colet.
Proses ini memberikan pewarnaan tahap awal dan di aplikasikan pada motif di kain.