Hari Polisi Wanita 2020
Siapa Sebenarnya Rosmalina Pramono, Satu Diantara 6 Polwan Cantik Pertama Indonesia Berdarah Minang
Sosok Polwan sendiri juga bertugas dalam penanganan dan penyidikan terhadap kasus kejahatan yang melibatkan kaum wanita baik korban maupun kejahatan
Penulis: Tommy Kurniawan | Editor: Rohmayana
TRIBUNJAMBI.COM - Setiap tanggal 1 September, Indonesia memperingati hari Polisi Wanita ( Polwan ).
Sejarah kelahiran Polisi Wanita (Polwan) di Indonesia tak jauh berbeda dengan proses kelahiran Polisi Wanita di negara lain.
Sosok Polwan sendiri juga bertugas dalam penanganan dan penyidikan terhadap kasus kejahatan yang melibatkan kaum wanita baik korban maupun pelaku kejahatan.
Polwan di Indonesia lahir pada 1 September 1948, berawal dari kota Bukittinggi, Sumatera Barat.
Tatkala Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) menghadapi Agresi Militer Belanda II.
Dimana terjadinya pengungsian besar-besaran pria, wanita, dan anak-anak meninggalkan rumah mereka untuk menjauhi titik-titik peperangan.
Untuk mencegah terjadinya penyusupan, para pengungsi harus diperiksa oleh polisi, namun para pengungsi wanita tidak mau diperiksa apalagi digeledah secara fisik oleh polisi pria.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Indonesia menunjuk SPN (Sekolah Polisi Negara) Bukittinggi untuk membuka "Pendidikan Inspektur Polisi" bagi kaum wanita.
Setelah melalui seleksi terpilihlah 6 (enam) orang gadis remaja yang kesemuanya berdarah Minangkabau dan juga berasal dari Ranah Minang, Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna Situmorang. Rosmalina Pramono, Dahniar Sukotjo, Djasmainar Husein dan Rosnalia Taher.
Namun yang lebih menarik yakni sosok Rosmalina Pramono.
Kolonel Pol. (Purn.) Rosmalina Pramono (lahir di Sumatera Tengah) adalah seorang anggota Polwan (Polisi Wanita) Indonesia.
Dilansir Wikipedia, Rosmalina Pramono bersama lima orang koleganya, yaitu Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna Situmorang, Dahniar Sukotjo, Djasmainar Husein, dan Rosnalia Taher merupakan perempuan Indonesia pertama yang menjadi Polwan dan juga tercatat sebagai wanita ABRI pertama di Tanah Air.
Secara resmi pada tanggal 1 September 1948, Rosmalina Pramono bersama kelima orang koleganya yang ketika itu sama-sama gadis remaja merupakan perempuan Indonesia angkatan pertama yang masuk Pendidikan Inspektur Polisi pada SPN (Sekolah Polisi Negara) di Bukittinggi, Sumatera Tengah pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika terjadinya Agresi Militer Belanda II.
Pendidikan Inspektur Polisi itu diadakan karena terjadinya pengungsian besar-besaran penduduk untuk menghindari wilayah peperangan yang dibombardir militer Belanda.
Untuk mengantisipasi penyusupan atau pelaku kriminal yang masuk ke wilayah-wilayah yang dikuasai republik, semua pengungsi harus melalui pemeriksaan bahkan penggeledahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/dua-polwan-dari-tim-pelangi-polres-tanjabbar-tengah-memasang-masker-kepada-warga-tanjabbar.jpg)