Cerita Pria Irak yang Lolos dari Pembantaian ISIS, Masih Bernafas Dikira Sudah Mati
Tahun 2014 adalah awal masa kejayaan ISIS sebelum mereka dikalahkan oleh pasukan koalisi internasional. ISIS menguasai wilayah di Suriah dan Irak.
Kekhawatirannya sirna ketika ia tiba di Kamp Speicher.
• Selain Agnez Mo, Ini 9 Artis Indonesia yang Go Internasional
Orang-orang Sunni di sana menyambutnya dengan hangat. "Saya kaget juga. Ini adalah interaksi langsung pertama saya dengan warga Sunni," kata Kadhim.
Di hari-hari pertama semuanya berlangsung normal. Pada hari ke-12 terjadi perubahan dramatis.
Milisi ISIS mendatangi kota dan menguasai kota ini. Mereka menuju akademi militer Speicher.
Melihat ISIS menguasai kota sepenuhnya, para komandan militer di Speicher menyelamatkan diri.

• Jadwal Acara TV Hari Sabtu di Trans TV, ANTV, RCTI, SCTV, GTV, Trans 7, Indosiar, Kompas TV, TV One
Ditinggal para komandan dan perwira membuat ribuan taruna ini harus mempertahankan diri sendiri, padahal mereka baru beberapa hari masuk sekolah militer.
Tindakan pertama yang dilakukan ISIS adalah meminta semua taruna meninggalkan akademi dan menanggalkan seragam tentara.
"Kami berjalan beriringan seperti warga biasa, warga sipil," kata Kadhim mengenang.
Kepada para taruna ini, beberapa milisi ISIS mengatakan, "Selamat datang. [Jangan takut], kami memang pegang senjata, tapi kami tak akan mencederaimu."
• Jadwal Acara TV Hari Sabtu di Trans TV, ANTV, RCTI, SCTV, GTV, Trans 7, Indosiar, Kompas TV, TV One
Milisi ISIS
"Tenang saja, kami hanya membawamu ke istana presiden. Di situ kamu akan disumpah untuk tidak pernah lagi menjadi tentara," kata beberapa milisi ISIS.
Kadhim mengatakan beberapa komandan ISIS pernah menjadi bagian dari rezim Saddam Hussein.
Para taruna Sunni dipulangkan, namun yang diketahui memeluk Syiah diperintahkan bertahan.
Rekaman video yang didapat BBC memperlihatkan taruna yang tidak dipulangkan ini diikat tangannya. Para taruna, termasuk Kadhim, dijejerkan di atas tanah.
Seorang milisi mengatakan, "Kami akan melakukan balas dendam untuk Saddam Hussein. Kamu semuanya akan kami bantai."