Pelajar SMP Tewas Akibat Dipukul Kawannya, 'Anaknya Periang', Tangis Pecah saat Pemakamannya
Kisah anak laki-laki berumur 15 tahun itu diduga menjadi korban pemukulan oleh rekannya sendiri saat tengah berada di musala tak jauh dari tempatnya
TRIBUNJAMBI.COM, BATAM - Kasus Bullying masih terus terjadi bahkan sampai harus memakan korban.
Seperti anak laki-laki berumur 15 tahun itu diduga menjadi korban pemukulan oleh rekannya sendiri saat tengah berada di musala tak jauh dari tempatnya tinggal.
Isak tangis pecah saat pemakaman Syahrul Ramadhan Yasa Pratama atau disapa Yasa.
Beberapa kali, ibu Yasa terus-terusan memeluk batu nisan bertuliskan namanya.
Tak hanya keluarga, guru hingga rekan sepermainannya pun ikut menangis saat jenazah Yasa dimasukkan ke liang lahat.
"Jiwa sosial Yasa tinggi," bisik seorang guru SMPN 29 Batam bernama Ali, tempat Yasa menimba ilmu kepada TribunBatam.id, Minggu (16/8/2020).
• Pernah Jadi Penjual Kayu Bakar dan Loper Koran, Kini Pangdam Jaya TNI AD, Profil Dudung Abdurachman
• Jangan Lupa Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 H Jatuh Pada Tanggal 20 Agustus 2020
• Netizen Tuding Ada Busana Cina di Uang Pecahan Rp 75.000, Padahal Itu Baju Adat Daerah Ini
Selain dikenal periang, Yasa diketahui suka membantu orang lain.
Dia tak sungkan untuk segera memberi pertolongan jika melihat orang lain kesusahan.
"Kami semua bersedih atas kepergiannya," tambah Ali sambil sesekali mengusap matanya.
Kesan mendalam terhadap Yasa juga disampaikan juga disebut Ilham, warga komplek tempat rasa tinggal.
Ilham masih tak bisa melupakan suara khas milik Yasa.
• HUT ke 75 RI, Ratusan Warga Binaan Lapas Klas IIB Bangko Dapat Remisi
Baginya, sosok Yasa meninggalkan kesan tersendiri. Apalagi, sebelum koma dan akhirnya meninggal dunia, Yasa diketahui sempat membantu perangkat RT untuk membagikan sembako dari pemerintah untuk warga.
"Om Ilham, Om Ilham. Suara dia kayak ngerock gitu. Jiwa dia itu gimana ya? Sosialnya tinggi. Salut kita dibuatnya," tambah Ilham kepada Tribun Batam mencoba untuk menirukan suara Yasa.
Dari cerita ayahnya, sebelum dipukul oleh rekannya, Yasa sempat mencoba untuk meminta maaf.
Tapi apalah daya, upaya Yasa tak disambut hangat dari rekannya itu. Saat tinju melayang, Yasa pun tak mampu melawan.