Breaking News:

Lingkungan Rusak Akibat Tambang Minyak Ilegal di Sarolangun, Sungai dan Rawa Tercemar Minyak Mentah

Kerusakan lingkungan terjadi akibat aktivitas pengeboran minyak ilegal di Sarolangun. Terlihat ratusan sumur minyak ilegal beroperasi di Lubuk Napal.

Tribunjambi/Wahyu
Kerusakan lingkungan terjadi akibat aktivitas pengeboran minyak ilegal di Sarolangun. Terlihat ratusan sumur minyak ilegal beroperasi di Lubuk Napal. 

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGHUN-Kerusakan lingkungan terjadi akibat aktivitas pengeboran minyak ilegal di Sarolangun.

Saat Tribunjambi.com bersama petugas gabungan datang ke Desa Lubuk Napal, Kecamatan Pauh pada Selasa (4/8) sore, terlihat ratusan sumur minyak ilegal beroperasi di sana.

Terlihat dari aktifitas itu, tanah, sungai dan rawa di sekitar sudah terkontaminasi oleh minyak mentah.

PPNS Dinas Lingkungan Hidup Sarolangun, Sohari Sohan mengatakan pada saat penertiban kali ini tidak menemukan para pelaku. Tetapi pemilik warung di sekitar lokasi masih berjualan.

Berdasarkan arahan Kapolres Sarolangun, sebaiknya para pemilik warung diminta tidak berlama-lama di lokasi dan segera meninggalkan lokasi.

Dua Terduga Pelaku Pembakaran Lahan di Jaluko dan Sekernan Ditangkap

Pernah Depresi Karena Putus Cinta, Wanita di Jambi Diduga Nekat Membakar Diri

"Kita tidak menemukan pelaku hanya pemilik warung, arahan sesuai himbauan Kapolres segera meninggalkan lokasi pada pemilik warung," katanya, Rabu (5/8).

Lanjutnya, untuk kerusakan lingkungan atas aktivitas illegal drilling ini memang cukup memprihatinkan akibat cemaran minyak mentah.

"Kita melihat tingkat kerusakan lahan dan pencemaran air. Dari kasat mata dengan adanya cairan minyak dalam sungai dan rawa. Kerusahkan tanah akibat tumpahan minyak," katanya.

Atas hal itu, alam sudah rusak karena ulah manusia, ini memang sulit untuk dilakukan pemulihan. Yang mana, selain tidak bisa dinormalkan secara total 100 persen, juga belum lagi biaya yang akan dikeluarkan bisa mencapai miliaran rupiah.

"Nilai pemulihan bisa miliaran rupiah. Seperti itu Pemda tidak mungkin untuk melakukannya, ya melihat nilainya," ujarnya.

Sumur-sumur minyak ilegal ini memiliki kedalam yang bervariasi, mulai dari 25 meter sampai 50 meter.

Dari sekian banyak sumur yang ada belum tentu bisa ditutup secara permanen. Fakta di lapangan hanya bisa dilakukan sebatas penutupan sementara, seperti memasukan kayu, cairan deterjen, dan lainnya. Ini masih bisa dilakukan penambangan kembali.

Untuk itu, perlu penutupan permanen dengan memakai semen tembak, namun lagi-lagi biaya yang akan dikeluarkan cukup besar.

"Kalo dilakukan penutupan permanen seluruh sumur itu melalui penguncian semen tembak, butuh biaya yang besar. Sumur yang ada di dalam aja keseluruhan lebih kurang 200 sumur, baik yang aktif maupun yang tidak aktif. Kita cuma dapat melakukan penutupan sementara sebanyak 100 sumur dan merobohkan 50 unit pondok," katanya.(yan)

Penulis: Wahyu Herliyanto
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved