Rabu, 22 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Berita Nasional

Usai Viral Gilang Fetish Kain Jarik, Kini Muncul Dosen Diduga Pelecehan Seksual Modus Riset Swinger

Usai Viral Gilang Fetish Kain Jarik, Kini Muncul Dosen Diduga Pelecehan Seksual Modus Riset Swinger

Editor: Andreas Eko Prasetyo
Tribun Batam
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM -  Setelah sebelumnya heboh di media sosial soal aksi dugaan pelecehan seksual di bidang pendidikan yang dilakukan seorang mahasiswa.

Kembali viral kasus serupa berkedok pendidikan pula.

Sebelumnya kasus Gilang Fetish, mahasiswa di perguruan tinggi Surabaya, nah kali ini menyangkut seorang dosen.

Adiknya Dirampok, Acha Septriasa Resah dan Singgung Jaminan Menyimpan Barang di Rumah

Sinopsis Film Nerve Tayang di Trans TV, Terjebak dalam Game Bernama Nerve

Cara Mudah Mengetahui 8 Tanda Kolestrol Tinggi pada Tubuh, Mulai dari Mudah Lelah dan Nyeri di Dada

Dosen ini bernama Bambang Arianto. Bambang, diketahui adalah seorang dosen tidak tetap di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta.

Namun, belakangan, dari informasi yang beredar, ia berhentikan setelah banyaknya laporan tentang dugaan pelecehan seksual yang dilakukan dia kepada banyak perempuan.

Mencuatnya nama Bambang Arianto tak lepas dari viralnya kasus Gilang Bungkus Jarik, yang melecehakan para korbannya dengan dalih penelitian.

Akun facebook Laeliya Almuhsin yang pertama kali membuka kasus ini.

Laeliya Almuhsin menceritakan, ia sempat punya pengalaman buruk mengarah kepada aksi pelecehan seksual.

Hadi Pranoto Klaim Temukan Obat Covid, Sebut Bukan Dokter, Darimana Asal Gelar Profesor? Ini Katanya

Wakil Bupati Sarolangun Sapa Tribunners, Ini Pesan yang Disampaikan

Wakil Bupati Sarolangun Sapa Tribunners, Ini Pesan yang Disampaikan

 

tribunnews
Tangkapan layar pengakuan korban Bambang Irianto. (facebook)

"Sedang viral berita fetish bungkus kain jarik. Seorang mahasiswa PTN yang mengaku sedang riset bungkus membungkus yang kemudian terindikasi fetish. Dia mendapatkan kepuasan seksual menyaksikan orang dibungkus jarik menyerupai pocong. Dan, banyak korbannya," tulis Laeliya Almuhsin di awal penjelasannya, dikutip Wartakotalive.com, Senin (3/8/2020).

Duh, Ini mengingatkan saya pada seorang kenalan di Facebook yang mengaku sedang riset sensitif. Dia alumni sebuah PTN dan dosen di sebuah universitas swasta Islam. Saya tidak pernah jumpa langsung, tetapi karena mutual friends cukup banyak, saya terima pertemanan di Facebook.

Dia hubungi saya dengan alasan katanya saya dianggap berpikiran terbuka dan tidak akan kaget soal penelitiannya. Dia awalnya hubungi via message FB untuk minta nomer HP saya dan akan menjelaskan soal risetnya.

Saya berkhusnudhon, jadi saya kasih nomor HP saya. Saya pikir awalnya yang dimaksud riset sensitif itu terkait perkara intoleransi atau radikalisme gitu. Soalnya dia ngajar di institusi Islam gitu. Ternyata tralala...

Dia bilang pernah baca status saya terkait riset PSK anak. Dia ingin tahu. Memang betul saya pernah riset tentang para korban PSK anak atas kerjasama dengan sebuah lembaga internasional. Saya jelaskan bahwa riset itu banyak sekali etika yang harus dipenuhi.

Ambil data tidak boleh sendiri, ada pendamping aktivis yang ditunjuk. Dilarang menghubungi langsung korban meskipun korban punya HP. Harus atas izin orangtua atau wali korban saat wawancara. Tidak boleh memeluk atau menyentuh fisik jika korban menangis atau bersedih saat wawancara. Dan, banyak aturan lainnya.

Saya ceritakan padanya sebatas etika dan aturan pengambilan data. Lalu, dia cerita bahwa dia akan riset sensitif macam itu, tepatnya tentang gaya hidup swinger di kalangan kelas sosial menengah ke atas. Swinger? Yup. Tukar pasangan seks, khusus pasangan suami istri katanya.

Hm...Ada gitu ya riset begitu di Indonesia? Gak begitu kaget sih, saya pikir itu bagian riset sosial atau psikologi.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved