Femallenials

Tergerak Membantu Pendidikan Anak Jalanan

DI Kota Jambi sering kita melihat anak-anak yang menjadi pengamen, pemulung, hingga penjual tisu di lampu merah.

Penulis: Nurlailis | Editor: Fifi Suryani
Tribunjambi/Aldino
Jihan Nabila Ketua Komunitas Bara Api. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - DI Kota Jambi sering kita melihat anak-anak yang menjadi pengamen, pemulung, hingga penjual tisu di lampu merah.

Jumlahnya memang tidak sebanyak di kota besar seperti Jakarta namun keberadaan mereka cukup sering terlihat. Kemudian berpikir apakah mereka tidak sekolah?

Alasan ini lah yang membuat Jihan Nabila tergerak untuk mengikuti komunitas sosial. Ia merasa perlu untuk membantu mereka di bidang pendidikan.

“Saya pernah bertemu anak jalanan, dia bilang mereka sekolah tapi sambil jadi pemulung. Mereka udah kelas 4 SD tapi belum bisa lancar membaca. Akhirnya saya mencari komunitas yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan itulah saya menemukan komunitas Bara Api,” ceritanya.

Bara Api merupakan singkatan dari Bersama Rangkul Anak Bermimpi, merupakan komunitas sosial pendidikan untuk anak-anak marginal dan jalanan di Kota Jambi. Komunitas ini telah terbentuk sejak 2013.

Jihan sendiri masuk komunitas tersebut pada 2017, saat dirinya masih kuliah semester 3.

Sudah tiga tahun bersama komunitas Bara Api Jihan mengaku sangat bersyukur karena bisa tergabung dalam komunitas yang bermanfaat bagi anak-anak jalanan dan marginal di Jambi.

Sejak kecil dirinya selalu mendapatkan pendidikan yang layak, tidak pernah merasakan sekolah sambil bekerja, sehingga melalui komunitas Bara Api ini membuatnya bersyukur.

“Masuk komunitas ini juga melatih tanggung jawab. Menjadi relawan dan tidak dibayar, namun bagaimana kita tetap komitmen untuk memberikan pembinaan kepada anak-anak. Kalau ga ketemu anak-anak itu rasanya ada yang kurang,” ujarnya.

Sudah selama tiga tahun ia menjadi bagian dari Bara Api, ia tidak menyangka pada November 2019 terpilih sebagai ketua.

Menurutnya ada yang lebih layak untuk menjadi ketua namun ia yang dipercaya untuk memimpin komunitas ini kedepannya.

“Secara background saya bagian lapangan, tidak pernah jadi ketua di organisasi apapun. Bahkan di kampus juga tidak ikut organisasi. Kemudian dikasih amanat untuk jadi ketua ya aku harus mengemban tanggung jawab ini,” ungkapnya.

Saat ini kegiatan komuntias bara api tengah terhenti karena pandemi Covid-19 dan ia berharap bisa segera membina anak-anak kembali.

Tak Ternilai dengan Uang

TERGABUNG dalam komunitas sosial memiliki banyak manfaat diantaranya belajar hal baru, mengikis rasa egoisme diri, meningkatkan empati, meningkatkan kapasitas diri, serta menimbulkan efek candu. Jika kita sudah sekali terjun dalam kegiatan sosial maka akan ada keinginan untuk selalu ikut kegiatan serupa.

Ada banyak anak muda yang tergabung di komunitas sosial dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan, keagamaan dan lainnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved