Apakah Sebenarnya Hagia Sophia? Bangunan yang akan Dijadikan Masjid di Turki
Sebelumnya, ia dikenal diam ketika publik mulai berdebat soal pengalihan Hagia Sophia menjadi masjid, bukan museum.
"Keputusan ini adalah masalah nasional. Pemain internasional tidak boleh terlibat," kata Yilmaz, yang juga mantan anggota oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP) Turki, yang didirikan sebagai partai pro-sekuler oleh Ataturk.

Lebih lanjut, Erdogan dilaporkan telah menginstruksikan dewan penasihatnya untuk mengadakan doa pertama di Hagia Sophia pada 15 Juli untuk memperingati peringatan empat tahun tahun 2016 dari upaya kudeta yang gagal terhadap pemerintahnya sendiri.
Sementara bagi Hamdi Arslan, seorang akademisi Turki dan pendukung lama masalah ini, Hagia Sophia memiliki "makna religius dan simbolis," katanya kepada Al Jazeera, sambil mengenang kembali saat-saat ia berdemonstrasi bersama Erdogan di pintu gerbang pada 1970-an.
"Selama 50 tahun, saya sudah menunggu belenggu di sekitar Hagia Sophia untuk dihapus dan identitas aslinya sebagai masjid dipulihkan. Kami tidak akan menyerah pada itu," katanya.
Menurut Galip Dalay, seorang spesialis Tukey dan rekan di Robert Bosch Academy, langkah potensial itu tidak kontroversial di dalam negeri, tetapi lebih pada panggung internasional.
"Kontroversi itu tidak ada di dalam Turki, tetapi antara Ankara dan Uni Eropa, Yunani atau bahkan AS. Tidak ada partai politik yang menentang gagasan untuk membuka Hagia Sophia sebagai masjid," kata Galip.
"Itu karena sebagian besar pihak mendukung langkah ini atau mereka tidak ingin memberi Erdogan alat lain untuk mempolarisasi masyarakat karena mereka tahu mayoritas orang Turki mendukungnya."
Sebuah jajak pendapat yang diterbitkan bulan lalu menemukan 73 persen orang Turki mendukung konversi Hagia Sophia menjadi masjid.
Apakah sebenarnya Hagia Sophia sebenarnya?
Hagia Sophia atau Aya Sofya merupakan sebuah bangunan bekas basilika, masjid, dan sekarang museum, di Istanbul, Republik Turki.
Melansir wikipedia, dari masa pembangunannya pada tahun 537 M sampai 1453 M, bangunan ini merupakan katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel, kecuali pada tahun 1204 sampai 1261, ketika tempat ini diubah oleh Pasukan Salib Keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kekuasaan Kekaisaran Latin Konstantinopel.
Bangunan ini menjadi masjid mulai 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Kesultanan Utsmani. Kemudian bangunan ini disekulerkan dan dibuka sebagai museum pada 1 Februari 1935 oleh Republik Turki.
Terkenal akan kubah besarnya, Hagia Sophia dipandang sebagai lambang arsitektur Bizantium dan dikatakan "telah mengubah sejarah arsitektur."
Bangunan ini tetap menjadi katedral terbesar di dunia selama hampir seribu tahun sampai Katedral Sevilla diselesaikan pada tahun 1520.
Bangunan yang sekarang ini awalnya dibangun sebagai sebuah gereja antara tahun 532-537 atas perintah Kaisar Rowami Timur Yustinianus I dan merupakan Gereja Kebijaksanaan Suci ketiga yang dibangun di tanah yang sama, dua bangunan sebelumnya telah hancur karena kerusuhan.
Bangunan ini didesain oleh ahli ukur Yunani, Isidore dari Miletus dan Anthemius dari Tralles.