Jumat, 17 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Ternyata Batu Bata Tembok Besar China Pernah Dicuri Warga Miskin untuk Bangun Rumah

Secara keseluruhan ada 1.961 kilometer (km) Tembok Besar China yang hilang, dan 1.185 km lainnya berada dalam kondisi buruk.

Editor: Suci Rahayu PK
Shutterstock
Ilustrasi Tembok Besar China 

TRIBUNJAMBI.COM, BEIJING - Pada 29 Juni 2015 media China Global Times melaporkan, sekitar 30 persen batu bata di Tembok Besar China hilang dicuri.

Hilangnya bata-bata itu terjadi karena berbagai alasan, seperti dicuri penduduk setempat untuk membangun rumah.

Secara keseluruhan ada 1.961 kilometer (km) Tembok Besar China yang hilang, dan 1.185 km lainnya berada dalam kondisi buruk.

Data tersebut diungkap oleh statistik Administrasi Negara untuk Warisan Budaya.

Tembok Besar China
Tembok Besar China (ist)

Laporan tersebut mengungkapkan, kerusakan akibat ulah manusia ini menjadi ancaman besar, karena beberapa warga miskin setempat mencuri batu bata Tembok Besar China untuk membangun rumah mereka atau dijual.

Situs bersejarah ini membentang sepanjang 8.000 km dan dibangun dalam dinasti yang berbeda-beda.

Lebih dari 6.000 km berada di wilayah utara China.

Berbalut Piyama, Potret Cantik Tata Cahyani Mantan Istri Tommy Soeharto dalam Foto Hitam Putih

Ikut Komentar saat Sean Ucapkan Ulang Tahun untuk Ahok, Gading Marten Malah Ditanya Soal Nikah

"Warga yang tinggal di sepanjang Tembok Besar biasanya mencuri bata untuk membangun rumah, dan beberapa bagian Tembok Besar dihancurkan dalam perluasan kota atau pembangunan jalan," urai Cheng Dalin pakar komite penelitian Tembok Besar China, dikutip dari Global Times Minggu (29/6/2015).

Kemudian Beijing Times melaporkan, maraknya tren wisatawan menjelajahi bagian Tembok Besar China yang tak terlindungi membuat kapasitas membeludak di sana.

Akibatnya, beberapa bagian tersebut rusak parah.

Di sisi lain, beberapa tempat mengembangkan sendiri destinasi wisatanya, atau bahkan mengubah sebagian tampilan Tembok Besar China menjadi sesuatu yang tak bernilai sejarah, kata Cheng.

"Kerusakan alami seperti petir, gempa bumi, atau banjir, tetap menjadi ancaman lain bagi Tembok Besar."

"Pemerintah harus mengambil langkah-langkah berbeda dengan mempertimbangkan berbagai kondisi iklim dan geografis," ujar He Xinyu peneliti spesialis perlindungan Tembok Besar China di Museum Ningxia, kepada Global Times.

"Survei-survei tentang keadaan Tembok Besar yang dibangun pada Dinasti Ming (1368-1644) menunjukkan bahwa ada beberapa masalah untuk melindungi Tembok Besar secara teori."

"Tetapi kenyataannya, harus ada otoritas lokal untuk memperkuat penegakan hukum dan peraturan terkait," lanjut Cheng.

Benarkah AHY Salah Langkah saat Putuskan Keluar dari TNI dan Bepolitik? Ini Kata Annisa Pohan

Bakal Pensiun, Mayjen TNI Rochadi Jadi Sosok Komandan Koopssus Pertama, Pimpin Satuan Elite 3 Matra

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved