Virus Corona
UPDATE Virus Corona 8 Juni di Dunia, Iran Alami Gelombang Kedua, Begini Kondisinya
Melansir data dari laman Worldometers, Senin (8/6/2020), ada 7.080.534 kasus virus corona yang telah dikonfirmasi di dunia.
Sebelumnya, pemerintah terlihat telah dapat mengontrol penyebaran virus ini satu bulan yang lalu, tetapi gelombang kedua virus mungkin tengah terjadi.
Mengutip The Guardian, 7 Juni 2020, terlepas dari tingkat infeksi yang masih meningkat, otoritas secara progresif telah mencabut kontrol atas toko, masjid, sekolah, kantor, dan perjalanan.
Perbatasan dengan Turki juga telah dibuka untuk lalu lintas pengangkutan pada Kamis (4/6/2020).
"Alasan utama dari peningkatan jumlah ini adalah kami mulai mengidentifikasi orang-orang dengan sedikit atau tanpa gejala sama sekali" kata Kepala Epidemiolog Kementerian Kesehatan Mohammad-Mehdi Goya.
Selama tiga hari berturut-turut, Iran mencatatkan penambahan kasus harian yang tinggi.
Selama tiga hari itu, angka kasus harian dilaporkan lebih dari 3.000 kasus. Bahkan pada 4 Juni rekor kasus harian tertinggi yaitu 3.574 kasus positif.
Melihat grafik pada worldometers, Iran sedang menghadapi serangan gelombang kedua virus corona.
Melonjak sejak Mei
Kasus infeksi di Iran sempat mengalami penurunan sejak 1 April hingga 2 Mei. Namun sejak awal Mei itu kasus infeksi kembali melonjak.
Total kasus inveksi virus corona yang dilaporkan di Iran sebanyak 167.156 kasus. Jumlah korban meninggal 8.134 kasus dan yang sembuh 129.741 orang.
Kembali melonjaknya kasus di Iran menurut para ahli dipengaruhi oleh kembali melonggarnya jarak sosial di negara itu.
Warga mengabaikan larangan untuk pergi ke Iran utara yang dinilai sebagai zona merah untuk liburan dan merayakan Idul Fitri.
Dikutip dari BBC, sejak awal April, pemerintah Iran juga telah berusaha membuka kembali bisnis, sekolah, dan situs-situs keagamaan, dan menghidupkan kembali ekonomi.
Akhir pekan lalu, itu memungkinkan semua pegawai negeri untuk kembali bekerja dan masjid-masjid kembali melakukan sholat setiap hari.
Namun, langkah tersebut telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat kesehatan.