sains

Mengapa Badut yang Seharusnya Lucu Tak Bagus Diletakkan Di Bangsal Anak?

Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa sedikit sekali anak-anak suka badut

Editor: rida
Nationalgeographic.Grid.Id
ilustrasi badut 

TRIBUNJAMBI.COM - Badut yang awalnya bertujuan untuk melucu, entah mengapa selalu jadi tokoh film horor di holywood. 

Hollywood telah lama mengeksploitasi ambivalensi kita terhadap badut.

Tokoh badut jahat ciptaan penulis Stephen King, Pennywise, lalu muncul dalam film kedua “It Chapter Two.” Sementara itu, musuh bebuyutan Batman, Joker, juga sedang tampil dalam film yang diperankan oleh Joaquin Phoenix.

Bagaimana sebuah tokoh yang sering tampil dalam acara ulang tahun anak-anak bisa menjadi simbol sesuatu yang demikian jahat?

Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa sedikit sekali anak-anak suka badut. Penelitian itu menyimpulkan bahwa menaruh gambar badut di bangsal anak di rumah sakit justru tidak membawa hasil baik. Tidak heran, banyak orang yang benci Ronald McDonald.

Namun, Frank T. McAndrew, selaku profesor psikologi , tidak ingin sekadar bilang badut itu menakutkan, tapi saya juga tertarik pada alasan di balik itu. Pada 2006, saya menerbitkan penelitian berjudul “Sifat-sifat Kengerian” dengan salah satu mahasiswa saya, Sara Koehnke, di jurnal New Ideas in Psychology.

Penelitian ini tidak secara spesifik meneliti sifat menakutkan dari badut, tapi temuan kami dapat membantu menjelaskan penyebabnya.

Barisan badut

Tokoh serupa badut sudah hadir selama ribuan tahun. Dalam sejarah, tokoh pelawak dan badut menjadi wahana menyampaikan satir dan memperolok orang-orang yang berkuasa.

Tokoh-tokoh ini menjadi saluran yang aman untuk melampiaskan emosi rakyat dan memiliki kebebasan berekspresi yang unik—selama unsur hiburannya lebih besar dari pada kritikan pada penguasa, posisi mereka pun aman.

Pelawak dan tokoh lain untuk mempermalukan orang sudah ada sejak era Mesir kuno. Dalam Bahasa Inggris, kata “clown” pertama muncul sekitar 1500-an dan digunakan oleh Shakespeare untuk menggambarkan beberapa tokoh bodoh dalam sandiwaranya. Tokoh badut sirkus yang kini umum—wajah dicat, rambut palsu, dan baju kedodoran—muncul sekitar abad ke-19 dan tidak banyak berubah dalam 150 tahun terakhir.

Penokohan badut jahat juga bukan fenomena baru. Pada 2016, penulis Benjamin Radford menerbitkan “Bad Clowns” dan melacak sejarah evolusi badut menjadi makhluk yang mengerikan dan tak terduga.

Ilustrasi badut.
Thinkstock
Ilustrasi badut.
Salah satu bagian lukisan badut karya pembunuh berantai John Wayne Gacy.The Orchid Club/flickr, CC BYPersona badut mengerikan muncul setelah pembunuh berantai John Wayne Gacy ditangkap di

Amerika Serikat. Pada 1970-an, John muncul dalam pesta ulang tahun anak-anak sebagai “Pogo Si Badut” dan sering melukis badut. Ketika polisi menemukan bahwa dia telah membunuh setidaknya 33 orang dan mengubur mayat di rumahnya di Chicago, kaitan antara badut dan perilaku psikopat berbahaya pun tertanam kuat di bawah sadar masyarakat Amerika.

Kemudian, selama beberapa bulan pada 2016, badut-badut seram meneror Amerika.

Laporan muncul di setidaknya 10 negara bagian. Di Florida, badut mengerikan tampak mengendap-ngendap di pinggir jalan. Di South Carolina, badut-badut dilaporkan berusaha memancing perempuan dan anak-anak ke dalam hutan.

Tidak jelas mana dari laporan ini yang benar-benar serius dan mana yang hanya main-main. Yang jelas, para pelaku memanfaatkan rasa takut bawaan yang dialami anak-anak—dan beberapa orang dewasa.

Sifat kengerian

Halaman
12
Sumber: Grid.ID
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved