Berita Internasional
Kim Jong-Un Disebut Lagi Jatuh Sakit, Sang Diktator Punya Kelainan Otak dan Obesitas, Benarkah?
Kim Jong-Un Disebut Lagi Jatuh Sakit, Sang Diktator Punya Kelainan Otak dan Obesitas, Benarkah?
TRIBUNJAMBI.COM - Siapa yang tidak tahu dengan cara Kim Jong Un memimpin negaranya. Dijuluki sebagai pemimpin diktator, nama pemimpin Korea Utara itu kini jadi sorotan.
Lagi-lagi sebuah kabar soal pimpinan Korea Utara ( Korut )Kim Jong-Un yang tengah jatuh sakit berhembus, tentu ini mengejutkan dunia.
Kondisi Kim Jong-Un saat ini diungkapkan oleh berbagai pihak du dunia, terutama dari Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Dilansir dari kompas.com pada Selasa (21/4/2020), AS menyatakan memantau laporan intelijen yang menyebut kondisi Kim Jong-Un kritis setelah operasi kardiovaskular.
Kim Jong-Un menuai perhatian setelah absen dalam perayaan ulang tahun mendiang kakeknya sekaligus pendiri Korut, Kim Il Sung, pada 15 April.

Ketidakhadiran Kim Jong Un memunculkan pertanyaan mengenai kondisi kesehatannya, di mana kali terakhir dia terlihat adalah saat pertemuan para pejabat negara.
Kepada CNN pada Senin (20/4/2020), sumber internal AS menuturkan kondisi kesehatan Kim kredibel.
Tetapi sejauh apa parahnya tidak diketahui.
• Update Virus Corona Selasa 21 April 2020, 95 Pasien Berhasil Sembuh, 375 Kasus Baru!
• Baru Saja Bebas Dari Penjara, Mantan Narapidana di Padang Nekat Mencuri Ponsel, Begini Endingnya!
• Cegah Karhutla, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi Bakal Pasang Kemera CCTV di Areal Rawan Karhutla
Daily NK, harian berbasis di Korea Selatan yang fokus kepada Korea Utara melaporkan, Kim menjalani prosedur operasi kardiovaskular pada 12 April.
Berdasarkan pemberitaan harian itu, Kim harus menjalani prosedur tersebut karena "obesitas, merokok, dan bekerja secara berlebihan".
Sang pemimpin tertinggi saat ini dilaporkan menjalani perawatan di sebuah vila yang berlokasi di kawasan Hyangsan County.
Setelah dinyatakan kritis, kondisi Kim disebut mulai membaik dengan sebagian dokter yang merawatnya pulang ke Pyongyang pada 19 April.
Hanya sebagian kecil tim medis yang masih ditempatkan di Hyangsan untuk memantau perkembangan kesehatan pemimpin yang berkuasa sejak 2011 itu.

Saat dikonfirmasi, baik Dewan Keamanan Nasional maupun Kantor Direktur Intelijen Nasional menolak untuk memberikan tanggapan.
Begitu juga dengan Badan intelijen Pusat (CIA), Kementerian Luar Negeri AS, maupun perwakilan dari pemerintah Korea Selatan.