Jumat, 15 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

"Virus China" Picu Perdebatan Trump dan Wartawan, Anak Presiden Brasil Serang China

Konferensi pers Presiden Amerika Serikat Presiden Donald Trump dan para wartawan memancing perdebatan, Kamis (19/3)

Tayang:
Editor: Nani Rachmaini
JIM WATSON / AFP
Dikelilingi oleh anggota Satuan Tugas Virus Corona Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump berbicara pada konferensi pers tentang virus corona atau COVID-19, di Rose Garden Gedung Putih di Washington, DC, 13 Maret 2020. Trump menyatakan virus corona sebagai darurat nasional. 

Virus China Picu Perdebatan Trump dan Wartawan, Anak Presiden Brasil Serang China

TRIBUNJAMBI.COM, WASHINGTON -  Konferensi pers Presiden Amerika Serikat Presiden Donald Trump dan para wartawan memancing perdebatan, Kamis (19/3) waktu setempat. Presiden Donald Trump berulang kali mengatakan, Covid-19 alias virus corona dengan istilah "Chinese virus" atau virus China. Wartawan yang hadir kemudian mempertanyakan mempertanyakan terminologi tersebut karena dianggap memicu ketegangan rasial di AS.

Dilansir dari video yang diunggah Reuters, CNA, dan CGTN America, Presiden Trump kerap menampik istilah virus China sama sekali tidak menyentuh wilayah rasial.   Namun pernyataan Trump terus dipertanyakan tentang penggunaan terminologi virus China dan bukan menggunakan Covid-19 seperti yang dianjurkan WHO. 

Seorang wartawan mengatakan, ada puluhan laporan terkait insiden bias terhadap orang Amerika keturunan China di AS. Wartawan itu juga memaparkan bahwa mantan asisten Trump, Sekretaris Azar, mengatakan untuk tidak menggunakan istilah virus China. Menurut Azar, etnisitas tidak menyebabkan virus.

Trump kemudian menjawab dengan yakin bahwa istilah virus China yang berulang kali dia lontarkan tidak rasial sama sekali.

"Virusnya berasal dari China. Tidak, tidak rasial sama sekali," ujar Trump. Dia mengatakan istilah virus China karena dia ingin akurat. Sementara itu, wartawan lain juga mempertanyakan perihal "apa yang mungkin dirasakan" oleh orang Amerika keturunan China di AS.

Wartawan itu menanyakan juga apakah Trump sendiri nyaman dengan istilah atau terminologi virus China. Trump merasa dirinya memiliki rasa cinta kepada warganya di AS. Dia bahkan mengatakan, "Seperti yang Anda tahu, China mencoba mengatakan pada suatu kesempatan, mungkin sekarang mereka telah menghentikannya bahwa virus itu disebabkan oleh tentara AS. Itu tidak mungkin terjadi. Itu tidak akan terjadi selama saya yang jadi presidennya. Virus itu berasal dari China," tegasnya.

Selain itu, Trump juga mengatakan, tidak ada seorang pun yang salah atas wabah ini. Dia juga melanjutkan dengan, "Mungkin beberapa orang akan berkata ini salahnya seseorang, tapi tidak ada yang salah sebenarnya."

Ucapan tersebut dianggap CGTN America sebagai pernyataan yang memuat tuduhan untuk China. Sejauh ini, pemerintahan Trump merasa bahwa kinerja mereka sudah sangat baik. AS telah menutup perbatasan, "Orang-orang dari China banyak memasuki AS dari sana, saya menganggapnya serius," jelas Trump yang lagi-lagi tampak menyalahkan China.

Trump juga mengatakan, seandainya China memberikan informasi terkait Covid-19 ini lebih dulu, tentu akan sangat menolong AS. Ketika ditanya apakah Trump merasa China yang mengakibatkan wabah ini ke AS, dia menjawab tidak.

Trump hanya berharap Pemerintah China seharusnya memberikan "kabar lebih dulu" (tidak menutup-nutupi pemberitaan). Dia juga baru mendengar adanya laporan bahwa salah satu pejabat Gedung Putih mengatakan virus corona dengan sebutan "Kung Flu".

Seorang wartawan melaporkan, terminologi Kung Flu sama dengan virus China yang akan membuat warga Amerika keturunan China berisiko mendapatkan stigmatisasi dan penargetan rasial.

Namun, Trump tetap menampik bahwa itu tidak akan terjadi, "Tidak, tidak sama sekali. Saya yakin mereka (warga AS) akan setuju 100 persen dengan istilah itu. Virusnya memang datang dari China. Tidak bisa dimungkiri lagi."

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada beberapa waktu lalu telah memilih nama resmi Covid-19 untuk menghindari penamaan spesifik terhadap lokasi geografi, jenis hewan, atau kelompok orang tertentu. Sebab, rekomendasi internasional mengatakan, penamaan seperti itu merupakan bentuk stigmatisasi.

Serang China

Pernyataan serupa juga datang dari Brasil. Putra dari Presiden Jair Bolsonaro ikut mengiyakan pendapat Trump yang mengkritik Pemerintah China tentang virus corona. Dia bahkan meminta pihak Beijing untuk menyampaikan permohonan maaf.

Eduardo Bolsonaro (35), seorang pejabat UU hukum Brasil, menuduh China pada Selasa lalu telah menyembunyikan informasi terkait penyebaran virus Covid-19. Negara China, menurut Bolsonaro, sama saja dengan kediktatoran Pemerintah Soviet saat bencana nuklir Chernobyl pada 1986.

"Sekali lagi, negara diktator lebih memilih untuk menyembunyikan sesuatu yang serius untuk menghindari kritik, padahal saat itu bisa menyelamatkan banyak nyawa," kata anak ketiga Presiden Bolsonaro itu pada unggahan Twitter miliknya. Dia menambahkan, China bersalah. Kebebasan (keterbukaan informasi) adalah solusinya.

Pernyataan Eduardo Bolosonaro itu memancing rekais dari Duta Besar China untuk Brasil, Yang Wanming. Ia meminta putra presiden itu untuk meminta maaf kepada rakyat China dalam balasan Twitter yang menggunakan bahasa Mandarin dan Portugis.

Juru bicara parlemen rendah Brasil, Rodrigo Maia, kemudian tergesa-gesa meminta maaf atas nama putra presiden tersebut. Dia mengatakan, Eduardo Bolsonaro tidak memikirkan terlebih dahulu kata-kata yang dikeluarkan.

Sementara itu, Kedutaan Besar China di Brasil menuduh Bolsonaro membawa permusuhan Trump terhadap Beijing. Kedutaan China menulis dalam kicauannya di Twitter, "Kami akrab dengan kalimat Anda yang tidak bertanggung jawab. Anda meniru teman-teman (AS) Anda yang tersayang. Sekembalinya Anda dari Miami, sayang sekali Anda terserang 'virus' mental yang telah menginfeksi jalinan persahabatan dengan rakyat kami."

Bolsonaro junior adalah bagian dari delegasi yang menemani ayahnya ke Miami pada 7-10 Maret lalu dalam kunjungan ke AS. Kunjungan itu termasuk makan malam dengan Trump dan berulang kali menyebut virus corona sebagai " virus China". Padahal, China adalah mitra dagang utama Brasil, di mana negara itu mengekspor biji besi, daging sapi, dan kedelai.

Gelontorkan Bantuan

China sendiri dalam beberapa pekan terakhir dilaporkan telah mendonasikan alat pemeriksaan virus corona ke Kamboja, menerbangkan bantuan ventilator, masker, dan petugas medis ke Italia dan Prancis. Tak hanya itu, China juga menjanjikan bantuan serupa untuk Filipina, Spanyol, dan negara lain. Sementara untuk Iran dan Irak, Negeri Tirai Bambu berencana mengirim  tenaga medis.

Kini China memposisikan diri sebagai pemimpin dan donatur dalam sektor kesehatan masyarakat di tengah pandemi virus corona. Media pemerintah pun mulai melaporkan berbagai dukungan China untuk negara-negara lain yang menghadapi wabah tersebut.

"Sekarang kita melihat pejabat China dan media pemerintah mengklaim bahwa China memberi dunia waktu untuk mempersiapkan pandemi ini," kata seorang peneliti di Loqy Institute Sydney dan mantan diplomat Australia, Natasha Kassam seperti dikutip The Guardian.

Selain dukungan dari pemerintah, miliarder China, Jack Ma juga turut serta memberikan bantuan untuk menangani virus corona ke sejumlah negara dunia.

Presiden China Xi Jinping mengatakan, siap bekerja sama dan membantu negara-negara di dunia yang tengah 'berperang' melawan penyebaran virus corona.  Xi dilaporkan telah menyampaikan kesiapan China itu lewat percakapan telepon dengan Presiden Rusia Valdimir Putin.

Namun, para ahli berpendapat bahwa dukungan yang diberikan China dijadikan sebagai alat propaganda untuk memperluas dan memperkuat pengaruhnya di seluruh dunia.

"Jelas bahwa Beijing melihat bantuannya sebagai alat propaganda," kata Noah Barkin dari Institusi German Marshall Fund.

China banyak membantu negara-negara terdampak di Eropa seperti Italia. Sementara itu, rival China, Amerika Serikat justru menutup perbatasannya demi menekan penyebaran virus.

"Sementara Trump memberi pukulan kepada Eropa dengan larangan masuk. China menjadi teman yang murah hati dan tidak mementingkan diri sendiri," tambah Barkin.

Ketika negara-negara di dunia tengah berperang melawan pandemi virus corona (Covid-19), China justru telah lebih dulu melewati masa kritis. (cnn.com/kompas/com/tribunnetwork/cep)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved