"Virus China" Picu Perdebatan Trump dan Wartawan, Anak Presiden Brasil Serang China
Konferensi pers Presiden Amerika Serikat Presiden Donald Trump dan para wartawan memancing perdebatan, Kamis (19/3)
Pernyataan serupa juga datang dari Brasil. Putra dari Presiden Jair Bolsonaro ikut mengiyakan pendapat Trump yang mengkritik Pemerintah China tentang virus corona. Dia bahkan meminta pihak Beijing untuk menyampaikan permohonan maaf.
Eduardo Bolsonaro (35), seorang pejabat UU hukum Brasil, menuduh China pada Selasa lalu telah menyembunyikan informasi terkait penyebaran virus Covid-19. Negara China, menurut Bolsonaro, sama saja dengan kediktatoran Pemerintah Soviet saat bencana nuklir Chernobyl pada 1986.
"Sekali lagi, negara diktator lebih memilih untuk menyembunyikan sesuatu yang serius untuk menghindari kritik, padahal saat itu bisa menyelamatkan banyak nyawa," kata anak ketiga Presiden Bolsonaro itu pada unggahan Twitter miliknya. Dia menambahkan, China bersalah. Kebebasan (keterbukaan informasi) adalah solusinya.
Pernyataan Eduardo Bolosonaro itu memancing rekais dari Duta Besar China untuk Brasil, Yang Wanming. Ia meminta putra presiden itu untuk meminta maaf kepada rakyat China dalam balasan Twitter yang menggunakan bahasa Mandarin dan Portugis.
Juru bicara parlemen rendah Brasil, Rodrigo Maia, kemudian tergesa-gesa meminta maaf atas nama putra presiden tersebut. Dia mengatakan, Eduardo Bolsonaro tidak memikirkan terlebih dahulu kata-kata yang dikeluarkan.
Sementara itu, Kedutaan Besar China di Brasil menuduh Bolsonaro membawa permusuhan Trump terhadap Beijing. Kedutaan China menulis dalam kicauannya di Twitter, "Kami akrab dengan kalimat Anda yang tidak bertanggung jawab. Anda meniru teman-teman (AS) Anda yang tersayang. Sekembalinya Anda dari Miami, sayang sekali Anda terserang 'virus' mental yang telah menginfeksi jalinan persahabatan dengan rakyat kami."
Bolsonaro junior adalah bagian dari delegasi yang menemani ayahnya ke Miami pada 7-10 Maret lalu dalam kunjungan ke AS. Kunjungan itu termasuk makan malam dengan Trump dan berulang kali menyebut virus corona sebagai " virus China". Padahal, China adalah mitra dagang utama Brasil, di mana negara itu mengekspor biji besi, daging sapi, dan kedelai.
Gelontorkan Bantuan
China sendiri dalam beberapa pekan terakhir dilaporkan telah mendonasikan alat pemeriksaan virus corona ke Kamboja, menerbangkan bantuan ventilator, masker, dan petugas medis ke Italia dan Prancis. Tak hanya itu, China juga menjanjikan bantuan serupa untuk Filipina, Spanyol, dan negara lain. Sementara untuk Iran dan Irak, Negeri Tirai Bambu berencana mengirim tenaga medis.
Kini China memposisikan diri sebagai pemimpin dan donatur dalam sektor kesehatan masyarakat di tengah pandemi virus corona. Media pemerintah pun mulai melaporkan berbagai dukungan China untuk negara-negara lain yang menghadapi wabah tersebut.
"Sekarang kita melihat pejabat China dan media pemerintah mengklaim bahwa China memberi dunia waktu untuk mempersiapkan pandemi ini," kata seorang peneliti di Loqy Institute Sydney dan mantan diplomat Australia, Natasha Kassam seperti dikutip The Guardian.
Selain dukungan dari pemerintah, miliarder China, Jack Ma juga turut serta memberikan bantuan untuk menangani virus corona ke sejumlah negara dunia.
Presiden China Xi Jinping mengatakan, siap bekerja sama dan membantu negara-negara di dunia yang tengah 'berperang' melawan penyebaran virus corona. Xi dilaporkan telah menyampaikan kesiapan China itu lewat percakapan telepon dengan Presiden Rusia Valdimir Putin.
Namun, para ahli berpendapat bahwa dukungan yang diberikan China dijadikan sebagai alat propaganda untuk memperluas dan memperkuat pengaruhnya di seluruh dunia.
"Jelas bahwa Beijing melihat bantuannya sebagai alat propaganda," kata Noah Barkin dari Institusi German Marshall Fund.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/14032020_trump.jpg)