Di Tengah Wabah Corona, Penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi Masih Normal
M. Hendra Irawan selaku EGM Bandara Sultan Thaha Jambi mengatakan, jumlah penumpang maupun penerbangan masih terbilang normal di tengah wabah corona.
Penulis: Fitri Amalia | Editor: Teguh Suprayitno
Di Tengah Wabah Corona, Penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi Masih Normal
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - M. Hendra Irawan selaku EGM Bandara Sultan Thaha Jambi mengatakan, jumlah penumpang maupun penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi masih terbilang normal di tengah wabah virus corona.
"Kemungkinan dikarenakan bandara kita kan masih melayani penerbangan domestik, tidak ada penerbangan internasional, jika dibandingkan dengan Bandara Ngurah Rai Bali dan Bandara Soekarno Hatta atau bandara besar lainnya mereka tentunya banyak penerbangan internasional, sehingga ada pengaruh ke penerbangan dan jumlah penumpang," jelasnya.
Irawan juga menyampaikan, hingga 17 Maret 2020, Bandara Sultan Thaha Jambi telah melayani 3.076 penerbangan atau meningkat sebesar 11,36 persen dari jumlah penerbangan pada periode yang sama tahun 2019. Untuk jumlah penumpang yang dilayani sepanjang 2020 adalah sebanyak 292.622 orang atau tumbuh sebesar 2,67 persen dari periode tahun sebelumnya. Sedangkan untuk kargo yang dilayani pada tahun 2020 adalah sebanyak 1.531 ton atau turun sebanyak -12,66 persen dari tahun sebelumnya.
• Cegah Penyebaran Corona, Angkasa Pura II Lakukan Rekayasa Social Distancing di Bandara Sultan Thaha
• Pasien RS Baiturrahim Jambi Lari Berhamburan, Humas RS Justru Bantah Ada Ledakan
• Di Tengah Kekhawatiran Virus Corona, Meghan Markle dan Pangeran Harry Cari Rumah Baru di Amerika
Saat ini hanya maskapai Wings Air yang mengurangi frekuensi penerbangan IW 1234/1235 Route (KNO-DJB-KNO) dengan alasan pertimbangan komersial.
"Memang untuk tanggal 17 Maret sampai dengan 31 Maret 2020, Wings Air telah menyampaikan informasi rencana pengurangan frekuensi penerbangan untuk penerbangan IW 1234/1235 Route (KNO-DJB-KNO), dari sebelumnya setiap hari (daily) menjadi empat kali seminggu, yakni selasa, kamis, sabtu dan minggu, alasan pengurangan memang karena pertimbangan komersial."