Siapa Sebenarnya Bambang Brodjonegoro Calon Pemimpin Ibu Kota Baru, Ternyata Bukan Orang Sembarangan

Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro menjadi satu di antara empat sosok calon Pemimpin Ibu Kota Baru.

Editor: Tommy Kurniawan
Antara Foto/Widodo S. Jusuf
Bambang Brodjonegoro 

TRIBUNJAMBI.COM - Siapa Sebenarnya Bambang Brodjonegoro Calon Pemimpin Ibu Kota Baru, Ternyata Bukan Orang Sembarangan!

Sosok Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro menjadi satu di antara empat sosok calon Pemimpin Ibu Kota Baru.

Nama Bambang Brodjonegoro nantinya akan bersaing dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Azwar Anas, dan Tumiyana memperebutkan Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru.

Dilansir TribunWow.com dari channel YouTube Tribunnews Wiki pada Rabu (4/3/2020), Bambang Brodjonegoro memiliki latar belakang politisi dan akademisi.

Professor bernama lengkap Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro ini lahir di Jakarta 3 Oktober 1966.

6 Negara Sukses Lawan Virus Corona, Bagaimana Dengan Strategi Indonesia Lawan Virus Mematikan Itu?

Kesaksikan Tak Biasa Penggali Kubur Jenazah Suspect Virus Corona di Semarang, Buru-buru Pakai Masker

Unggah Foto Lipatan Perut & Stretch Mark Tara Basro Ajak Wanita Mencintai Tubuh Siapakah Sebenarnya?

Rekor Terpecahkan! Harga Yamaha RX-King Ini Terjual Rp 150 Juta, Begini Kelebihannya

Pada awal kariernya, Bambang merupakan dosen di Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI).

Bambang juga pernah menjadi konsultan di berbagai lembaga dan institusi serta menjabat sebagai Dekan FE UI 2005.

Ia bahkan menjadi satu-satunya Dekan UI yang berusia di bawah 40 tahun.

Bambang pernah menjadi Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI pada 2011.

Sekain itu, dirinya juga pernah menjadi Ketua Jurusan Ekonomi, Fakultas UI 2002-2005

Hingga pernah menjadi Komisionaris Independen PT PLN (2004-2009).

Tak berhenti di sana, Bambang beberapa kali menduduki posisi penting di jajaran kabinet.

Ia pernah menjadi Wakil Menteri Keuangan di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.

Bambang pernah menjadi Menteri Keuangan pada 2014-2016.

Dua tahun kemudian ia menjadi Menteri PPN (Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia) Kepala Pembangunan Nasional pada 2016 hingga 2016.

Pria yang biasa mengenakan kacamata tersebut, juga pernah mendapat beberapa penghargaan Internasional.

Seperti mendapat penghargaan Visiting Fellow, The Indonesia Project-Australian National University (ANU), Canberra, Australia.

Lalu, Eisenhower Fellowships, The Single Region Program - Southeast Asia ISEAS - World Bank Research Fellowship dan beberapa penghargaan lainnya.

Lihat video berikut:

Kritikan Faisal Basri dan Rocky Gerung terkait Ibu Kota Baru

Sebelumnya, pengamat politik Rocky Gerung dan Ekonom Senior, Faisal Basri mengkritik kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal Ibu Kota Baru.

Dikutip TribunWow.com dari channel YouTube BWM Records pada Jumat (7/2/2020), Rocky Gerung menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak konsisten terkait Pemindahan Ibu Kota.

Ia mengkritik rencana Jokowi yang menginginkan Jakarta menjadi pusat bisnis.

Sedangkan, Jakarta masih mengalami banjir dan banjir adalah alasan ibu kota pindah.

"Bahkan berubah lagi pikiran Pak Jokowi itu Ibu Kota harus pindah karena buktinya ini Jakarta banjir," kata Rocky Gerung.

Sehingga, ia menilai banjirlah yang seharusnya diatasi bukan memindah ibu kota.

"Jadi kalau Jakarta mau dijadikan kota bisnis, tetap akan banjir. "

"Mustinya kan diselesaikan banjirnya bukan ibu kota dipindahin," ungkap Rocky Gerung.

Lalu, Faisal Basri menambahkan kritiknya soal Dewan Pengarah Ibu Kota Baru yang terdiri dari tiga tokoh asing.

Tiga tokoh yang dimaksud antara lain, Putra Mahkota Abu Dhabi Mohamed Bin Zayed, Presiden Softbank Masayoshi Son, dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

Menurut Faisal Basri, mengapa Jokowi memih tokoh-tokoh asing.

"Yang menarik lagi sampai ditunjuk Dewan Pengarah, Tony Blair kemudian Princenya Uni Emirat Arab dan ada beberapa orang lainnya."

"Saya enggak tahu, ini mau jadi ibu kota PBB mau pindah ke ibu kota baru, karena Amerika makin enggak suka jadi harus berwawasan internasional," kritik Faisal Basri.

Menurutnya, seharusnya Jokowi memilih orang-orang Indonesia yang mengerti tata kota.

"Saya enggak ngerti, logika saya Dewan Pengarah itu orang yang ngerti tata kota gitu-gitu."

"Bukan yang enggak ngerti tentang Indonesia," kritik Faisal Basri.

Lalu, Rocky Gerung kembali menimpali bahwa Jokowi juga tidak konsisten terkait hal tersebut.

Ia menyinggung statement Jokowi yang pernah mengatakan ibu kota akan dirancang oleh bangsa sendiri.

"Dan lebih dari itu, dulu Jokowi bilang kita musti bikin ibu kota yang tidak dirancang oleh kolonial harus dari bangsa sendiri,"

"Jadi Tony Blair akan dikasih Sultan Blair misalnya, dikasih nama Indonesia," timpal Rocky Gerung.

Lihat videonya mulai menit ke-2:15:

(TribunWow.com/Mariah Gipty)

Sumber: TribunWow.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved