4 Km Sungai Primer Lambur Tertutup Rumput Liar, Air Berlindir dan Bau, Warga Ngeluh Gatal-gatal

Diserang tumbuhan liar sungai primer yang berada di Desa Lambur Satu Kecamatan Muara Sabak Timur mulai berdampak pada kesehatan warga.

4 Km Sungai Primer Lambur Tertutup Rumput Liar, Air Berlindir dan Bau, Warga Ngeluh Gatal-gatal

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Diserang tumbuhan liar sungai primer yang berada di Desa Lambur Satu Kecamatan Muara Sabak Timur mulai berdampak pada kesehatan warga, selain menimbulkan bau tak sedam juga mengakibatkan gatal.

Kondisi aliran sungai primer yang berada di Rt 21 Dusun Blok B Jalur I dan II Desa Lambur Satu Muara Sabak Timur tersebut, semakin dikeluhkan oleh masyarakat sekitar. 

Pasalnya sejak beberapa tahun terakhir, permukaan sungai yang tadinya bersih nyaman digunakan tersebut tidak dapat lagi dinikmati masyarakat. Jangankan untuk mandi untuk sekedar mencuci tangan saja warga sudah enggan.

BREAKING NEWS Ditabrak Fuso, Pikap Angkut Durian Terjun ke Jurang di Bangko

Harga Cabai Naik Lagi, Daftar Harga Sembako Kota Jambi 24 Januari 2020

Tanaman yang dikenal masyarakat dengan sebutan ganggeng tersebut, setidaknya menutupi permukaan sungai lebih kurang sepanjang empat kilometer. Tak ayal dari kejauhan tumbuhan rumput liar tersebut bak semaian bunga yang indah di atas dataran.

Dikatakan, Surajiman (59) satu dari warga sekitar menuturkan, dengan kondisi air sungai yang tertutup tanaman liar seperti ini masyarakat sudah tidak dapat memanfaatkan secara utuh air dari sungai primer tersebut.

"Kalo dulu, warga biasa mandi dan mencuci di pinggiran sungai karena memang dulu airnya bagus dan pasang surut. Kalo sekarang hanya ternak saja yang mandi di sungai itu," ujarnya kepada Tribunjambi.com.

Lebih lanjut dikatakan pula, pada musim kemarau lalu warga terpaksa menggunakan air tersebut untuk mencuci piring dan MCK  arena keterbatasan sumber air.

"Itu kalo kita sedot pakai mesin sanyo, di bak penampungannya akan mengendap lendir dan berbau," jelasnya.

Diakuinya, beberapa bulan lalu masyarakat bersama-sama telah melakukan pembersihan dengan alat seadanya. Meski sudah terlihat sedikit jernih namun hanya hitungan satu hingga dua bulan saja rumput liar tersebut kembali memenuhi permukaan sungai.

"Harapan kita pemerintah langsung turun, dengan melakukan pengerukan menggunakan alat berat. Langsung kebagian akar akarnya," harapnya.  

Sementara itu Bambang (50) mengatakan, kondisi seperti ini sudah terjadi sejak sungai primer Lambur ini tidak lagi dilalui kendaraan air seperti perahu dan pompong. Karena masyarakat lebih memilih jalur darat sebagai penunjang transportasi mereka.

"Jika hama ini tidak segera diatasi dikhawatirkan akan semakin mewabah dan paling parah bisa membuat pendangkalan dan aliran mati," pungkasnya. (usn)

Penulis: Abdullah Usman
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved