Ini Penjelasan Psikolog Nova Rinci Astuti, M. Psi, Tentang Kasus Bunuh Diri
Ini Penjelasan Psikolog Nova Rinci Astuti, M. Psi, Tentang Kasus Bunuh Diri
Penulis: Nurlailis | Editor: Deni Satria Budi
Ini Penjelasan Psikolog Nova Rinci Astuti, M. Psi, Tentang Kasus Bunuh Diri
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sedikit menjelaskan dari sudut pandang psikologis perkembangan seseorang dimana ada beberapa karakteristik remaja atau dewasa awal dengan rentan usia 16-30 tahun masuk dalam fase proses pencarian jati diri atau disebut juga "identitas ego".
Dalam kondisi ini juga remaja mengalami "krisis orisinalitas" yang ditunjukan dalam upaya membedakan diri dari anak-anak maupun orang dewasa.
Dalam fase inilah jiwa dalam keadaan labil, sehingga rentan mengalami depresi. Berdasarkan data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak pada semester awal 2011.
Setidaknya tercatat sebanyak 23 pemuda Indonesia melakukan aksi bunuh diri yang 19 kasus diantaramya dikarenakan putus cinta.
• Ringankan Beban Pikiran, Ini Tanggapan Milenials Jambi Soal Kasus Bunuh Diri
• Divonis Seumur Hidup Kasus Kejahatan Seksual, Psikolog Sebut Reynhard Sinaga Mengarah ke Psikopat
Antisipasi bisa dilakukan berawal dari keluarga terkhusus orangtua. Orangtua yang memiliki anak remaja sebaiknya sudah mulai lebih perhatian dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya.
Hal itu karena ketika seorang anak yang dalam fase pencarian jati diri tidak mendapatkan kenyamanan dari dalam keluarga, kemungkinan besar ia akan mencari kenyamanan itu diluar keluarga.
Tak jarang mencari itu disosok lawan jenisnya, dan apabila dalam kondisi jiwa yang labil sesuatu yang tidak ia harapkan terjadi hal inilah yang membuat dia bisa melakukan perbuatan nekat berujung bunuh diri.
• Sebelum Meninggal, Ade Irawan Sebut Sudah Ditunggu Ria Irawan, Begini Kesedihan Adhi dan Dewi Irawan
• Terungkap 5 Tanda Ini Terlihat Sebelum Pangeran Harry dan Meghan Markle Mundur dari Kerajaan Inggris
Selain itu juga guru dan lingkungan sekitar sudah mulai aware dengan orang-orang yang dianggap terlihat "lemah" secara mental.
Saya rasa anak yang bunuh diri ini pun sebelumnya memiliki tanda-tanda emosional yang tidak stabil seperti curhat/ bercerita di akun sosial miliknya.
Atau cenderung tertutup dari lingkungan sosial dan tugas kitalah secara sadar melakukan pendekatan atau bisa diajak untuk ke psikolog sebagai bentuk pencegahan dini.
Yang perlu ditanamkan adalah kasih sayang dalam keluarga serta orang tua memberikan harapan-harapan positif ke anak sejak dini.
Sehingga rasa mencintai diri sendiri (self love) akan tumbuh dalam jiwa anak dan hal ini menjadi bekal ia dalam mengembangkan diri secara positif tanpa "ketergantungan" dengan orang lain.
Kasus bunuh diri secara live ini bukan kali pertama. Sebelumnya banyak kasus yang serupa dan ini menstimulus ide orang-orang yang dalam kondisi labil melakukan hal yang sama.
Mengingat jaman sekarang didominasi oleh cyber life jadi media untuk menunjukan diri muncul melalui berbagai macam media sosial dalam kasus ini live di Facebook.
Ini Penjelasan Psikolog Nova Rinci Astuti, M. Psi, Tentang Kasus Bunuh Diri (Tribunjambi.com/Nurlailis)