OPINI

Kekhawatiran dan Optimisme Terkait Aduan Konten Negatif Tahun 2019

MELALUI siaran pers pada Rabu, 8 Januari 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) merilis sepanjang tahun 2019

Kekhawatiran dan Optimisme Terkait Aduan Konten Negatif Tahun 2019
IST
Ade Novia Maulana 

MELALUI siaran pers pada Rabu, 8 Januari 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) merilis sepanjang tahun 2019 telah menerima aduan konten yang bermuatan negatif sebanyak 430.000 aduan. Jumlah yang fantastis bagi negara yang sudah mempunyai regulasi --Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE)-- sejak tahun 2005. Aduan konten tersebut diterima oleh Kominfo dari beberapa kanal, yakni; melalui laman aduankonten.id, email aduankonten@kominfo.go.id dan melalui akun twitter @aduankonten.

Dalam rilisnya tersebut, ternyata kategori konten yang paling banyak diadukan oleh masyarakat adalah konten yang terkait dengan pornografi yang berjumlah 244.738 aduan. Lalu dilanjutkan konten fitnah dan konten yang meresahkan masyarakat yang menempati urutan kedua dan ketiga dalam kategori konten negatif yang paling banyak mendapatkan aduan dari masyarakat. Konten penipuan, perjudian, hoaks dan SARA pun tidak kurang dari seratusan laporan aduan yang diterima oleh Kominfo dari masyarakat.

Dari data-data tersebut, sesungguhnya ada banyak aspek yang menarik untuk menjadi pembahasan dan pembelajaran, akan tetapi, banyak pula kekhawatiran yang timbul dari benak kita setelah membaca data-data aduan konten negatif yang disajikan oleh Kominfo. Betapa rentannya anak-anak terpapar konten negatif apabila tanpa pengawasan orang tua bila sudah berada di dunia maya.

Bahkan, sekalipun orang dewasa tidak luput dari dampak konten negatif di dunia maya, hal ini secara gamblang dapat dilihat dari beberapa pemberitaan yang viral terkait aktivitas di dunia maya yang menyebabkan seseorang divonis bersalah oleh pengadilan karena terjerat pelanggaran terhadap UU-ITE.

Acapkali pula terjadi bentrok antara dua kelompok yang disebabkan informasi hoaks dan isu-isu SARA yang beredar di dunia maya. Laporan aduan terhadap konten negatif kategori hoaks dan isu SARA pun jumlahnya mencapai ribuan laporan, bahkan belasan ribu laporan.
Laporan terhadap isu SARA mencapai angka 4889 laporan dan laporan terhadap kategori hoaks berjumlah 15.361 laporan aduan. Bak dua sisi mata uang, di satu sisi kekhawatiran timbul, di lain sisi optimisme muncul.

Mengapa harus optimis? Tentu saja, karena jumlah aduan konten negatif yang berjumlah sangat besar tersebut, diperoleh dari kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Menurut penulis, kolaborasi merupakan strategi yang jitu untuk meminimalisir konten negatif di dunia maya, tidak hanya pemerintah, tetapi seluruh elemen masyarakat pun juga turut aktif melaporkan konten negatif untuk diproses oleh pihak terkait, dalam hal ini Kominfo. Sehingga, ruang atau celah untuk munculnya konten negatif menjadi semakin sempit atau bahkan dapat hilang dari dunia maya.

Selain masing-masing individu yang memiliki kepedulian terhadap aduan konten negatif, adapula komponen masyarakat lainnya yang berupa komunitas yang memiliki kepedulian terhadap pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK).

Pemerintah, dalam hal ini Kominfo, selain menyiapkan kanal-kanal (laman website, email dan twitter) untuk tempat aduan, Kominfo juga pro-aktif melakukan upaya untuk memberantas konten negatif di
dunia maya, seperti melakukan patroli siber dan mengedukasi masyarakat melalui banyak program, salah satu diantaranya adalah Gerakan Literasi Digital Siberkreasi.

Dari upaya-upaya yang dilakukan tersebut dan data-data yang sudah disajikan, memberikan gambaran kepada kita bahwa segala aktivitas kita di dunia maya akan menimbulkan banyak konsekuensi, diantaranya konsekuensi pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, hukum dan lain sebagainya. Walaupun di dunia maya, kita tidak luput dari pantauan banyak pihak, baik dari pemerintah maupun dari masyarakat luas.

Selanjutnya, penulis ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa sejak diterbitkannya pada tahun 2005, sudah banyak perkara yang telah dijatuhkan vonis oleh hakim di pengadilan berdasarkan UU-ITE. Oleh karena itu, marilah kita secara cerdas dan bijak memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan yang positif.

Begitulah hasil potret dan analisa dari penulis terhadap aduan konten negatif sepanjang tahun 2019 oleh Kominfo yang penulis ulas secara sederhana pada kesempatan kali ini, antara kekhawatiran dan optimisme. (*)

Penulis:
Ade Novia Maulana, M.Sc
Lahir di Jambi, 1 November 1988
Dosen di Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Fakultas Sains dan Teknologi Jurusan Sistem Informasi

Editor: suang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved