TRIBUN WIKI Pesona Rumah Tuo Dusun Tanah Periuk Bungo

Selain memiliki wisata alam dan wisata kuliner, Kabupaten Bungo juga punya sejarah.

TRIBUN WIKI Pesona Rumah Tuo Dusun Tanah Periuk Bungo
Tribunjambi/Mareza
Rumah-rumah tua yang ada di Dusun (Desa) Tanah Periuk, Kecamatan Tanah Sepenggal. 

Pesona Rumah Tuo Dusun Tanah Periuk Bungo

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO - Selain memiliki wisata alam dan wisata kuliner, Kabupaten Bungo juga punya sejarah. Satu di antara bukti sejarah yang ada di Kabupaten Bungo adalah rumah-rumah tua yang ada di Dusun (Desa) Tanah Periuk, Kecamatan Tanah Sepenggal.

Jika berkendara dari Kota Muara Bungo, perlu menempuh jarak sekitar 24 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30-45 menit untuk menjangkaunya. Di sebelah kiri Jalan Lintas Sumatra, akan ada gapura selamat datang di Tanah Periuk. Di sanalah salah satu tempat bersejarah kerajaan di Bungo.

Masyarakat setempat menyebutnya 'rumah tuo' yang berarti 'rumah tua'. Konon, nama itu disematkan sebab rumah-rumah itu telah berusia ratusan tahun.

Tips Travelling Bersama Anak, Pilih Tempat Liburan yang Kids Friendly

36 CPNS Angkatan IV Kabupaten Bungo Akhiri Latsar, Ini yang Diinginkan Wabup

Rebut Juara, 7 Kafilah MTQ Bungo Dapat Hadiah Berangkat Umrah

Tidak ada yang tahu pasti berapa usia rumah panggung yang berdiri tidak jauh dari bibir Sungai Batang Tebo itu. Namun, diperkirakan, usianya hampir atau sekitar empat abad.

Pejabat sementara (Pjs) Datuk Rio (kepala desa) Tanah Periuk, Syarifudin menuturkan, hanya ada enam rumah yang masih berdiri tegak. Padahal, dulu ada puluhan rumah panggung yang penuh arsitektur, berdiri di Dusun Tanah Periuk.

Dari keterangannya, rumah-rumah itu dihuni oleh ahli waris pemilik-pemilik terdahulu, dari generasi ke generasi.

"Kepemilikannya pribadi. Rumah itu masih ada yang dihuni," katanya, saat disambangi di kediamannya, Sabtu (28/12/2019).

Setidaknya, dua dari enam rumah itu masih dihuni, dua masih diurus meski tidak lagi dihuni, sedangkan dua lainnya mulai terbengkalai.

Rumah-rumah itu, meski sudah berusia ratusan tahun, belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Hal itu karena seperti disebutkan di atas, bahwa kepemilikan rumah masih pada ahli waris pemilik terdahulu.

Tokoh pemuda setempat, Rahkmatul Arafat juga mengaku tidak tahu pasti kapan rumah-rumah tua itu dibangun. Namun, berdasarkan sejumlah petunjuk, dia memperkirakan rumah itu dibangun sekitar abad ke-17 atau sekitar pertengahan tahun 1600-an.

"Rumah itu diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Dengan perkiraan masa satu generasi 60 tahun, rumah itu kira-kira dihuni enam generasi, sekitar 360 tahun," demikian kata Arafat.

Enam generasi itu diketahui dari keterangan beberapa ahli waris yang menghuni rumah tuo itu.
Selain itu, usia rumah-rumah tua itu juga diperkirakan berdasarkan pesirah atau raja-raja yang memerintah di Kesultanan Jambi.

Hingga Indonesia Merdeka (1945), tercatat ada 20 pesirah yang memerintah di Kesultanan Jambi yang konon dinamakan Kerajaan Tanah Sepenggal.

Penulis: Mareza
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved