Senin, 27 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Kumpulan Puisi Hari Pahlawan 10 November, Membakar Semangat Cinta Tanah Air

Selamat Hari Pahlawan 10 November. Berikut ini deretan puisi untuk mengenang jasa pahlawan yang telah gugur.

Editor: Duanto AS
Wikipedia
Pertempuran 10 November di Surabaya yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan tak lepas dari sosok Bung Tomo. 

TRIBUNJAMBI.COM - Selamat Hari Pahlawan 10 November

Berikut ini deretan puisi untuk mengenang jasa pahlawan.

Puisi-puisi bisa dilombakan untuk mengenang jasa semua yang berjasa untuk kemerdekaan, saat peringatan Hari Pahlawan.

Ramalan Zodiak Hari Ini 10 November 2019 Hari Pahlawan, Aries Marah Tanpa Sebab, Libra Wajib Move On

Download Gambar Tema Hari Pahlawan 10 November 2019 berikut Ucapan untuk Para Pejuang Indonesia

Hari Pahlawan: Siapa yang Bunuh Brigadir Jenderal Mallaby? Jadi Pemicu Perang 10 November Surabaya

Dilansir Tribunjogja.com dari berbagai sumber, berikut deretan puisi untuk memperingati Pahlawan 10 November.

TANAH TUMPAH DARAHKU

Aku tak ingin melihat bangsaku
Kalah tersungkur oleh waktu
Aku tak ingin melihat bangsaku
Jatuh tenggelam ke dalam kehancuran
Dengan tekad setinggi langit
Untuk tanah ini aku rela berkorban
Disaat percaya diriku menyusut
Disaat itulah semangatku semakin berkobar
Selama mentari masih menyinari dunia
Aku takkan berhenti sedetik pun
Menyelamatkan melindungi dan mempertahankan
Walaupun hingga aku menyatu dengan tanah negeriku
Bersatulah wahai penerus bangsa
Bulatkan tekadmu dan tegarlah bagai batu karang
Keraskan segala usahamu serta keraskan pula suaramu
Karena setiap usaha yang keras takkan mengkhianati

Harapanku akan selalu mengiringi
Untuk tanah negeri ini setiap hari
Aku tidak ingin lagi
Melihat ibu pertiwi tersiksa hati

PUISI BUAT PAHLAWAN

Demi sang negeri
Kau korbankan jiwamu
Demi sang bangsa
Rela kau pertaruhkan nyawamu
Maut yang menghadang di medan tempur
kau bilang itu hanyalah hiburan

Nampak jelas raut wajahmu
Tak segelintirpun rasa takut
Semangat membara di dalam jiwamu
Taklukkan mereka penjajah negeri
Harimu yang berwarna merah membara
Pembunuhan, pembantaian yang dihiasi bunga api
Mengalirkan sungai darah di hadapanmu
Bahkan saat mata air darah itu
Mengalir dari tubuhmu
Namun tak dapat runtuhkan benteng semangat juangmu
Bambu runcing yang selalu setia menemanimu
Kaki telanjang penuh luka
Pakaian lesuh dengan seribu wangi
Basah badanmu kering badanmu
Kini menghantarkan bangsa ini
Kedalam kemerdekaan yang hakiki

WAHAI PENJAJAH

Hai kamu wahai penjajah
Kamu yang merasa tinggi
Kamu semua yang mengusik kedamaian di tanah airku
Kamu semua yang hanya peduli akan bangsa sendiri
Sudah waktunya kalian pergi dari bumi pertiwiku
Pergi
Ibu pertiwi sudah tidak kuat lagi
Dia sudah tidak kuat dengan darah yang kalian tumpahkan
Tidak kuat dengan kejahatan yang kalian nampakkan
Tidak kuat dengan alam yang selalu kalian injak
Pergi
Mungkin memang kalian lebih pandai
Mungkin memang kalian bisa memakai senjata dan kendaran baja
Mungkin memang kalian bisa menciptakan tipu daya muslihat
Mungkin memang kalian penuh dengan kekejaman

Pergi
Pergilah sekarang juga
Aku tak peduli walau hanya dengan senjata dari bambu
Aku tak peduli walau hanya memakai kain lusuh
Aku tak peduli darahku tumpah ruah

PESAN ISTRI PEJUANG

Suamiku...
Sudah berapa lama kita tidak berjumpa
Rumah ini terasa sepi tanpa kehadiranmu
Namun aku tak ingin pergi
Karena aku yakin kamu pasti akan kembali
Aku tahu kamu sedang berjuang untuk orang lain
Dan kamu mungkin saja akan kehilangan nyawa di sana
Namun aku tak ingin kau mati
Aku ingin kau kembali ke sini
Ke rumah tempat kita berbahagia

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved