Mahfud MD Paparkan Sosok Aktor Intelektual di Balik Kerusuhan Pelajar-Mahasiswa, Ini Analisisnya

Hingga Rabu (25//9/2019) dini hari, ada 232 orang menjadi korban dari aksi demonstrasi di berbagai daerah. Mahfud MD memaparkan aktor intelektual

Editor: Duanto AS
(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)
Pelajar melakukan Aksi Tolak RUKHP di Belakang Gedung DPR/MPR, Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (25/9/2019). 

Hingga Rabu (25//9/2019) dini hari, ada 232 orang menjadi korban dari aksi demonstrasi di berbagai daerah. Mahfud MD memaparkan aktor intelektual di balik peristiwa itu.

TRIBUNJAMBI.COM - Apa yang harus dilakukan Presiden Jokowi untuk menyikapi demonstrans?

Berikut ini komentar dari Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD.

Mahfud MD mengatakan sebaiknya pemerintah bersama Kepolisian RI melakukan tindakan persuasif terhadap para demonstran yang melakukan aksi selama beberapa hari terakhir.

Menurut Mahfud MD, cara ini akan lebih efektif dibandingkan tindakan represif dan kekerasan.

Baca Juga

 Disebut Bodoh Dian Sastro Balas Kata Menteri Yasonna, Hotman Paris Singgung Kumpul Kebo dan Siri

 Siapa Sebenarnya Livia Ellen, Mahasiswi UI Fotonya Viral Saat Demo di DPR Ternyata Bukan Orang Biasa

 Habis-habisan Dibully, Siapa Sebenarnya Melody Prima Tulis Pesan Sinis untuk Mahasiswa Tolak RKUHP

 BREAKING NEWS Kondisi Prada DP yang Divonis Siang Ini, Penampakan Wajah Pembunuh Vera Oktaria Malah

 10 Foto Adik DJ Katty Butterfly Posisi Baju Agak Terbuka, Sandy Klisana Lebih Cantik dari Sang Kakak

"Yang harus dilakukan ya dengan persuasif, terlebih lagi kalau ada pelajar yang berbuat kerusuhan, agak susah bila ditindak secara hitam-putih," kata Mahfud saat dihubungi Kompas.com, Kamis (26/9/2019).

Setelah selama beberapa hari digelar aksi demonstrasi oleh mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat, pada Rabu (25/9/2019) kemarin, para pelajar juga ikut turun ke jalan.

Mahfud mengatakan, demo yang dilakukan pelajar hanya sebagai ajang pembuktian diri.

"Kalau anak-anak itu kan sekarang ikut demo seperti menjadi gaya hidup. Mereka tidak tahu apa tujuan sebenarnya dari demo yang mereka lakukan," kata Mahfud.

"Kalau saya lihat laporan dari beberapa media, mereka tidak tahu RUU itu apa, katanya mereka demo menolak RUU, ditanya RUU enggak ngerti. Artinya kan ini dijadikan sebagai gaya hidup baru, Kalau ikut demo itu merasa keren," lanjut dia.

Mahfud menduga, ada auktor intelektualis di balik aksi yang dilakukan para pelajar.

"Pasti ada aktor intelektualis hebat, bagaimana sebuah demo dihadiri oleh begitu banyak SMA dari berbagai kota," kata Mahfud.

"Harus dicari dengan hati-hati (auktor intelektualis). Karena demo adalah hak dan memang saat ini sedang ada momentum soal RUU yang kontroversial," ujar dia.

Mahasiswa dari berbagai elemen melakukan unjuk rasa di depan Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/9/2019). Demo mahasiswa yang berlangsung di depan Gedung DPR sejak tadi pagi berakhir ricuh, suasana tidak kondusif terjadi sejak sore hingga malam hari.(ANTARA FOTO/INDRIANTO EKO SUWARS)
Mahasiswa dari berbagai elemen melakukan unjuk rasa di depan Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/9/2019). Demo mahasiswa yang berlangsung di depan Gedung DPR sejak tadi pagi berakhir ricuh, suasana tidak kondusif terjadi sejak sore hingga malam hari.(ANTARA FOTO/INDRIANTO EKO SUWARS) ((ANTARA FOTO/INDRIANTO EKO SUWARS))

Seperti diberitakan, sejak Senin (23/9/2019) hingga Rabu (25/9/2019), berlangsung aksi demo oleh mahasiswa, pelajar, dan elemen masyarakat lainnya.

Massa aksi menuntut Presiden Joko Widodo mencabut UU KPK versi revisi dan menunda pengesahan sejumlah RUU lainnya, salah satunya Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( RKUHP).

Hingga Rabu (25//9/2019) dini hari, setidaknya 232 orang menjadi korban dari aksi demonstrasi yang berlangsung di berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Bandung, Sumatera Selatan hingga Sulawesi Selatan tersebut.

Tak hanya dari kalangan mahasiswa yang terluka, sejumlah wartawan, masyarakat sipil, dan aparat keamanan juga turut menjadi korban.

Apa motifnya?

Demo pelajar di seputaran Senayan kemarin berakhir ricuh. Kelompok pelajar dari berbagai sekolah melakukan kerusuhan di beberapa lokasi.

Mereka bentrok dengan polisi dan melakukan pembakaran seperti pos polisi dan motor.

Akhirnya, sejumlah pelajar diamankan polisi terkait aksi unjuk rasa di sekitar Kompleks Parlemen Senayan ini, Jakarta, Rabu (25/9/2019).

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan polisi telah mengamankan 570 pelajar SMP dan SMA hingga pukul 22.00 WIB.

"Iya benar sudah 570 pelajar (yang diamankan)," kata Argo saat dikonfirmasi.

Menurut Argo, para pelajar yang diamankan menjalani pembinaan di Polda Metro Jaya. Kemudian, sebagian dari para pelajar telah dijemput oleh orangtua mereka.

"(Sebagian pelajar) didata kemudian dijemput orangtuanya," ujar Argo.

Polisi sebelumnya melakukan sweeping dan menangkap sejumlah pelajar berseragam putih abu-abu dan pramuka yang mengendarai motor menuju Kompleks Parlemen Senayan.

Hingga saat ini, polisi belum mengetahui tujuan aksi unjuk rasa tersebut yang digelar pelajar tersebut.

Kacamata pengamat pendidikan

Pengamat pendidikan Doni Kusuma saat dihubungi Kompas.com (25/9/2019) menyampaikan demonstrasi yang berakhir ricuh melibatkan pelajar untuk politisasi merupakan hal yang memperihatinkan.

"Pelajar demo dengan kekerasan tanpa tujuan yang jelas sangat memprihatinkan. (Gubernur DKI Jakarta) Anies Baswedan tidak boleh membiarkan anak-anak pelajar di DKI dipolitisasi oleh kepentingan tertentu yang merusak mekanisme demokrasi bangsa ini," ujar Doni.

Doni dengan tegas mengatakan, "Mereka (pelajar yang terlibat) dimanfaatkan kelompok kepentingan. Ini fenomena manipulasi jiwa-jiwa anak-anak demi kepentingan politik. Jadi kelompok yang memprovokasi ini sangat tidak bermoral."

Doni juga menyampaikan tindakan para pelajar pedemo ini tidak murni dari pelajar saja.

"Mereka ini yang menyerang polisi telah melakukan tindakan kriminal. Mereka ada yang mengatur. Jadi harus dicari siapa aktor intelektual di balik demo pelajar ini," lanjutnya.

Ia juga berharap Gubernur DKI Jakarta dapat memberikan teguran pada sekolah-sekolah agar tidak memanfaatkan dan memanipulasi anak-anak melalui aksi demo yang tidak manusiawi dan melawan aparat negara.

Dikompilasi dari artikel Kompas.com berjudul "Menurut Mahfud MD, Jokowi dan Pemerintahannya Harus Persuasif Sikapi Demo Mahasiswa" dan "Ricuh Demo Pelajar: Manipulasi Jiwa Anak dan yang Memprovokasi Sangat Tidak Bermoral!"

Subscribe Youtube

 Raut Tegang Prada DP saat Sidang Vonis, Kepala Pembunuh Vera Oktaria Tak Lagi Plontos

 BREAKING NEWS Kondisi Prada DP yang Divonis Siang Ini, Penampakan Wajah Pembunuh Vera Oktaria Malah

 10 Foto Adik DJ Katty Butterfly Posisi Baju Agak Terbuka, Sandy Klisana Lebih Cantik dari Sang Kakak

 Kejutan Tak Jadi ke Natasha Wilona, Kevin Sanjaya Dikabarkan Malah Pacaran dengan Si Cantik Ini

 Siapa Sebenarnya Livia Ellen, Mahasiswi UI Fotonya Viral Saat Demo di DPR Ternyata Bukan Orang Biasa

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved