Profil Ridwan Saidi Budayawan yang Sebut Kerajaan Sriwijaya Fiktif, Pernah Jadi Anggota DPR RI

Budayawan Betawi, Ridwan Saidi sempat menyebut Kerajaan Sriwijaya hanyalah fiktif dan kini pernyataan tersebut menuai protes dari berbagai kalangan.

Editor: andika arnoldy
KOMPAS.com/Indra Akuntono
Budayawan Ridwan Saidi. 

"Yi Jing itu diminta oleh raja untuk mencari di mana lokasi Sriwijaya, karena kapal dagang Tiongkok semua terbenam di laut, di sekitar Teluk Benggala sampai Selat Malaka," ujarnya.

Akhirnya Yi Jing menghabiskan 25 tahun hidupnya untuk mencari keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

Sesampainya di Kedah, Malaysia, Yi Jing diberitahu penduduk asli bahwa Kerajaan Sriwijaya tidak ada dan hanya nama bajak laut.

"'Yi Jing, Sriwijaya punya kerajaan itu tak adalah di dekat sini, itu adalah di Koromandal, Pantai Timur India'," kata Ridwan Saidi menirukan perkataan orang Kedah.

"'Itu adalah bukan kerajaan, itu adalah bajak laut'," imbuhnya.

Akhirnya Yi Jing pergi ke Koromandal bertemu dengan suku Wijaya Raya yang ternyata memang benar menenggelamkan kapal Tiongkok.

"Yi Jing pergi ke Koromandal, ia berjumpa dengan orang Wijaya Raya, suku bangsanya namanya Wijaya Raya."

"Yi Jing meng-interview mereka, mereka mengaku memang mereka mengganggu kapal-kapal Tiongkok," terang Ridwan Saidi.

Setelah kembali melanjutkan perjalanan, Yi Jing sampailah di Champa yang ternyata memiliki ibu kota bernama Wijaya atau Sriwijaya.

Diketahui, saat ini Champa adalah negara Vietnam.

"Champa ibu kotanya Wijaya, mereka mengatakan Sriwijaya, Wijaya yang manis, Sri kan artinya manis, yang indah," tuturnya.

Soal prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ada di Indonesia, Ridwan Saidi menyebutnya hanya tiruan.

"Mereka membuat prasasti, prasasti sekitar tujuh yang ditemukan di Sumatera bagian selatan dan Bangka, itu prasasti kembaran."

"Jadi ada prasasti dibikin dua kopi kalau kayak kita, (ditaruh) di daerah Sumatera bagian selatan, Jambi, dan Bangka. Itu karena di situ ada komunitas Champa," terangnya.

Ridwan Saidi menyebut prasasti itu dibuat kopiannya di Indonesia dengan tujuan agar orang Champa yang ada di sana tetap mengingat nenek moyangnya.

Sumber: TribunWow.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved