Ekskavasi Situs Perahu Lambur

Arkeolog Universitas Indonesia: Situs Perahu Kuno Lambur Lebih Mendekati Jenis Kapal

Hasil penelitian sementara Arkeologi Universitas Indonesia (UI) terhadap situs Perahu Kuno Lambur yang berada di Kecamatan Muara Sabak Timur,

Arkeolog Universitas Indonesia: Situs Perahu Kuno Lambur Lebih Mendekati Jenis Kapal
TRIBUN JAMBI/ABDULLAH USMAN
Proses ekskavasi situs Perahu Kuno Lambur, Jumat (23/8). 

Laporan Wartawan Tribunjambi.com, Abdullah Usman

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Hasil penelitian sementara Arkeologi Universitas Indonesia (UI) terhadap situs Perahu Kuno Lambur yang berada di Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), lebih tepat disebut kapal kuno karena memiliki panjang dan lebar seperti kapal.

Kesimpulan itu berdasarkan hasil penelitian sementara.  Diketahui ukuran situs perahu kuno tersebut cukup besar dan lebih tepat disebut Kapal Kuno. Arkeolog UI Ali Akbar beranggap, kalau perahu identik dengan didayung, sedangkan yang ditemukan sekarang bisa jadi menggunakan layar.

“Jadi cukup besar sekali, oleh karena itu penggalian atau ekskavasinya kita lebarkan. Karena kalau seandainya oerahu, mungkin bisa lebih cepat penelitiannya. Karena ini besar, mungkin akan memakan waktu yang lebih lama,” ujarnya.

Dari hasil penelitian sementara yang sudah diketahui diantaranya (sisi pinggir kapal), baru ditemukan sebelah (satu), ini beda sekali dengan jenis jenis perahu kita jumpai yang hilir mudik di sungai. Kalau perahu yang hilir mudik di sungai itu memiliki lambung langsung dan lunas di bawah satu.

"Kalau perahu kuno atau kapal kuno yang kita jumpai ini, sisi tepinya bisa dibuat orang mondar-mandir yang ukurannya besar pada waktu itu,” jelasnya.

Untuk sementara, lanjutnya, prediksi dari kapal tersebut di satu sisi kiri berukuran lebar 1,5 meter, sisi kanan 1,5 meter dan minimal lebarnya 5 meter.

Selain Itu pada saat penelitian berlangsung ditemukan juga dua pecahan tembikar yang cukup kuno pada bagian perahu tersebut. Kekunoan ini memang mirip dengan perahunya, karena perahu ini disusun tanpa menggunakan besi atau hanya menggunakan bilah. Sedangkan papannya hanya disambung atau direkatkan dengan pasak yang terbuat dari kayu.

“Kita menjumpai banyak sekali pasak. Teknik ini dikenal sebagai teknik pembuatan Kapal Asia Tenggara. Kenapa disebut demikian, karena tehnik ini juga dikenal di Negara Malaysia, Thailand, Filipina dan Sumatera Selatan,” paparnya.

Untuk sementara, ulasnya, perahu tersebut akan ditampakkan beberapa titik saja, belum diangkat, karena jika diangkat memiliki resiko rusak yang cukup besar sekali.

“Jadi nanti dibuka dulu (tanahnya disingkap) kemudian direkam atau difoto sambil lihat kondisi kayunya. Jika memungkinkan dipindah, akan dipindah atau bisa juga kita bikin semacam tembok di sekeliling. Dan rencana penanganannya nanti, oleh kawan kawan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dari Provinsi Jambi,” pungkasnya.

Penulis: Abdullah Usman
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved