Kebakaran Hutan Amazon Brasil, Disebut Sebagai Kebakaran Terparah
Pusat penelitian luar angkasa Brasil, INPE, mendeteksi sedikitnya 72.843 titik api ada di Amazon hingga asap kebakaran bisa terlihat dari luar angkasa
Kebakaran Hutan Amazon Brasil, Disebut Sebagai Kebakaran Terparah
TRIBUNJAMBI.COM - Kebakaran lahan yang melanda hutan hujan Amazon di Brasil disebut telah mencapai rekor terparah tahun ini.
Pusat penelitian luar angkasa Brasil, INPE, mendeteksi sedikitnya 72.843 titik api ada di Amazon hingga asap kebakaran bisa terlihat dari luar angkasa.
Sejak pekan lalu, INPE menuturkan citra satelitnya menemukan 9.507 titik kebakaran baru di Brasil. Sebagian besar titik api itu berada di lembah Amazon, hutan tropis terbesar di dunia.
Baca: Kebakaran Bekas Sumur Ilegal Drilling di Bahar Selatan, Muarojambi, Dekat dengan Perkarangan Warga
Baca: SINOPSIS Film USS Indianapolis Men of Courage di Trans TV Sabtu (24/8), Jam 21 WIB
Baca: Kepincut Pesonanya, Hotman Paris Suka Sosok Vanessa Angel Semakin Kita Ngomong, Semakin Kita Suka
Gambar satelit menunjukkan negara bagian paling utara Brasil, Roraima, tertutup asap gelap.
Otoritas Amazon menetapkan status darurat di selatan Roraima dan Manaus sejak 9 Agustus lalu.
Dikutip Reuters, otoritas berwenang menuturkan kebakaran hutan meningkat di Mato Grosso dan Para, dua negara bagian Brasil.
Meski kebakaran hutan dan lahan adalah hal yang lumrah selama musim kemarau, tapi tak jarang para petani lokal pun nakal membakar hutan demi membuka lahan.
Baca: Janda Muda Tika Herli (31) Dapat Vonis Mati, Setelah Habisi Ibu dan Anak akan Kabur ke Jepang
Baca: Tambah Panas, Perseteruan Hotman Paris Vs Farhat Abbas dan Andar Situmorang, Peringatan Keras
Kebakaran hutan yang mencapai rekor terparah ini terjadi sejak Presiden Jair Bolsonaro berniat untuk mengembangkan wilayah Amazon untuk pertanian dan pertambangan.
Langkah itu menuai kekhawatiran internasional akan potensi meningkatnya deforestasi.
Ketika ditanya terkait penyebaran karhutla yang tak terkendali, Bolsonaro hanya menganggap saat ini merupakan tahun "queimada" atau pembakaran, ketika petani menggunakan api untuk membersihkan lahan.
"Saya dulu disebut Kapten Chainsaw. Sekarang saya nero, membakar Amazon. Tetapi ini adalah musim queimada," katanya kepada wartawan.
Meskipun begitu, INPE menuturkan kebakaran hutan tidak dapat dikaitkan begitu saja dengan musim kemarau atau fenomena alam.
"Tidak ada yang abnormal tentang iklim tahun ini atau curah hujan di wilayah Amazon yang hanya sedikit di bawah rata-rata," kata peneliti INPE Alberto Setzer.
Setzer menuturkan orang kerap menyalahkan musim kemarau terkait kebakaran hutan di Amazon.