Kasus Pelecehan

Kasus Pelecehan Oleh Mitra Ojek Online terjadi di Surabaya, Manajemen Grab Berikan Tanggapan

Kasus pelecehan yang diduga dilakukan mitra pengemudi ojek online (ojol) kembali terjadi. Peristiwa yang yang tidak mengenakkan

Kasus Pelecehan Oleh Mitra Ojek Online terjadi di Surabaya, Manajemen Grab Berikan Tanggapan
SURYA
Ilustrasi diperagakan model. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Kasus pelecehan yang diduga dilakukan mitra pengemudi ojek online (ojol) kembali terjadi. Peristiwa yang yang tidak mengenakkan itu terjadi Senin (13/8) lalu di daerah Surabaya.

Korban yang diketahui adalah perempuan muda bernama Belafitria.  Ia diketahui memesan layanan GrabRide dari Desa Bungurasih, Waru-Sidoarjo, ke arah Dukuh Kupang, Surabaya.

Dalam perjalanan menuju tujuannya, korban dibawa mitra pengemudi GrabRide yang diketahui berinisial FF itu ke arah Sumur Welut. Dalam perjalanan itulah, FF yang mengendarai Mio warna merah bercampur putih dengan Nopol W 4625 OM itu mulai melancarkan aksinya dengan menggerayangi tubuh korban.

Karena merasa takut, korban tanpa menghiraukan keselamatannya lagi akhirnya nekat loncat dari motor.  Kronologi kasus pelecehan yang dibagikan via akun Facebook Jemi Ndoen ini pun segera menjadi viral. Akun ini juga membagikan foto korban yang tengah duduk di sebuah rumah warga Rusun Sumur Welut yang membantu menyelamatkannya.

Menanggapi kasus ini, Rika Rosvianti, pendiri perEMPUan, yaitu komunitas pemerhati pelecehan seksual di transportasi urban, menyerukan agar pihak Grab Indonesia menjalin kemitraan dengan LSM atau NGO dalam upaya membangun sistem yang lebih komprehensif terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang terjadi di Grab.

“Jadi bukan hanya sekadar formalitas penyelenggaraan pelatihan. Ini penting setidaknya agar bisa memiliki dan membuat SOP pencegahan dan penanganan pelecehan seksual,” tukasnya dalam keterangan pers, Selasa (13/8).

Sementara itu, Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Ketenagakerjaan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Rafail Walangitan mengatakan pihaknya menyesali kasus seperti ini dapat terjadi.

“Ini tanggung jawab renteng, bukan tanggung jawab individu. Jadi perusahaan harus mengadakan pelatihan dan sertifikasi kepada driver-nya,” tuturnya.

Sementara itu, kepada korban, lanjutnya, pihak Kementerian PPPA sendiri telah memiliki sarana pengaduan masyarakat yang dapat dimanfaatkan korban untuk mengadukan kasus-kasus pelecehan atau kekerasan yang dialaminya secepatnya.

Saat dikonfirmasi, Juru Bicara Grab Indonesia menyesalkan dugaan pelecehan seksual oleh mitra pengemudi Grab di Surabaya yang informasinya beredar di media sosial pada 12 Agustus 2019.

"Kami telah bertindak tegas terhadap laporan tersebut berdasarkan SOP/prosedur perusahaan. Grab tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk tindak kekerasan dan pelecehan, karena itu kami telah memutus kemitraan dengan mitra pengemudi tersebut setelah menyelidiki secara mendalam serta bekerja sama intensif dengan pihak kepolisian setempat untuk investigasi lebih lanjut," kata Juru Bicara Grab kepada Kontan.co.id, Selasa (13/8).

Manajemen Grab juga telah menghubungi penumpang yang bersangkutan untuk menawarkan dukungan dalam bentuk pemulihan psikososial bebas biaya dari lembaga penyedia layanan yang direkomendasikan oleh Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Hal ini merupakan bagian dari kemitraan dengan Komnas Perempuan sejak akhir 2018 lalu untuk memastikan pendekatan komprehensif dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, termasuk pelatihan bagi mitra pengemudi, peningkatan SOP/prosedur, pembekalan bagi internal perusahaan, pembentukan tim khusus penanganan kasus serta rekomendasi pendampingan.

Berita ini sudah tayang di laman Kontan.co.id dengan judul: Kasus Pelecehan terjadi di Surabaya, begini tanggapan manajemen Grab

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved