Kopi Pagi

Waspada Sumatera Darurat Asap (Karhutla), Jawa Darurat Listrik (PLN)

Dua bencana ini, sebenarnya sangatlah terduga dan terprediksi. Namun demikian, seringkali kita memang gagal untuk menanggulanginya.

Penulis: Dodi Sarjana | Editor: Duanto AS
(Tribun Jambi Edisi Selasa, 6 Agustus 2019)
Darurat Karhutla, Asap Tiba di Malaysia, Menteri LHK Minta Perhatian Gubernur 

SUMATERA Darurat Asap (Karhutla), Jawa Darurat Listrik (PLN). Dua tragedi tengah menimpa kita.

Pertama, polusi asap kembali menerpa sebagian wilayah Sumatera. Dan yang kedua, byar pet listrik menimpa Jawa dan Bali. Maka lengkaplah penderitaan kita.

Dua bencana ini, sebenarnya sangatlah terduga dan terprediksi. Namun demikian, seringkali kita memang gagal untuk menanggulanginya.

Di musim kemarau, kekeringan seringkali berimbas kepada ketiadaan air yang lalu juga berdampak kepada pasokan listrik (PLTA; tenaga air). Kemarau pula, biasanya menjadi tertuduh untuk biang kebakaran lahan dan hutan.

Celakanya, kekeringan atau musim kemaru tahun ini diprediksi lebih galak dari tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kemenko PMK, Dody Usodo Hargo Suseno, mengatakan puncak musim kemarau diprediksi bakal terjadi pada Agustus 2019.

Baca Juga

 Awas 14 Penyakit yang Muncul Akibat Udara Kotor! Siapa Bilang Kabut Asap Tak Bahaya

 Siapa Sebenarnya Gus Yasin? Anak dari KH Maimun Zubair Orang Nomor Dua di Jawa Tengah

 Dua Rahasia KH Maimoen Zubair Dibuka Gus Dur setelah Tinggalkan Tausiah, Anda gak akan kuat`

 Total Utang BUMN Mencapai Rp 2.394 Triliun? Akhirnya Terungkap Digunakan untuk Apa Saja

 Posisi Kaki Irish Bella Memang Selalu Beda, Mengapa? Foto-foto Masa Kecil Diungkap Johan de Beule

"Disampaikan dari BMKG, kekeringan dimulai dari bulan Juli sampai Oktober nanti, kemudian puncaknya akan terjadi di bulan Agustus," ujar Dody dalam jumpa pers di kantor Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Nah tentunya, kalau terjadi kering kerontang berkelanjutan, dampaknya tidak saja terkait asap dan listrik, tapi soal ketersediaan pangan juga akan terganggu.

Tapi itu tidak kita obrolkan dulu ya, kita ngerumpi soal asap dan listrik saja.

Dikutip dari kompas.com, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( KLHK) menyatakan, berdasarkan data yang dihimpun sepanjang Januari hingga Mei 2019, terdapat 42.740 hektar hutan dan lahan terbakar.

Jumlah luas hutan dan lahan yang terbakar itu diketahui berdasarkan pengamatan citra Landsat 8 Operational Land Imager dan pemantauan lapangan. "Kemudian juga terverifikasi dan cek lapangan, sampai bulan Mei ini kami hitung 42.740 hektar," kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Raffles B Panjaitan di Gedung KLHK, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Raffles mengatakan total lahan yang terbakar itu paling banyak mengenai lahan gambut. Sisanya, yang terbakar adalah lahan tanah mineral.

"Nah yang memang banyak itu di gambut 27.538 hektare, yang di mineral 15.202 hektare," ujarnya.

Provinsi Riau menjadi lokasi yang mengalami kebakaran hutan dan lahan terluas, yakni 27.683 hektare. Berikutnya diikuti tiga provinsi lain, yaitu Kalimantan Timur, Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.

"Kalimantan Timur seluas 5.153 hektare, Kepulauan Riau seluas 4.970 hektare, dan Kalimantan Barat seluas 2.274 hektare," kata dia.

Raffles melanjutkan, setidaknya ada enam provinsi yang saat ini masih berstatus siaga darurat kebakaran hutan dan lahan. Enam provinsi itu adalah Riau, Kalimantan Barat, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jambi.

Kebakaran lahan dan hutan di Jambi

Di Jambi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian pemerintah pusat. Setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengirimkan dua unit helikopter, kemarin giliran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan “menegur” Pemprov Jambi.

Satgas Karhutla berupaya memadamkan api di Kabupaten Muarojambi.
Satgas Karhutla berupaya memadamkan api di Kabupaten Muarojambi. (IST)

Hari ini (6/8/2019), Gubernur Jambi Fachrori Umar dan seluruh gubernur, serta Danrem dan Kapolda, rencananya diundang Menkopolhukam di Jakarta membahas karhutla. Hal itu disampaikan Sekda Provinsi Jambi, M Dianto, saat diwawancarai Tribun Jambi, Senin (5/8/2019).

Bahkan Dianto mengaku mendapatkan pesan WhatsApp dari Siti Nurbaya, Menteri LHK. "Tadi saya sampaikan bahwa saya mendapat WA langsung dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang menyampaikan bahwa di pemberitaan sudah ada beberapa wilayah di Malaysia sudah mendapatkan asap dari Indonsia," kata Dianto.

Artinya, lanjut Dianto, jika negara tetangga tersebut sudah mendapat kiriman asap, kemungkinan asap tersebut berasal dari provinsi yang ada di Sumatera.

"Ibu Menteri cuma menyampaikan saja, minta atensi dari Gubernur Jambi. Apa langkah-langkah yang kita perbuat dengan sudah sampainya asap kita ke negara tetangga. Nanti kita laporkan ke ibu menteri. Mudah-mudahan data yang diminta Ibu Menteri itu bisa terjawab pada rapat besok di Kemenkopolhukam," papar sekda.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulthan Thaha Jambi mendeteksi tujuh hotspot pada Senin (5/8) sore di tiga kabupaten. Masing-masing, tiga titik di Muarojambi, tiga titik di Kecamatan Sinyerang, Kabupaten Tanjab Barat dan satu titik panas di Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjab Timur.

Selain terdeteksi di Jambi, sejumlah titik panas juga terpantau di sejumlah provinsi lain di Pulau Sumatera.

Titik panas terpantau di Provinsi Riau sebanyak 73 titik, Sumatera Selatan 35 titik, serta Sumatera Utara 18 titik. Lalu di Aceh 10 titik panas, Bangka Belitung 10 titik, Lampung 5 titik dan Sumatera Barat 2 titik.

Kebakaran lahan, tentu saja berdampak secara ekonomis, kesehatan masyarakat pastinya juga akan mendapat ancaman serius.

Listrik mati di Jawa dan Bali

Nah, persoalan kedua yang tak kalah pentinnya adalah byar petnya listrik di wilayah Jawa dan Bali. Aneh bin ajaib.

Oleh karena itu, atas kejadian tersebut muncul desakan agar dilakukan audir menyeluruh terhadap PLN (Perusahaan Listrik Negara).

Presiden Joko Widodo mendatangi kantor pusat PLN, di Kebayoran, Jakarta Selatan, Senin (5/8/2019). Kedatangan Jokowi ini untuk meminta penjelasan PLN mengenai padamnya listrik di sebagian besar wilayah Pulau Jawa.
Presiden Joko Widodo mendatangi kantor pusat PLN, di Kebayoran, Jakarta Selatan, Senin (5/8/2019). Kedatangan Jokowi ini untuk meminta penjelasan PLN mengenai padamnya listrik di sebagian besar wilayah Pulau Jawa. (KOMPAS.com/Ihsanuddin)

Penyebab listrik mati harus diungkap seluruhnya agar di kemudian hari tidak terjadi lagi. Perusahaan BUMN PLN juga perlu diaudit tuntas untuk memastikan seluruh proses dan sistem berjalan.

Dampak paling besar atas matinya listrik tentu terkait perekonomian. Namun listrik mati tentunya juga akan berimbas ke mana-mana, termasuk kesehatan dan kriminalitas. Bahkan mungkin juga duka kebakaran, tatkala ada insiden lilin atau lampu teplok yang membakar rumah.

Beberapa media di tanah air memberitakan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan bakal mengerahkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT untuk mengaudit kejadian padamnya listrik di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten pada Minggu, 4 Agustus 2019.

Sebelum ada audit, Luhut enggan berandai-andai soal peristiwa tersebut. Hal itu sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo yang meminta adanya evaluasi mendasar terkait kejadian tersebut.

Dari hasil audit tersebut, Luhut menduga akan ada beberapa rekomendasi. Satu di antaranya berhubungan usul Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi agar ada pembangkit listrik khusus untuk sarana transportasi strategis.

"Mungkin hasil audit bisa sampai ke sana. Dengan adanya teknologi 4.0 lalu ada startup segala macam, kemarin kan menyedihkan sekali down enam jam. Itu saya pikir enggak boleh terjadi," ucap Luhut, seperti dikutip tempo.co.

Sebelumnya terjadi pemadaman listrik pada Minggu, 4 Agustus 2019 pukul 11.48 WIB hingga hampir tengah malam di Jawa Barat, Jakarta dan Banten. Hal itu berawal dari gangguan beberapa kali pada Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET) 500 kV Ungaran- Pemalang.

GM Unit Induk Pusat Pengatur Beban PLN, Edwin Nugraha Putra, menjelaskan padam listrik kali ini disebut N minus 3.

Dia mengatakan N minus 3 artinya terdapat 3 yang terganggu, yaitu di Pemalang-Ungaran terdapat dua sirkuit listrik di sistem utara. Kemudian di sisi selatan atau di Depok dan Tasikmalaya ada pemeliharaan 1 sirkuit.

Apa pun yang terjadi, dua persoalan yang menyangkut hajat hidup orang banyak ini perlu segera diselesaikan.

Asap dan Listrik dua persoalan yang tali temali dan sangat urgent. Keduanya memiliki dampat yang muti kompleks. Keduanya bisa berimbas ke mana-mana.

Oleh karenanya, demi kedaulatan kita, semuanya, mulai dari rakyat hingga pejabat harus terlibat dan menyeriusi persoalannya. Salam sehat dan sejahtera. (berbagai sumber)

Oleh: Dodi Sarjana

 Total Utang BUMN Mencapai Rp 2.394 Triliun? Akhirnya Terungkap Digunakan untuk Apa Saja

 Awas 14 Penyakit yang Muncul Akibat Udara Kotor! Siapa Bilang Kabut Asap Tak Bahaya

 Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Kyai Haji Maimoen Zubair alias Mbah Moen Meninggal Dunia di Mekah

 Posisi Kaki Irish Bella Memang Selalu Beda, Mengapa? Foto-foto Masa Kecil Diungkap Johan de Beule

 Setelah 3 Bulan Rahasia Nikah Irish Bella Ammar Zoni Terungkap, Mengapa Ranty Maria Posting Ini?

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved