Lingkungan

Lahan Gambut Terbakar di Area Konses Perusahaan, Warsi Sebut Perusahaan Tak Taat Undang-undang

Lahan Gambut Terbakar di Area Konses Perusahaan, Warsi Sebut Perusahaan Tak Taat Undang-undang

Lahan Gambut Terbakar di Area Konses Perusahaan, Warsi Sebut Perusahaan Tak Taat Undang-undang

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kebakaran hutan dan lahan di musim kemarau yang kini mulai muncul dengan ditandai sebaran titik api akan sangat berbahaya jika tidak segera di tindak lanjuti dengan sesegera mungkin.

Hal ini disampaikan Rudi Syaf, Direktur KKI Warsi, saat dikonfirmasi lewat sambungan telpon Rabu (31/7/2019) malam.

Warsi juga menyoroti titik api di musim kemarau yang muncul di kawasan pemegang konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan pemegang HGU Perkebunan sawit.

Baca: Kedalaman Gambut yang Tebakar di Muarojambi 4 Sampai 7 Meter, Petugas Kesulitan Padamkan Api

Baca: Waterboom di Batanghari Terbengkalai, Ini Penampakan Wahana Air yang Telan Dana Rp 24 Miliar

Baca: Honorer Guru/Kesehatan/Penyuluh di Atas 35 Tahun Dikabarkan Diangkat PNS Tanpa Tes, Begini Kata BKN

Ia menilai kebakaran yang terjadi terutama di kawasan gambut yang masuk dalam kawasan konsesi perusahaan adalah hal yang tidak wajar. Namun ia tak mau menyebut ada faktor kesengajaan atau tidak.

"Kalau faktor disengaja sepertinya tidak. Tapi lebih kepada faktor ketidak patuhan terhadap perundang-undangan," katanya.

Ia menbahkan bahwa sesuai perundangan dan peraturan pemerintah nomor 57 tahun 2016 tentang gabut bahwa setiap pemegang izin dibebankan tanggung jawab untuk mencegah kebakaran.

Baca: Koalisi Jadwalkan Bertemu Gubernur, Bahas Pengajuan Nama Cawagub, Pendamping Fachrori

Baca: 10 Motor yang Tak Diproduksi Lagi, Padahal Masih Banyak Peminatnya Lho! Kamu Punya yang Mana?

Baca: Lowongan Kerja Agustus - Indomaret Cari Karyawan, Lulusan SMA SMK, Gaji Sesuai UMK

"Untuk itu perusahaan harus menyiapkan SDMnya untuk melakukan pemadaman, membangun menara api dan membuat sekat kanal agar air tidak sampai kering pada saat kemarau," katanya.

Namun kebakaran yang terjadi kata Rudi Syaf menjadi indikasi perusahaan tidak mematuhi peraturan presiden.

"Harusnyakan kalau dibangun sekat kanal dan ketinggian air minimal 40 cm sehingga pada musim kemarau sampai 4 bulan pun tetap basah, tapi ini tidak di patuhi," ujarnya.

"Termasuk untuk kawasan disekitar perusahaan, ada tanggug jawab moral perusahaan untuk membantu pemadaman bila terjadi kebakaran," sambungnya lagi.

Untuk itu pihak pemerintah kata Rudi Syaf harus mengambil langkah preventif. Yakni dengan sesegera mungkin melakukan pemadaman. Termasuk melibatkan perusahaan.

"Saya kira sekarang ini harusnya dilakukan water bomming, karna api masih kecil. Kalau sudah besar susah, beda halnya kalau di tanah mineralm kalau gambut seperti sekam, apinya di bawah permukaan," pungkasnya.

Lahan Gambut Terbakar di Area Konses Perusahaan, Warsi Sebut Perusahaan Tak Taat Undang-undang (Dedy Nurdin/Tribun Jambi) 

Penulis: Dedy Nurdin
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved