Selasa, 12 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Bukan Fenomena Baru, Topi Awan di Gunung Rinjani, Pendaki dan Pesawat yang Melintas Patut Waspada!

"Itu awan lentikular, awan berbentuk lensa. Awan lentikular terbentuk akibat aliran naik udara hangat yang membawa uap air mengalami pusaran.

Tayang:
Editor: Suci Rahayu PK
ANTARA/Rosidin/aa
Warga menyaksikan fenomena topi awan yang melingkari puncak hingga lereng Gunung Rinjani, di Lombok, NTB, Rabu (17/7/2019. 

Bukan Fenomena Baru, Topi Awan di Gunung Rinjani, Pendaki dan Pesawat yang Melintas Patut Waspada!

TRIBUNJAMBI.COM - Fenomena awan unik di puncak Gunung Rinjani Rabu 17 Juli 2019 pagi menyita perhatian kita.

Karena bentuknya seperti topi menutupi kepala, masyarakat lokal menjulukinya topi awan.

Seperti diberitakan sebelumnya, topi awan bukanlah fenomena baru.

Hal ini sering terjadi dan pernah terlihat di gunung Semeru, Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing.

Baca: Modus Baru Prostitusi Online, 1 Kamar Hotel Digilir 2-3 PSK Layani Tamu: Kencan Singkat Rp 800 Ribu

Baca: Tak Mampu Penuhi Pasokan Hewan Kurban, Disnak Merangin Cari ke Provinsi Tetangga

Baca: Naked Bike, Benelli Leoncino 250 Akan Dirilis di Indonesia, Berapa Harga Jualnya?

Dalam dunia astronomi, fenomena seperti ini disebut awan lentikular.

"Itu awan lentikular, awan berbentuk lensa. Awan lentikular terbentuk akibat aliran naik udara hangat yang membawa uap air mengalami pusaran. Itu sering terjadi di puncak gunung," ungkap Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, Rabu (17/7/2019).

Marufin Sudibyo, astronom amatir Indonesia menambahkan, awan yang muncul sekitar pukul 7.00-9.00 WITA ini bersifat statis alias tak bergerak atau selalu menetap di satu tempat.

Awan lentikular di Gunung Rinjani fenomena topi awan yang terjadi Rabu (17/7/2019)
Awan lentikular di Gunung Rinjani fenomena topi awan yang terjadi Rabu (17/7/2019) (Facebook Lilik Sukmana)

"Awan ini terbentuk saat aliran udara lembab menubruk suatu penghalang besar sehingga membentuk putaran stasioner," ungkap Marufin, Rabu (17/7/2019).

Ketika putaran stasioner terjadi, awan lentikular dapat bertahan selama beberapa jam hingga berhari-hari.

Meski indah, Marufin berkata awan lentikular sesungguhnnya berbahaya.

"Awan lentikular yang terbentuk di puncak gunung menandakan sedang terjadi pusaran angin laksana badai di sana," ungkap dia.

Hal ini pun memiliki dampak bagi pendaki maupun pesawat yang melintas di atasnya.

Baca: Kisah Polisi Nyamar Jadi Emak-emak Berdaster, Pakai Jilbab & Naik Motor Matic, 3 Begal Ditangkap

Baca: Gara-gara Sering Minum Tuak, Ayah Tiri Tega Cabuli Anaknya, Mengaku Gemes

Bagi pendaki gunung, hembusan angin saat terjadi awan lentikular bisa mendatangkan momok hipotermia.

Sedang untuk pesawat, awan dan pusaran angin bersifat turbulen yang membuat pesawat terguncang hingga bisa kehilangan altitudenya dengan cepat.

Marufin menegaskan awan lentikular tak ada hubungannya dengan aktivitas gunung berapi atau potensi bencana gempa, apalagi tsunami.

"Tak perlu ditafsirkan macam-macam," imbau Marufin.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved