Ingat Rinto Daeng Sitaba, Tukang Bakso Ala Agen Rahasia James Bond? Ini Ceritanya Sekarang

Ingat dengan Rinto Daeng Sitaba, tukang bakso ala agen rahasia James Bond? Begini kabarnya

Editor: Duanto AS
(KOMPAS.com/Hendra Cipto)
Rinto, tukang bakso di Makassar, Sulawesi Selatan, yang keliling mendorong gerobaknya menjajakan bakso dengan berpakaian ala direktur atau pegawai kantoran. 

Ingat dengan Rinto Daeng Sitaba, tukang bakso ala agen rahasia James Bond? Begini kabarnya

TRIBUNJAMBI.COM - Selagi itu halal, maka segera kerjakanlah untuk kehidupan.

Kisah tukang bakso ini bisa menginspirasi Anda.

Masih ingat Rinto Daeng Sitaba?

Seorang penjual bakso keliling di Kota Makassar bernama Rinto Daeng Sitaba (33) pernah ramai diperbincangkan.

Baca Juga

 Tega Blokir WA Bapaknya, Perlakuan Vanessa Angel ke Orang Tua Setelah Bebas Akhirnya Terungkap

 Stres hingga Rokok, Ini Penyebab Rambut Beruban di Usia Muda hingga Pencegahannya!

 Pengamat: AHY Belum Pantas Jadi Menteri Masih di Bawah Bayang-bayang SBY dan Minim Pengalaman

 Siapa Sebenarnya Maruf Amin? Bakat Memimpinnya Sudah Terlihat Sedari Muda, Peran Sang Istri Terkuak

 Ribut di HKBP Kayu Tinggi, Dua Pria Saling Senggol Kiri-kanan Naik Mimbar Utama Gereja

Rinto menjadi terkenal karena penampilannya saat berjualan bakso.

Setiap hari dia mendorong gerobak menjajakan bakso dengan penampilan layaknya pegawai kantoran, yaitu mengenakan kemeja, celana kain hingga jas, dasi dan sepatu pantofel.

Warga Jalan Tanggul Patompo ini bahkan selalu terlihat rapi dan bersih saat menjajakan baksonya setiap hari.

Rinto semringah ketika ditanya alasannya selalu berpakaian seperti pekerja kantoran saat berkeliling menjual bakso.

Dia mengaku sangat senang berpenampilan seperti itu.

Apalagi, para langganannya juga ikut senang membeli bakso karena pedagangnya bersih dan rapi.

"Saya memang suka bersih dan rapi. Ini juga saya terinspirasi dengan gayanya James Bond. Itu idolaku sejak kecil hingga kini. Semua film-film James Bond yang versi dulu sampai sekarang sudah saya nonton berulang-ulang kali," ungkapnya saat ditemui di rumah sepupunya yang juga menjadi tempat tinggalnya, Rabu (7/3/2018).

Rinto mengatakan sudah berpenampilan seperti ini sejak lama.

Rinto, tukang bakso di Makassar, Sulawesi Selatan, yang keliling mendorong gerobaknya menjajakan bakso dengan berpakaian ala direktur atau pegawai kantoran. Setiap hari, dia menghabiskan waktu hampir 1 jam untuk bersiap.
Rinto, tukang bakso di Makassar, Sulawesi Selatan, yang keliling mendorong gerobaknya menjajakan bakso dengan berpakaian ala direktur atau pegawai kantoran. Setiap hari, dia menghabiskan waktu hampir 1 jam untuk bersiap. ((KOMPAS.com/Hendra Cipto))

Pria yang sudah berjualan bakso selama 18 tahun ini merasa tidak semangat berdagang jika tidak bersih dan rapih.

Bukan tanpa sebab. Menurut Rinto, sejak kecil, dia dididik oleh almarhumah ibunya, Bambo Daeng Rannu, untuk selalu rapi sejak masih duduk di bangku kelas III SD.

Rinto mengenang, ibunya sebenarnya ingin dia menjadi tentara sehingga profesi itu juga menjadi cita-citanya.

Namun, karena sang ibu sudah meninggal sejak dia kecil, kandas pulalah cita-citanya.

Anak kedua dari enam bersaudara ini terpaksa hidup menumpang di rumah keluarganya dan harus memutar otak untuk hidup dari hari ke hari.

"Waktu kecil, ibu selalu elus-elus kepalaku dan mengatakan kamu jadi tentara ya, Nak. Tapi cita-cita itu kandas, karena saya putus sekolah dan harus mengurus diriku sendiri. Sedangkan saudara-saudaraku yang lain terpencar menumpang di rumah keluarga yang lain. Ada sama nenek dan ada pula di keluarga yang lain," tuturnya.
Sepeninggalan ibunya, Rinto pun putus sekolah dan tinggal bersama kakak sepupunya, Nawir Daeng Lau.

Sementara itu, ayahnya, Daeng Nuntung, yang berprofesi sebagai tukang becak, telah menikah lagi dan tinggal bersama istri keduanya.

Awalnya, sang ayahlah yang mempunyai bisnis bakso keliling yang dijalankan oleh Rinto dan enam rekannya yang lain.

Namun, karena kondisi kesehatan Daeng Lau kurang memadai, Rinto yang diminta pergi berbelanja ke pasar hingga membantu membuat bakso.

"Kalau saya membuat bakso, pakai topi dan pakai celemek. Pokoknya saya jaga kebersihan dagangan saya. Sampai saya jualan keliling, saya tetap berpakai bersih dan rapi seperti ini," katanya.

Butuh 1 jam bersolek

Dalam berpenampilan rapi dan bersih setiap hari, tentu saja Rinto harus mempersiapkannya dengan baik.

Rinto mengaku, mempersiapkan dirinya, mulai mandi sampai bersolek selama hampir 1 jam.

Pakaian dan aksesori yang dipakai adalah milik sendiri, dibelinya dari hasil tabungannya.

"Pakaian, sepatu, topi, dasi dan lainnya ini saya beli dari hasil jualan bakso yang setiap hanya disisipkan di celengan. Saat berdandan, banyak pembeli bakso yang sudah berteriak-teriak di depan rumah. Tapi biasa kakak sepupuku itu yang melayani (mereka) jika saya berdandan," tuturnya.

Rinto, tukang bakso di Makassar, Sulawesi Selatan, berpakaian ala direktur atau pegawai kantoran
Rinto, tukang bakso di Makassar, Sulawesi Selatan, berpakaian ala direktur atau pegawai kantoran ((KOMPAS.com/Hendra Cipto))

Saat memulai keliling dengan gerobaknya berpenampilan ala pegawai kantoran, pelanggannya mulai suka berteriak-teriak memanggilnya "Mas Rinto".

Bahkan kerap pula pelanggannya bertanya soal pakaian koboi Rinto.

Sore itu, Rinto tengah mempersiapkan dagangan baksonya dengan berpenampilan unik seperti koboi.

Menurut Rinto, topi koboi digunakannya untuk menghindari adanya kotoran atau rambut yang jatuh di makanan dagangannya.
Ternyata Rinto memiliki banyak koleksi topi koboi yang setiap hari digunakannya menyiapkan dan menjajakan bakso dagangannya.
Selain koleksi topi koboi, Rinto juga mempunyai banyak koleksi sepatu kulit yang biasa pekerja kantoran.

Semangkok bakso yang dijajakan Rinto dihargai Rp 5.000 hingga Rp 10.000.

Rinto memberikan kesempatan mencicipi bakso jajanannya.

Baksonya terasa enak. Kuahnya mempunyai khas tersendiri, agak kental dan gurih dengan tambahan bumbu kacang.

Dia juga memberi empat jenis bakso dalam semangkok, yaitu bakso tenis, bakso ranjau yang berisi cabai, bakso berisi telur dan ada pula bakso berisi hati ayam.

Rinto bersyukur, banyak pembeli yang menyukai baksonya dan juga penampilannya.

Dia selalu menunggu saat berkeliling mendorong gerobaknya dengan kemeja dan dasi, bahkan jas dan sepatu pantofel.

"Mas Rinto, satu mangkok bakso ya...."

Sukses selalu.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Mas Rinto, Tukang Bakso Berdasi yang Terinspirasi James Bond"

 Tega Blokir WA Bapaknya, Perlakuan Vanessa Angel ke Orang Tua Setelah Bebas Akhirnya Terungkap

 Stres hingga Rokok, Ini Penyebab Rambut Beruban di Usia Muda hingga Pencegahannya!

 Ribut di HKBP Kayu Tinggi, Dua Pria Saling Senggol Kiri-kanan Naik Mimbar Utama Gereja

 Selingkuh dengan Adik Kandung, Istri Sah Laporkan Suami ke Polisi hingga Bahaya Kawin Sedarah

 Sosok Mengintip di Jendela Rumah Kosong, Polisi Datang, Gadis Itu Merangkak seperti Kepiting

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved