Ramadhan 2019

Ternyata Untuk Puasa 1 Bulan, Niat Puasa Ramadhan Boleh Dibaca Sekali, Ini Penjelasan Ulama & Doanya

Ternyata, Untuk Puasa 1 Bulan, Niat Puasa Ramadhan Boleh Dibaca Sekali, Begini Penjelasan Ulama dan Doanya

Editor: Tommy Kurniawan
Ternyata Untuk Puasa 1 Bulan, Niat Puasa Ramadhan Boleh Dibaca Sekali, Ini Penjelasan Ulama & Doanya 

Ternyata, Untuk Puasa 1 Bulan, Niat Puasa Ramadhan Boleh Dibaca Sekali, Begini Penjelasan Ulama dan Doanya

TRIBUNJAMBI.COM - Setiap ibadah yang dijalankan dimulai dengan niat.

Begitu pula dengan Puasa Ramadhan di tahun 2019 ini.

Puasa Ramadhan sudah dimulai sejak Senin (6/5/2019), dan sebagian muslim membacakan niat puasa di malam hari seusai Shalat Tarawih.

Namun, teknis membacakan niat Puasa Ramadhan ini memiliki dua pendapat.

Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan (freepik)

Melansir nu.or.id, ulama  empat mazhab sepakat bahwa Puasa Ramadhan wajib dimulai dengan niat.

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini Selasa 7 Mei 2019, Taurus Overthingking, Gemini Tidak Nyaman & Virgo PD

Baca: Raffi Ahmad dan Nagita Slavina Sampai Heran dengan Ulah Syahrini, Warganet Tertawa Lihat Inces

Baca: Kondisi Terkini Ranty Maria Setelah Di-unfollow Ammar Zoni, Lupakan Masa Pacaran 4 Tahun

Baca: Sikap Tak Terduga Ranty Maria Saat Ammar Zoni Unfollow Dirinya Usai Menikahi Irish Bella Terungkap

Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai teknis niatnya.

Menurut tiga mazhab selain Malikiyyah, wajib mengulangi niat di setiap kali puasa.

Sedangkan menurut pendapat Malikiyyah cukup untuk menjamak (mengumpulkan) niat puasa Ramadhan sebulan di malam pertama bulan Ramadhan.

Mereka tidak mewajibkan mengulangi niat di hari berikutnya.

Pendapat Malikiyyah ini juga lazim dipakai di Indonesia. Meski penduduknya mayoritas penganut mazhab Syafi’i, tetapi dalam kasus niat puasa sebulan ini mereka dibimbing oleh para kiai dan masyayikh untuk mengadopsi teorinya mazhab Maliki dalam praktik niat di awal Ramadhan.

Banyak di beberapa masjid dan mushala saat malam pertama Ramadhan masyarakat dibimbing oleh para tokohnya untuk bersama-sama melaksanakan niat puasa sebulan versi mazhab Malikiyyah.

Baca: PREVIEW Ajax vs Tottenham, Heboh Pelatih Kebugaran Larang Dua Pemain Muslim Berpuasa, Ini Alasannya

Baca: Film Spider-Man: Far From Home Kelanjutan Cerita Avengers: Endgame, Ini Rilis Trailer Terbarunya

Baca: PREVIEW Salah Absen di Liverpool vs Barcelona Malam Ini, 6 Pemain Kunci Tak Turun, Prediksi Line Up

Baca: Puluhan Tahanan Polresta Palembang Bobol Sel, Berhasil Kabur, Ternyata Ada Peran Perempuan Ini

Namun demikian, tuntunan tersebut bukan berarti menyimpulkan tidak perlu niat di hari-hari berikutnya.

Masyarakat tetap dibimbing untuk rutin melaksanakan niat puasa setiap hari.

Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi bila mana di kemudian hari lupa niat, puasanya tetap sah dan bisa diteruskan, sebab dicukupkan dengan niat puasa sebulan penuh di awal Ramadhan.

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH A Idris Marzuqi di dalam karyanya Sabil al-Huda yang berisikan himpunan wadhifah dan amaliyah menegaskan:

“Untuk berjaga-jaga agar puasa tetap sah ketika suatu saat lupa niat, sebaiknya pada hari pertama bulan Ramadhan berniat taqlid (mengikut) pada Imam Malik yang memperbolehkan niat puasa Ramadhan hanya pada permulaan saja. Dan adanya cara tersebut bukan berarti membuat kita tidak perlu lagi niatdi setiap harinya, tetapi cukup hanya sebagai jalan keluar ketika benar-benar lupa,” (KH. A. Idris Marzuqi, Sabil al-Huda, hal. 51).

Di dalam kitab tersebut, ulama kharismatik dari Kediri, Jawa Timur, tersebut mencontohkan lafaz niatnya sebagai berikut:

ـ (وكفت نية لما يجب تتابعه) اللخمي: أما ما تجب متابعته كرمضان وشهري الظهار وقتل النفس ومن نذر شيئا بعينه ومن نذر متابعة ما ليس بعينه فالنية في أوله لجميعه تجزئه.

Artinya: “Dan cukup niat sekali untuk puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus. Imam al-Lakhmi mengatakan, Adapun puasa yang wajib dilakukan terus-menerus seperti Ramadhan, dua bulan puasa dhihar, puasa denda pembunuhan, orang yang bernazar puasa pada hari tertentu, orang yang bernazar terus-menerus berpuasa yang tidak ditentukan harinya, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya.”

ابن رشد: وأما ما كان من الصيام يجوز تفريقه كقضاء رمضان وصيامه في السفر وكفارة اليمين وفدية الأذى فالأظهر من الخلاف إذا نوى متابعة ذلك أن تجزئه نية واحدة يكون حكمها باقيا وإن زال عينها ما لم يقطعها بنية الفطر عامدا، وأما ما لم ينو متابعته من ذلك فلا خلاف أن عليه تجديد النية لكل يوم.

Artinya: “Ibnu Rusydi berkata, adapun puasa yang boleh dipisah seperti qadha Ramadhan, puasa Ramadhan saat bepergian, denda sumpah, fidyah al-adza (denda bagi orang ihram yang melanggar keharaman saat ihram), maka pendapat yang jelas dari ikhtilaf ulama bahwa bila ia bermaksud melakukan puasa tersebut secara terus-menerus, maka mencukupi baginya satu niat, hukum satu niat tersebut akan menetap meski hilang sosoknya selama tidak diputus dengan niat berbuka puasa secara sengaja. Adapun orang yang tidak berniat melakukannya secara terus-menerus, maka tidak ada ikhtilaf bahwa ia berkewajiban untuk memperbarui niat di setiap harinya” (Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi al-Maliki, al-Taj wa al-Iklil, juz.3, hal. 338).

Mencermati referensi di atas, maka diperbolehkan bagi seseorang yang baru bisa berpuasa di hari kedua, ketiga, dan seterusnya untuk niat puasa sebulan sebagaimana tuntunan dalam mazhab Maliki.

Sebab tidak ada Fariq (titik perbedaan) antara niat sebulan berpuasa di awal Ramadhan dan hari berikutnya.

Di hari keberapapun niat dilakukan, tetap masuk dalam sebuah titik temu, sepanjang hari bulan Ramadhan dihukumi seperti satu kesatuan.

Dan seperti yang telah di jelaskan di atas, anjuran niat puasa sebulan mengikuti mazhab Maliki adalah sebagai langkah antisipasi mana kala di kemudian hari lupa niat puasa.

Artinya niat puasa tetap rutin dilakukan di setiap hari.

Artikel ini telah tayang di tribunkaltim.co 

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved