Keluarkan Ancaman di Gedung Putih, Presiden Soekarno Pernah Membuat Presiden Amerika Meminta Maaf!

Kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih Amerika Serikat, hingga Petugas Protokoler AS minta maaf ke Soekarno di Gedung Putih.

Editor: Tommy Kurniawan
Wartakota
Keluarkan Ancaman di Gedung Putih, Presiden Soekarno Pernah Membuat Presiden Amerika Meminta Maaf! 

Keluarkan Ancaman di Gedung Putih, Presiden Soekarno Pernah Membuat Presiden Amerika Meminta Maaf!

TRIBUNJAMBI.COM - Sejumlah sejarah tentang presiden pertama Indonesia Soekarno hingga kini masih menarik untuk diperbincangkan.

Ada kisah menarik tentang Soekarno ketika ia marah saat memenuhi undangan Presiden Amerika Serikat Dwight David Eisenhower.

Kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih Amerika Serikat, hingga Petugas Protokoler AS minta maaf ke Soekarno di Gedung Putih.

Diketahui, kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih Amerika Serikat, membuat Petugas Protokoler AS minta maaf ke Soekarno.

Presiden RI pertama Soekarno saat bertemu dengan Presiden Uni Soviet Nikita Sergeyevich Khrushchev
Presiden RI pertama Soekarno saat bertemu dengan Presiden Uni Soviet Nikita Sergeyevich Khrushchev ()

Puncak kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih, terjadi saat mendapatkan undangan khusus untuk berkesempatan berkunjung ke Gedung Putih.

Soal penyebab Soekarno marah dan ancam Gedung Putih, bukanlah hal sepele namun kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih terjadi saat menunggu Presiden Amerika Serikat Dwight David Eisenhower.

 WartaKotaLive melansir TribunLampung, Presiden pertama RI Soekarno pernah mengancam pihak Gedung Putih Amerika Serikat saat kunjungannya ke negeri paman sam tersebut. 

Baca: Nikita Mirzani dan Indra Tarigan Perang Komentar di Instagram, Sebut Lawyer Gembel Minta Dirobek

Baca: Yuk, Intip Rumah Soimah di Jakarta, Ada 2 Vespa Seharga Rp 300 juta Terparkir di Ruang Tamu!

Baca: Billy Syahputra Bakal Tinggalkan Indonesia, Bakal Vakum dari Dunia Hiburan, Masih Sakit Hati?

Hal menarik untuk menelusuri, kisah ketika Soekarno diundang Presiden Dwight David Eisenhower ke Amerika Serikat.

Para petinggi AS menilai Soekarno memiliki peran besar terhadap Indonesia dan kawasan sekitarnya.

Mengundang Soekarno merupakan cara AS untuk memengaruhinya.

Presiden Soekarno
Presiden Soekarno (Istimewa)

Perjudian AS

Pada konflik Perang Dingin dengan Uni Soviet, Amerika Serikat menilai membutuhkan kubu yang bisa memperkuat posisinya.

Berbagai negara sudah menetapkan posisinya untuk netral, termasuk Indonesia.

Dilansir dari buku Indonesia Melawan Amerika: Konflik Perang Dingin 1953-1963 (2008), karya Baskara T Wardaya situasi politik di Indonesia pada 1955 membuat AS pening.

Bekas Komandan Detasemen Kawal Presiden Soekarno, Mangil Martowidjojo, ketika menyalami Presiden Soekarno yang genap berusia enam puluh tahun pada tahun 1961
Bekas Komandan Detasemen Kawal Presiden Soekarno, Mangil Martowidjojo, ketika menyalami Presiden Soekarno yang genap berusia enam puluh tahun pada tahun 1961 (Ipphos)

Sebab, Indonesia berada pada dua kubu yang terdiri dari Sukarno, PNI dan PKI di satu sisi, serta Muhamad Hatta, Masyumi, dan Angkatan Darat di sisi lain.

Indonesia dinilai cenderung kepada Uni Soviet. Ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi AS untuk bisa memengaruhi pemikiran Soekarno.

Wakil Presiden AS Richard Nixon sempat beradu argumen dengan Menteri Luar Negeri AS John Foster Dulles terkait sistem perpolitikan Indonesia.

Akhirnya, mereka sepakat untuk mengundang Soekarno ke AS dengan berbagai pertimbangan.

Menlu Dulles bertolak ke Jakarta dan memberikan undangan secara resmi kepada Soekarno.

Undangan ini disambut Bung Karno dengan antusias.

Presiden Soekarno memeriksa barisan
Presiden Soekarno memeriksa barisan (Istimewa)

Soekarno marah

Pada Rabu 16 Mei 1956, Soekarno bersama dengan rombongannya sampai di Washington DC.

Soekarno menggunakan pesawat pribadi Presiden Eisenhower, "The Columbine", dalam perjalanannya ke AS.

Antusiasme warga AS sangat terlihat. Pimpinan Indonesia itu mendapat sambutan meriah di berbagai tempat di Amerika Serikat yang dikunjungi.

Presiden RI pertama, Soekarno dan istri kelimanya, Ratna Sari Dewi (kanan dan tengah).
Presiden RI pertama, Soekarno dan istri kelimanya, Ratna Sari Dewi (kanan dan tengah). ((HANDOVER) (Internet))

Sayangnya, Soekarno merasa tak diperlakukan dengan baik ketika di White House atau Gedung Putih.

Sistem protokol yang semestinya mempertemukan dengan Eisenhower pada pukul 10.00, mundur setengah jam.

Kemarahan memuncak, Soekarno pun mengancam akan meninggalkan Gedung Putih.

Namun, kondisi melunak ketika petugas protokoler Gedung Putih minta maaf.

Presiden Soekarno dan Presiden JF Kennedy di Gedung Putih, 12 September 1961.
Presiden Soekarno dan Presiden JF Kennedy di Gedung Putih, 12 September 1961. (Pinteres)

Eisenhower akhirnya keluar dan bertemu langsung dengan Soekarno.

Dalam buku Sukarno: An Autobiography (1966) yang ditulis Cindy Adams, Eisernhower ketika menemui Soekarno di Gedung Putih berupaya meminta maaf atas keterlambatan jadwal pertemuan.

Saat bertemu Eisenhower, Soekarno berusaha menjelaskan psikologi sosial pasca-perang bangsa-bangsa di Asia kepada Eisenhower, terutama melawan penjajah Eropa.

Namun, Eisenhower lebih tertarik berbicara tentang film daripada politik luar negeri AS.

Momen inilah yang menjadikan Soekarno dan Eisenhower tak memiliki hubungan baik.

Presiden RI pertama Soekarno dan Presiden Amerika Serikat Dwight David Eisenhower
Presiden RI pertama Soekarno dan Presiden Amerika Serikat Dwight David Eisenhower (Kolase/TribunJambi)

Soekarno memesona

Saat itu, kunjungan Soekarno di AS tak hanya untuk pertemuan dengan Eisenhower saja.

Dia juga diberikan kesempatan untuk berpidato di Kongres AS pada 17 Mei 1956.

Selama 45 menit, Soekarno berkisah tentang revolusi AS yang melawan jerat kolonialisme Inggris, dan menularkan semangat perjuangan negara lain

New York Times ketika itu menyoroti "Bahasa Inggris (Soekarno) yang jernih dan penuh semangat".

Soekarno juga menyampaikan terima kasihnya atas bantuan AS kepada Indonesia selama ini.

Dia juga menyebut Konferesi Asia-Afrika sebagai pertanda penolakan bangsa-bansa Asia-Afrika terhadap kolonialisme.

"Di dunia ini sebenarnya tak ada kelompok orang yang lebih malas mendengarkan pidato daripada Kongres Amerika. Namun setelah orang itu (Bung Karno) selesai pidato, secara spontan mereka berdiri dan bertepuk tangan karena merasa kagum akan pidatonya," ucap Asisten Menlu AS Walter Robertson.

Tepuk tangan mengakhiri pidato Soekarno di Kongres AS.

Presiden JF Kennedy dan Presiden Soekarno
Presiden JF Kennedy dan Presiden Soekarno (Pinteres)

Setelah itu, Pemerintah AS mempunyai harapan agar Indonesia condong ke negara Paman Sam (AS) itu ketimbang pengaruh komunisme yang dibawa Uni Soviet.

"Hanya George Washington saja yang pidatonya kepada Kongres lebih bagus daripada Soekarno," ujar Robertson.

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Kisah Soekarno Marah di Gedung Putih Amerika, Presiden AS Temui Bung Karno, Protokoler Minta Maaf

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved