Tentara Vietkong Bikin Kalang Kabut Amerika; Taktik Gerilya ala Jenderal Soedirman

TRIBUNJAMBI.COM- - Dalam Perang Vietnam (1955-1975) pasukan Vietnam Utara (North Vietnam Army/NVA)

Tentara Vietkong Bikin Kalang Kabut Amerika; Taktik Gerilya ala Jenderal Soedirman
dailymail.co.uk
Tentara Amerika Serikat 

Setelah pada menit-menit awal pasukannya berhasil membunuh puluhan Viet Cong, dalam pertempuran sengit yang berlangsung 25 menit, Letnan Herrick telah kehilangan lima orang anak buahnya.

Letnan Herrick yang sedang meminta bantuan lewat radio bahkan menyusul tewas setelah kepalnya dihantam peluru sniper Viet Cong.

Tapi pesan Letnan Herrick untuk meminta bantuan tembakan artileri dan gempuran udara ternyata diterima oleh Kapten Herren.

Ketika pasukan Viet Cong berhasil dipukul mundur, peleton Letnan Herrick kehilangan delapan personil prajurit dan 13 personil lainnya luka-luka.

Upaya untuk mengevakuasi korban yang tewas luka-luka tetap dilakukan kendati di bawah tembakan gencar musuh.

Nasib serupa juga dialami oleh Peleton III Alpha Company. Peleton III yang dipimpin oleh Letnan Bob Taft bertempur melawan sekitar 150 prajurit Viet Cong.

Kendati melawan musuh dalam jumlah lebih besar pasukan Peleton III berhasil mendesak Viet Cong dan kemudian mengejarnya.

Personil Peleton III serta merta melepas ransel punggungnya agar bisa lebih cepat lari mengejar musuh. Akibatnya Peleton III terputus dari induk pasukan dan masuk jebakan Viet Cong yang telah menyiapkan taktik hit and run.

Ketika sudah memasuki lingkaran jebakan, personil Peleton III dihujani tembakan dari arah kiri dan kanan.

Korban pun berjatuhan termasuk komandan peleton, Letnan Bob Taft.

Posisi Letnan Taft kemudian digantikan oleh anak buahnya, Sersan Lorenzo Nathan yang telah berpengalaman dalam Perang Korea.

Di bawah komando Sersan Nathan pasukan Peletonj III ternyata sanggup bertempur lebih baik dan berhasil memukul mundur pasukan musuh.

Personil Peleton III bahkan berhasil menyatukan diri dengan induk pasukan dan peleton lainnya yang kemudian bergerak maju untuk melancarkan serangan penghancuran terhadap posisi Vietcong.

Dengan persenjataan yang cocok untuk pertempuran jarak dekat seperti senapan mesin BAR dan peluncur granat, pasukan Bravo serta Alpha Company akhirnya berhasil menghancurkan sisa-sisa prajurit Vietcong yang terus melancarkan perlawanan sengit.

Ratusan personil Vietcong terbunuh dan dari salah satu mayat prajurit Viet Cong, personil Peleton III berhasil menyita dog tag atas nama Letnan Bob Taft yang mayatnya terpaksa ditinggalkan akibat gempuran sengit Viet Cong.

Jasad Letnan Bob Taft akhirnya berhasil dievakuasi meskipun tim SAR dan medis yang mengangkut tubuh Letnan Taft terus dihunjani tembakan saat menyeberangi sungai.

Untuk membantu pasukan Alpha dan Bravo Company yang kewalahan menghadapi musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak, pasukan baru pun terus di datangkan di lokasi pendaratan LZ-X Ray dan LZ-Albany, yakni satuan Charlie dan Delta Company.

Kehadiran dua kompi pasukan yang masih segar itu dengan cepat merubah peta pertempuran karena pasukan Vietcong dan NVA makin terdesak dan memilih untuk bergerak mundur.

Seluruh kompi pasukan AS lalu dengan cepat membangun formasi perimeter pagar betis yang sulit ditembus, pertahanan melingkar 360 derajat.

Formasi tempur pagar betis antigerilya ini pernah diterapkan oleh pasukan TNI ketika berperang melawan pasukan DI/TII pimpinan Karto Suwiryo yang menerapkan perang secara gerilya.

Kendati perimeter yang dibangun pasukan AS cukup kuat pasukan NVA yang jumlahnya seperti tak pernah habis tetap saja melancarkan serangan hit and run dan berhasil menimbulkan kerugian cukup besar.

Serangan pasukan NVA ditujukan kepada Alpha dan Delta Company serta berlangsung dalam jarak dekat.

Puluhan korban tewas dan luka termasuk komandan Delta Company, Kapten Ray Lefebvre.

Serangan balasan pasukan AS bahkan menemui kendala karena pasukan NVA ternyata meiliki bunker yang sulit dihancurkan oleh senjata antitank, Light Antitank Weapon (LAW).

Pertempuran yang berlangsung hingga malam tiba bahkan menimbulkan korban jiwa yang makin besar bagi pasukan AS.

Taktik pertahanan melingkar yang dibangun oleh pasukan AS ternyata rapuh karena pasukan NVA justru menyerang pada titik-titik lemah perimeter.

Dalam pertempuran berlangsung semalam sebanyak 47 personil Bravo Company gugur, satu diantaranya adalah perwira. Sementara Alpha Company kehilangan 34 korban tewas dan tiga diantaranya prajurit berpangkat perwira.

Esok harinya pertempuran terus berlanjut. Pasukan AS yang dilengkapi senapan mesin berat M-60 berusaha keras mendesak Vietcong dan NVA yang tanpa henti terus datang menggempur.

Pesawat tempur seperti F-100 Super Sabre pun dikerahkan dan menjatuhkan bom-bomNapalm kea rah pasukan Vietcong serta NVA.

Pertempuran di Ia Drang yang berlangsung lima hari itu dan kedua belah pihak saling menerapkan taktik perang ala gerilya RI itu akhirnya memang berhasil memukul mundur pasukan Vietcong dan NVA.

Tapi pasukan AS harus membayar mahal karena sebanyak 307 personil tewas dan 524 personil lainnya luka-luka.

Sedangkan pasukan Vietcong dan NVA yang tewas sebanyak 1.519 personil.

Editor: ridwan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved