Kenapa Ada Orang yang Tertarik Melakukan 'Jihad dengan Kekerasan'?

Ratusan, mungkin ribuan, calon jihadis menjadi bingung dan ingin pulang ke negara asal meskipun terdapat ketakutan akan ditangkap dan dipenjara.

Kenapa Ada Orang yang Tertarik Melakukan 'Jihad dengan Kekerasan'?
(RT News/AFP)
ISIS. (RT News/AFP). 

Selama hampir 20 tahun internet dibanjiri berbagai video propaganda mengerikan, sebagian memperlihatkan penderitaan Muslim di berbagai tempat di dunia, yang lainnya menunjukkan serangan balas dendam dan hukuman terhadap orang-orang yang dipandang sebagai musuh.

Hal ini untuk mencapai dua tujuan.

Pertama, untuk membangkitkan simpati dan bahkan rasa malu orang-orang yang menonton dengan nyaman di rumah mereka lewat komputer jinjing sementara "saudara laki-laki dan perempuan mereka dibunuh" di Suriah, Chechnya atau wilayah Palestina, misalnya.

Kedua, video balas dendam terutama menarik perhatian orang-orang bersifat sadis, sering kali yang telah tercatat sebagai penjahat.

Tekanan masyarakat sekitar dapat menjadi pemicu, yang membuat seseorang yang tadinya hanya sekadar marah dengan berbagai kejadian dunia menjadi pelaku kekerasan.

Di Yordania, saya mewawancarai seorang tahanan di penjara yang dipengaruhi teman dekatnya dari sekolah untuk datang dan bergabung dengannya dengan ISIS di Suriah.

Dia melakukannya dan kemudian menyesalinya. Dia melarikan diri kembali ke Yordania dan kemudian dihukum penjara selama lima tahun.

Orang-orang yang rentan direkrut adalah anak laki-laki dan perempuan muda yang terasing dari keluarga atau masyarakatnya.

Bagi mereka, menjadi bagian dari sebuah organisasi rahasia dan ilegal yang sepertinya menghargai mereka, adalah sebuah pilihan yang menarik, bahkan jika ini berakhir dengan perintah untuk memakai rompi bunuh diri dan meledakkan diri mereka di pasar.

Lebih dari 20 orang meninggal dunia dalam serangan di Nairobi tanggal 15 Januari 2019.
Lebih dari 20 orang meninggal dunia dalam serangan di Nairobi tanggal 15 Januari 2019. (REUTERS)

Tata kelola pemerintahan yang buruk

Halaman
1234
Editor: suci
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved