Kehebatan Kopassus Tumpas Komunis, Sarwo Edhie dan Pasukan Pernah Kepung Istana Presiden

TRIBUNJAMBI.COM - Setiap kali September tiba, Republik ini hampir selalu dipanaskan dengan hiruk pikuk isu

Editor: ridwan
Soeharto dan Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo 

Ia adalah ayah dari Kristiani Herrawati, ibu negara Republik Indonesia dan istri mantan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Ia juga ayah dari mantan KSAD, Pramono Edhie Wibowo.

Sarwo Edhie memiliki peran yang sangat besar dalam penumpasan Pemberontakan Gerakan 30 September dalam posisinya sebagai panglima RPKAD (atau disebut Kopassus pada saat ini).

Selain itu ia pernah menjabat juga sebagai Ketua BP-7 Pusat, Duta besar Indonesia untuk Korea Selatan serta menjadi Gubernur AKABRI.

Dorongan Ahmad Yani

Sarwo Edhie lahir di Purworejo, Jawa Tengah dari keluarga PNS yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda.

Sebagai seorang anak, ia belajar silat sebagai bentuk pertahanan diri.

Saat ia tumbuh, Sarwo Edhie membentuk kekaguman terhadap Tentara Jepang dan kemenangan mereka melawan Pasukan Sekutu yang ditempatkan di Pasifik dan Asia.

Baca: Tambah Kuota, Total Jamaah Calon Haji Batanghari Tahun 2019 Menjadi 145 Kursi, Tambah 36 Kursi

Pada tahun 1942, ketika Jepang menguasai Indonesia, Sarwo Edhie pergi ke Surabaya untuk mendaftarkan diri sebagai prajurit Pembela Tanah Air (PETA), yang merupakan kekuatan tambahan Jepang yang terdiri dari tentara Indonesia.

Sarwo Edhie kecewa karena tugas-tugasnya selama periode ini sebagian besar hanya memotong rumput, membersihkan toilet, dan membuat tempat tidur bagi perwira Jepang.

Ketika dia berlatih, Sarwo Edhie harus menggunakan senjata kayu.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Sarwo Edhie bergabung dengan BKR, sebuah organisasi milisi yang akan menjadi cikal bakal ABRI (Tentara Nasional Indonesia saat ini) dan membentuk batalion. Namun, usaha itu gagal dan batalion bubar.

Teman satu kampung halamannya, Ahmad Yani yang mendorongnya untuk terus menjadi seorang tentara dan mengundangnya untuk bergabung dengan Batalion di Magelang, Jawa Tengah.

Karier di ABRI

Karier Sarwo Edhie di ABRI, dia pernah menjadi Komandan Batalion di Divisi Diponegoro (1945-1951), Komandan Resimen Divisi Diponegoro (1951-1953), Wakil Komandan Resimen di Akademi Militer Nasional (1959-1961), Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) (1962-1964), dan Komandan RPKAD (1964-1967).

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved