Setahun, Tercatat Ada 346 Kasus, Konflik Manusia dengan Gajah di Jambi

"Tapi, kadang memang ada masyarakat yang terlalu berani dan itu bisa berisiko terhadap mereka sendiri," bilang dia.

Setahun, Tercatat Ada 346 Kasus, Konflik Manusia dengan Gajah di Jambi
Tribunjambi/Heri Prihartono
Korban Abdullah, saat akan dibawa ambulan untuk berobat 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Heri Prihartono

TRIBUN JAMBI.COM, TEBO - Populasi gajah di Kabupaten Tebo, saat ini diperkirakan sekitar 143 ekor yang terdiri tujuh kelompok di landsekap Bukit Tigapuluh.

Sementara itu, data konflik sepanjang 2018 antara gajah dengan manusia mencapai 346 kasus.

Koordinator lapangan Frankfrut Zoological Society (FZS) Albert, kepada Tribunjambi.com menyebut, jika satwa dilindungi tersebut tidak berniat untuk menyerang manusia.

Gajah merupakan satwa sosial yang tidak menyerang, jika ada ancaman terhadap kelompoknya.

Baca: Banjir Air Laut Pasang di Tanjabtim, Mulai Menggenangi Pemukiman dan Jalan, BPBD Imbau Warga Waspada

Baca: Indonesia Semakin Berat Jadi Tuan Rumah MotoGP, Karena Filipina Bangun Sirkuit Balap Kelas Dunia

Baca: Dilema Perekrutan PPPK, Ribuan Honorer di Sarolangun, Terancam Dirumahkan

"Gajah adalah satwa sosial, gajah tidak akan menyerang manusia terkecuali dalam posisi ada ancaman," jelas Albert.

Menurut Albert, gajah menyerang manusia juga dilatarbelakangi adanya upaya penggiringan yang salah.

"Bisa jadi masyarakat melakukan penggiringan dari semua sisi dan menyebabkan gajah bingung untuk mencari jalur, atau posisinya masyarakat terlampau dekat dengan posisi gajahnya sehingga tidak lari atau mencari tempat perlindungan," papar Albert.

Baca: Kembangkan Penanaman Kopi ke Kelompok Tani, Pemkab Kerinci Juga Siapkan Bibit Kopi untuk Perorangan

Baca: Sandiaga Beri Respon Soal Kebebasan Ahok dari Penjara, Hingga Bukti BTP Tak Pilih Jokowi & Prabowo

Baca: Mulai 1 Januari 2019, Pengguna 27 Ponsel Jenis Ini Tak Bisa Gunakan Aplikasi WhatsApp!

Masyarakat kata Albert, biasanya mencoba mengusir gajah dengan membuat suara keras atau teriakan, meriam karbit, dan
marcon.

Namun ada dalam satu kasus di mana manusia terlalu berani mengambil resiko terhadap keberadaan gajah.

"Tapi, kadang memang ada masyarakat yang terlalu berani dan itu bisa berisiko terhadap mereka sendiri," bilang dia.

Namun secara umum penyebab gajah mulai berada di perkebunan dan pemukiman warga, dikarenakan sebagian besar berubahnya tutupan hutan, yang dulu hutan masih ada tempat satwa bermain menjadi perkebunan masyarakat dan perusahaan.(*)

Penulis: heri prihartono
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved