Kopi Pagi

Mulutmu, Harimaumu, Waspadalah Waspadalah

Dahulu pernah populer istilah "mulutmu harimaumu". Kata-kata tersebut dipopulerkan oleh sebuah iklan. Dalam berkata kita memang harus bijak

Mulutmu, Harimaumu, Waspadalah Waspadalah
Ilustrasi 

SARAPAN pagi ini aku kepedasan. Pating crekit di mulut. Huweh..huweh, mulut terbuka sedikit, udara kusedot cepat-cepat, deras, lalu buru-buru kulepaskan. Sedikit terasa isis. Lumayan mengurangi rasa panas.

Adonan cabe dengan bawang putih dan garam sangat menggodaku. Warnanya merah, tidak lembut, bahkan cabikan cabe merahnya masih terlihat. Selebar satu sentimeter, menjadi daya tarik tersendiri.

Tak perlu beraneka ragam lauk untuk menemani nasi putih, pagi ini. Cukup tempe, plus ikan asin. Itu sudah cukup membuat keringat bagai rintik hujan membasahi kening.

Makanan boleh bercabe dan membuat seluruh rongga mulut pedas. Tapi dalam berkata-kata, kata
bapakku, jangan sampai terasa pedas bagi orang yang mendengarnya.

Baca: Saddil Ramdani Resmi Dicoret dari Timnas Indonesia, Begini Penjelasan Asisten Pelatih

Baca: Penyelam yang Cari Puing Lion Air JT610 Meninggal Dunia, Ini Unggahan Sang Istri Tunggu Aku. . .

Kalau ngomong yang santun, jangan menusuk hati orang lain, apa pun tema omongannya. Lagi marah pun juga berkatalah dengan pilihan kata yang biasa. Focus pada kemarahan, dan tidak mengumbar nama-nama hewan, atau menyebut nama lain yang tidak ada hubungannya.

Dengan demikian, semoga orang lain bisa menerima dan tahu arah kemarahan atau sindiran atau maksud kita. "Korban" omongan kita semoga juga tidak dendam karena kita tidak merendahkannya atau menyamakannya dengan hewan-hewan yang ada.

Dulu, sebuah iklan rokok pernah berbunyi " mulutmu harimaumu". Maksudnya, kita disuruh berhati-hati dalam berkata-kata. Karena kata-kata yang kita keluarkan pada waktu itu, seringkali justru menyeret kita pada persoalan hukum.

Baca: Kopi Tubruk, Apa Sih Itu, Gimana Bikinnya Ya?

Baca: Begini Strategi Marc Marquez Tambah Kecepatan Hadapi MotoGP Malaysia

Banyak contohnya deh.
Huweh.....Huweh......Jang****k, kam****"t, a**u, ce***g, pedesnya kok nggak ilang-ilang ya!!!????

Eh, eh, sori, kenapa harus kujadikan hewan-hewan itu kambing hitam kepedasanku? Sori ya wan, hewan. Hidup memang terkadang pedas.

Tapi ketika “kepedasan” tetap jaga bibir. Karena mulutmu seringkali bisa menjadi harimaumu. (RHR Dodi Sarjana) ****

Penulis: Dodi Sarjana
Editor: Dodi Sarjana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved