Ketika Kopassus dan Marinir Siap Saling Serang, Beruntung Ada Benny yang Melerai
Bentrok terjadi di dekat markas KKO, RPKAD yang kalah jumlah lalu mengontak teman-teman mereka di Cijantung.
TRIBUNJAMBI.COM - TNI yang terdiri dari tiga matra darat, laut dan udara memiliki pasukan yang siap diterjunkan untuk membela NKRI.
Pasukan-pasukan tersebut siap mati untuk membela tanah air dan bangsa.
Namun apa jadinya jika pasukan TNI tersebut saling berhadap-hadapan, dan siap saling serang.
Sejarah mencatat hal tersebut pernah terjadi.
Ketika anggota RPKAD yang sekarang bernama Kopassus baku hantam dengan anggota KKO yang sekarang bernama Marinir.
Dalam buku yang ditulis Julius Pour Benny Tragedi Seorang Loyalis baku hantam terjadi antara RPKAD dan KKO di Lapangan Benteng.
Tahun 1964 kedua pasukan bersitegang gara-gara saling ejek ketika mereka sama-sama latihan di Lapangan Banteng.
Baca: 10 Menit Lumpuhkan Teroris, Inilah Empat Kemampuan Mematikan Yontaifib yang Setara Kopassus
Pasukan KKO waktu itu latihan baris-berbaris, sementara pasukan RPKAD latihan mengemudi mobil.
Entah siapa yang memulai lebih dulu saling ejek terjadi antara kedua pasukan.
Dan bentrok pun tak terhindarkan, masyarakat ketakutan, suasana ibu kota mencekam.
Bentrok terjadi di dekat markas KKO, RPKAD yang kalah jumlah lalu mengontak teman-teman mereka di Cijantung.
Tak pelak bala bantuan pun turun, pasukan RPKAD yang menumpang truk melakukan konvoi menuju lokasi perkelahian.
Tak hanya saling pukul kedua pasukan bahkan mempersiapkan senjata masing-masing, mulai dari sangkur, senapan serbu bahkan bazooka siap diarahkan kepada sesama pasukan TNI ini.
Baca: Cara Kopassus Masuk dan Operasi di Negara Lain, Lebih Dihormati Dibanding Pasukan AS dan Israel
Dalam bukunya Julius Pour menggambarkan kawasan Kwini hingga Senen, Jakarta Pusat berubah mencekam.
Masyarakat was-was bentrok antar pasukan TNI tersebut pecah dan terjadi kontak senjata.
Dikisahkan saat itu Komandan Batalyon I RPKAD Mayor Benny Moerdani baru pulang main tenis dari Senayan.
Masih mengenakan seragam olahraga Benny menduga ada yang tak beres saat melihat iring-iringan truk RPKAD penuh sesak oleh tentara.
Tak berseragam konvoi RPKAD dari Batalyon II tersebut meninggalkan markas dengan tergesa-gesa.
Benny kemudian berusaha mengejar konvoi truk itu.
Baca: Rahasia Ilmu Hantu Kopassus yang Bikin Prajurit AS Kebingungan, Jenderalnya Sampai Ketakutan
Di sepanjang jalan masyarakat terlihat panik, Benny pun berhenti dan menanyakan apa yang terjadi kepada warga.
Warga yang terlihat ketakutan menjawab bahwa telah terjadi baku hantam antara RPKAD dan KKO.
Dan benar saja, saat mengecek ke RSPAD Benny melihat korban berjatuhan dari kedua belah pihak.
Melihat hal ini Benny yang berusaha ingin melerai pertikaian pergi ke asrama KKO Kwini.
Tanpa membawa senjata dan hanya menggunakan pakaian olahraga tanpa takut Komandan RPKAD ini masuk ke asrama KKO yanng notabene tengah gontok-gontokan dengan RPKAD.
Sampai di pos jaga dia melihat puluhan Tjakrabirawa eks KKO siap tempur dengan senjata terkokang.
Di pos tersebut seorang serdadu KKO memberi hormat kepada Benny, rupanya serdadu tersebut bekas anak buahnya saat Operasi Trikora di Irian Barat.
Akhirnya prajurit tersebut diminta untuk memanggil komandan mereka.
Baca: Kisah Marinir Kebal yang Tak Luka-luka Walau Kena Bacokan Parang Begal dan Buat Heboh Medsos
Saat sang komandan keluar ternyata merupakan teman akrab Benny waktu di Solo. Dia adalah Mayor Saminu, Komandan Batalyon II Resimen Tjakrabirawa.
Akhirnya terjadi perbincangan antara dua komandan tersebut, Benny pun meminta kepada Saminu agar pasukan KKO tidak keluar asrama, sementara pasukan RPKAD yang ada di luar Dia yang akan mengurusnya.
"Sudahlah. Jaga pasukanmu, jangan keluar asrama. Saya akan tertibkan anak-anak yang di sana. Kalau kamu diserang silakan saja, mau nembak atau apa. Terserah. Tapi saya minta jangan ada anggotamu yang keluar asrama," ujar Benny.
Benny pun bergegas keluar asrama. RPKAD yang telah siap tempur telah menduduki asrama perawat putri, mereka terlihat telah siap melakukan serangan.
Apalagi saat mendengar kabar Benny komandan RPKAD ditangkap KKO.
Namun mereka kaget bukannya anggota KKO yang keluar malah Benny yang muncul dan memarahi mereka.
"Sudah, sudah. Pulang kalian semua," teriak Benny. RPKAD ini kebingungan.
Benny yang berteriak meminta RPKAD pulang ke markas juga mendorong para tentara tersebut untuk masuk kembali ke dalam truk.
Dalam tulisannya Julius Pour menggambarkan warga yang ketakutan juga bingung melihat para tentara yang garang siap tempur ini melerai perkelahian antar pasukan elite TNI ini.
Pria bercelana pendek dan berkaus ini omongannya langsung dituruti pasukan RPKAD.
Mereka tidak tahu bahwa pria itu adalah Benny Moerdani, sosok pemimpin gerilya di operasi Trikora yang nantinya akan menjadi Panglima ABRI.