Editorial

Tangkapan Besar KPK

Penangkapan OTT dari level pemerintahan tertinggi, dalam hal ini pemerintahan pusat sudah cukup lama tidak terdengar

Tangkapan Besar KPK
(KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO)
Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat memberikan keterangan pers di gedung KPK, Jakarta Selatan, Sabtu (14/7/2018) 

SETELAH 'berkeliling' melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di sejumlah daerah di Indonesia, Jumat (13/7) KPK menangkapWakil Ketua Komisi VII DPR-RI, Eni Maulani Saragih. Menariknya lokasi pengamanan Eni di rumah dinas Menteri Sosial Idrus Marham. Alhasil, berbagai spekulasi pun mengapung.

Penangkapan OTT dari level pemerintahan tertinggi, dalam hal ini pemerintahan pusat sudah cukup lama tidak terdengar. Apalagi terjadi di rumah dinas seorang menteri di era Jokowi, nyaris belum ada pejabat selevel menteri diseret/terseret kasus dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Sebaliknya, dari kalangan legislatif cukup sering terdengar.

Dan setiap OTT oleh KPK selalu saja ada tindaklanjutnya. Jika anggota dewan tertangkap menerima suap tentu ada penyuapnya. Dan di antara anggota dewan dengan pihak pemberi suap tentu ada eksekutifnya. Ketiga pihak ini saling mempunyai keterkaitan satu sama lain, karena biasanya suap terjadi untuk memuluskan proyek bagi pihak ketiga, sementara eksekutif dan legislatif sebagai pihak pengambil keputusan.

Eni tertangkap atas dugaan menerima uang Rp 4,5 miliar dari Johannes Budisutrisno Kotjo untuk memuluskan proses penandatanganan kerja sama terkait pembangunan PLTU Riau-1. Johannes Budisutrisno Kotjo merupakan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited.
Kasus penangkapan ini tambah menarik karena Eni merupakan istri Bupati Temanggung terpilih, M Al Khadziq. Namun Khadziq kemudian diperbolehkan pulang setelah diperiksa, dan statusnya masih sebagai saksi.

Bagaimana dengan pihak eksekutif? Sesuai prosedurnya, KPK kemarin telah melakukan penggeledahan di rumah dinas Dirut PLN Sofyan Basir di Jalan Taman Bendungan Jatiluhur II, Bendungan Hilir, Jakarta. Penggeledahan dilakukan penyidik sejak Minggu pagi.

Sekitar pukul 19.00 WIB, lima orang penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terlihat membawa empat kardus air mineral dan tiga koper hitam dari dalam rumah Dirut PLN Sofyan Basir.
Selain di rumah dinas Dirut PLN, penyidik KPK juga melakukan penggeledahan di rumah Eni dan kantor tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo, apartemen Johannes Budisutrisno Kotjo, dan rumah Johannes Budisutrisno Kotjo.

Segala hal masih mungkin terjadi, jumlah tersangka pun masih bisa bertambah. Kita tunggu saja tindaklanjut dari pemeriksaan/penyidikan KPK yang juga nyaris 'tak pernah salah' menangkap tersangka.
Semoga saja, kasus ini tidak menghambat Program kelistrikan 35 ribu Mega Watt (MW) yang digagas Pemerintahan Jokowi/JK, sehingga seluruh penjuru negeri ini ke depannya tetap dapat menikmati energi listrik.(*)

Editor: deddy
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved