Black Out Munir, Hikayat Kematian Munir yang Dipentaskan Teater Payung Hitam
Ketika lampu ruangan teater itu dipadamkan, pertunjukan dimulai. Orang-orang telah memadati gedung teater Taman Budaya Jambi,
Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Fifi Suryani
Namun tidak berjumpa.
Dua orang lain melanjutkan drama. Pembawa wajah Munir dan pencari berkas berkeliling panggung, membawa lilin.
Diperhatikannya beberapa wajah penonton, seolah mencari wajah yang sama dengan yang ada di lukisan. Tapi tiada yang sama.
Berkali-kali, berulang-ulang adegan mencari Munir itu didramakan. Mereka seolah-olah terus mencari Munir. Namun, pada akhirnya, Munir tak pernah ditemukan.
Baca: Warga Semalaman Tak Tidur - Hingga Sore Ini 87 Rumah, 1 Puskesmas, dan 1 Mesjid Terendam
Baca: Bakti Sosial ke Permukiman SAD - Tiap Rumah Digalikan Satu Lubang
Baca: Warga Kayu Aro Gotong-royong Perbaiki Jalan Nasional
Lampu sorot padam. Pertunjukan selesai. Riuh tepuk tangan terdengar kemudian, seiring lampu kembali menyala.
Satu di penonton, Bowo mengatakan, teater yang ditampilkan luar biasa.
"Mantap nian penampilannya. Tadi itu saya kira apa yang bunyi. Tapi memang harus tahu kita maksud yang disampaikan itu," ujarnya.
Menurut satu di antara pemeran teater, Wail, teater itu mengangkat kritik atas penggelapan kasus Munir.
"Memang sengaja kami angkat tema 'Black Out'. Itu artinya, ada yang disembunyikan. Gelap. Benar-benar hitam, begitu. Hilang begitu saja," katanya.
Ditambahkannya, teater yang ditampilkan juga diharapkan agar membawa titik terang terhadap kasus Munir khususnya, dan keseluruhan orang umumnya.
"Agar ke depannya, jangan ada lagi kasus seperti itu yang terulang lagi," katanya.
Baca: BREAKING NEWS: Atek, Warga Dusun Babeko yang Tenggelam Ditemukan