Kebun Raya Bogor, Sejarah Panjang dari Prabu Siliwangi sampai Raffles, Tertua di Asia Tenggara

... diperkirakan telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi, pada 1474-1513, dari Kerajaan Sunda.

Penulis: Duanto AS | Editor: Duanto AS
wikipedia
Kebun Raya Bogor. 

TRIBUNJAMBI.COM - Pernahkah Anda ke Kebun Raya Bogor (KRB)? Ternyata, tempat ini merupakan Kebun Raya tertua se-Asia Tenggara. Usianya sudah 200 tahun.

Sejarah tempat yang terkenal memiliki koleksi tumbuhan lengkap ini menarik. Penelusuran tribunjambi.com di situs wikipedia, kebun tempat ini telah ada sejak zaman Kerajaan Sunda, pada awal 1400-an.

Situs itu menuliskan Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari 'samida', hutan buatan atau taman buatan, yang diperkirakan telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi, pada 1474-1513, dari Kerajaan Sunda.

Peta Kebun Raya Bogor
Peta Kebun Raya Bogor (wikipedia)

Sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka. Di samping samida itu, dibuat pula samida yang serupa di perbatasan Cianjur dengan Bogor (Hutan Ciung Wanara). Hutan ini kemudian dibiarkan setelah Kerajaan Sunda takluk dari Kesultanan Banten. Hingga akhirnya Gubernur Jenderal van der Capellen membangun rumah peristirahatan di satu di antara sudutnya, pada pertengahan abad ke-18.

Pada awal 1800-an, Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, yang mendiami Istana Bogor, memiliki minat besar dalam botani. Dia tertarik mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik. Dengan bantuan para ahli botani, W Kent, yang ikut membangun Kew Garden di London, Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya sekarang.

Monumen Olivia Raffles
Monumen Olivia Raffles (wikipedia)

Pada tahun 1814 Olivia Raffles (istri dari Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles) meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan di Batavia. Sebagai pengabadian, monumen untuknya didirikan di Kebun Raya Bogor.

Ide Pendirian Kebun Raya Muncul

Ide pendirian Kebun Raya bermula dari seorang ahli biologi bernama Abner, yang menulis surat kepada Gubernur Jenderal G A G Ph van der Capellen. Dalam surat itu terungkap keinginannya untuk meminta sebidang tanah yang akan dijadikan kebun tumbuhan yang berguna, tempat pendidikan guru, dan koleksi tumbuhan bagi pengembangan kebun-kebun yang lain.

Prof Caspar Georg Karl Reinwardt, seseorang berkebangsaan Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi ilmuwan botani dan kimia. Ia lalu diangkat menjadi menteri bidang pertanian, seni, dan ilmu pengetahuan di Jawa dan sekitarnya. Ia tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk pengobatan. Ia memutuskan untuk mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa Belanda yang berarti "tidak perlu khawatir"). Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense.

Kemudian, pada 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pendirian itu diawali dengan menancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran sebagai pertanda dibangunnya pembangunan kebun itu, yang pelaksanaannya dipimpin Reinwardt sendiri, dibantu James Hooper dan W. Kent (dari Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond, Inggris).

Bunga bangkai
Bunga bangkai (wikipedia)

Sekira 47 hektare tanah di sekitar Istana Bogor dan bekas samida dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817-1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut.

Pada 1822, Reinwardt kembali ke Belanda dan digantikan Dr Carl Ludwig Blume yang melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh di kebun. Ia juga menyusun katalog kebun yang pertama berhasil dicatat sebanyak 912 jenis (spesies) tanaman. Pelaksanaan pembangunan kebun pernah terhenti karena kekurangan dana tetapi kemudian dirintis lagi Johannes Elias Teysmann (1831), seorang ahli kebun istana Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Dengan dibantu oleh Justus Karl Hasskarl, ia melakukan pengaturan penanaman tanaman koleksi dengan mengelompokkan menurut suku (familia).

Teysmann kemudian digantikan Dr Rudolph Herman Christiaan Carel Scheffer, pada 1867, menjadi direktur. Kemudian, dilanjutkan kemudian Prof Dr Melchior Treub.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Indonesia
Pendirian Kebun Raya Bogor bisa dikatakan mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dari sini lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan lain, seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894).

Pada 30 Mei 1868, Kebun Raya Bogor secara resmi terpisah pengurusannya dengan halaman Istana Bogor.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved