Idul Adha, Lemang Tak Dijual
Pudai megunggah gambar dirinya sedang menikmati lemang di sebuah grup wassap. Komentar pun berdatangan dari kawan-kawannya.
Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: rida
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Jaka HB
TRIBUNJAMBI.COM. MUARA BUNGO - Pudai megunggah gambar dirinya sedang menikmati lemang di sebuah grup wassap. Komentar pun berdatangan dari kawan-kawannya.
“Dak dijual dak ni. Cuma untuk konsumsi keluarga, kalau mau datang be ke rumah,” tulisnya diikuti simbol emosi tertawa, Kamis (31/8).
Tawaran Pudai mengundang banyak komentar dan candaan. Akhirnya kawan-kawannya di grup sepakat untuk bertandang ke rumah Pudai yang berada di Dusun Tenam. Tak jauh dari Muara Bungo.
Jumat (1/9) pun datang, Pudai melaksanakan salat idul adha di dusunnya. Sementara kawan-kawaannya sudah menginstruksikan untuk berkumpul di Muara Bungo dan berangkat bersama ke rumah Pudai. Meski pun ada yang menyusul akhirnya.
“Ngumpul dimano? Aku sudah didusun,” kata Ramadhan di grup yang sama.
“Jangan lupa bawa duren kalau ado,” jawab Pudai diikuti emotikon tertawa.
Menjelang sore mereka sudah berkumpul di rumah Pudai. Mereka berbincang sembari menikmati lemang yang sudah jadi sejak malam sebelumnya.
Pudai pun langsung meletakkan dua piring lemang dan sepiring semangka kuning. Gelas-gelas pun dikeluarkan dan serta satu teko air putih dan satu teko kopi dan satu tempat wadah cuci tangan kaca.
“Bukan lemangnya. Tapi silaturahminya yang penting. Tapi alhamdulillah ada lemang pula. Jadi dua-duanya jalan,” canda Supri diikuti tawa kawan-kawannya.
Lemang sudah lama sekali menjadi makanan wajib di dusun-dusun Bungo. Terlebih dalam menyambut idul adha.
Membuat lemang jadi pilihan utama warga dusun. Seperti yang dikatakan Pudai, warga Dusun Tenam, lemang tidak dijual dan menjadi menu utama yang disajikan untuk keluarga besar atau pun tamu yang akan datang.
Proses pembuatan lemang ini memakan waktu 4 hingga 5 jam. Beras pulut atau beras ketan dibungkus daun pisang muda dan dimasukkan dalam wadah bambu.
Bambu yang berisi beras ketan tersebut dipanaskan dari kiri dan kanan dengan api secukupnya.
Saudah, seorang ibu rumah tangga di Sungai Lilin mengatakan tradisi ini sudah sejak lama. Secara turun temurun. “Saat menyambut hari raya,” katanya ketika memasak lemang disamping rumah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/01092017_lemang_20170901_213713.jpg)