EDITORIAL
Delapan Bulan Belajar di Laboratorium
Bahkan bangunan tersebut sudah ambruk delapan bulan silam, tapi sejauh ini belum ada tanda-tanda mau diperbaiki.
POTRET buram dunia pendidikan di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini masih menyisakan sederet cerita pilu. Infrastruktur pendidikan yang seyogyanya menjadi pilar utama untuk mendukung kegiatan belajar mengajar (KBM), justru mengalami kerusakan parah.
Bahkan bangunan tersebut sudah ambruk delapan bulan silam, tapi sejauh ini belum ada tanda- tanda mau diperbaiki.
Bangunan sekolah dimaksud adalah, dua ruang belajar di SMA Negeri 7 Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi. Keberadaan satu-satunya SMA Negeri di seberang kota ini adalah vital, membawahi Kecamatan Danau Teluk, dan Pelayangan.
Kita belum tahu persis, kenapa kok bangunan panggung terbuat dari papan yang ambruk termakan usia tersebut, belum ada upaya renovasi dari pihak berkompeten. Padahal kita tahu bahwa sektor pendidikan adalah menjadi perhatian pemerintah. Secara nasional anggaran pendidikan dari tahun ke tahun terus bertambah.
Asal tahu saja, tahun 2017 belanja pendidikan naik dua kali lipat dari Rp 200 triliun naik menjadi Rp 400 triliun.
Seperti disebut Menteri Keuangan Sri Mulyani di kesempatan membuka seminar di DPR akhir Februari lalu, belanja pendidikan 2016 lalu Rp 200 triliun, dan sekarang Rp 400 triliun. Sri balik bertanya, apakah dengan belanja dua kali lipat, kualitas pendidikan juga naik dua kali lipat?
Bicara tentang pendidikan tidak pernah habis, selalu saja ada halaman satu, halaman dua, dan halaman selanjutnya. Pemerintah pusat fokus sektor ini, dan satu diantara program prioritas mengingat langsung menyentuh kepada hajat hidup orang banyak, selain di sana memang ada "investasi" sumber daya manusia (SDM).
Ya, dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang oke punya, maka tidak saja menyiapkan tenaga pendidikan handal, fasilitas pendidikan, tapi juga membangun infrastruktur pendidikan yang memadai.
Bagaimana pula kita mau mendapatkan hasil maksimal dari SDM tunas bangsa, kalau saja bangunan sekolah yang ambruk sudah 8 bulan dibiarkan saja. Tidak ada alasan lagi, perbaikan bangunan yang ambruk adalah harga mati. Apapunlah caranya pengambil kebijakan segera singsingkan lengan bajunya. Kan pilu kita melihat potret buram 72 orang siswa SMAN 7 yang harus belajar di ruang perpustakaan dan laboratorium yang bukan peruntukannya.
Dengarlah ratapan Kepala SMAN 7 Samuri bahwa sekolah yang berada di dua kecamatan, yaitu Danau Teluk dan Pelayangan itu sudah uzur, dibangun sejak 1984. Wah, wah, sudah ternyata sudah gaek ya dan wajarlah ambruk.
Pendidikan adalah "investasi" masa depan. Pendidikan menjadi tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Membangun manusia seutuhnya tidak cuma andalkan aspek ekonomi, tapi yang lebih penting menggeber aspek pendidikan secara universal. Artinya akar permasalahan dari kemiskinan adalah buruknya pendidikan masyarakat suatu bangsa.
Nah, masihkah kita mau membiarkan tempat cikal bakal putra-putri terbaik bangsa ini menimba ilmu dibiarkan ambruk? Tidak kah, tuan-tuan yang ada di singgasana, dan tuan wakil rakyat sedih melihat nasib 72 siswa SMAN 7 sudah 8 bulan belajar di perpustakaan dan laboratorium? Ah, semoga sajalah ini bisa menjadi perhatian. (*)