Sabtu, 9 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Kisah Santri di Sebrang, Lebih Betah di Pesantren Ketimbang di Rumah

Jambi Sebrang Kota Jambi dikenal sebagai kota santri. Sesuai dengan namanya, Jambi sebrang memang banyak terdapat pondok pesantren.

Tayang:
Penulis: Muzakkir | Editor: Nani Rachmaini
TRIBUNJAMBI/MUZAKKIR
Ilustrasi. Ratusan orang pemuda di Tahtul Yaman membaca Alquran ikut meriahkan kegiatan Nusantara Mengaji, Sabtu (7/5) 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI -- Jambi Sebrang Kota Jambi dikenal sebagai kota santri. Sesuai dengan namanya, Jambi sebrang memang banyak terdapat pondok pesantren.

‎Pondok pesantren di Jambi Sebrang bukan hal yang baru, namun sebelum Indonesia merdeka, di sini sudah banyak berdiri pondok pesantren.

Di kala puasa, kebanyakan anak sekolah-sekolah libur dan menikmati hari liburnya bersama orangtua, mereka menikmati fasilitas dan kemewahan yang disediakan oleh keluarga mereka. Namun hal itu tidak berlaku bagi santri-santri yang tengah mondok di Pesantren.

Di kala puasa seperti ini, para santri khusuk menjalankannya. Mereka mengisi hari-hari mereka dengan ibadah, seperti mengaji Alquran, solawat, berdzikir dan sebagainya.

Seperti yang diungkapkan oleh Abdullah santri Pondok Pesantren Almubarok Jambi Sebrang. Menurut dia, setiap puasa, ia bersama ratusan santri lainnya tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Katanya, momentum puasa ini merupakan momentum yang baik untuk meningkatkan ibadah kepada sang pencipta.

"Kalau dirumah mungkin asyik main, tapi kalau disini kita belajar," kata Abdullah.

Jauh dari kemewahan bukanlah membuat ia iri atau berkecil hati, namun itu membuat ia bangga, sebab senang sekarang belum tentu senang nanti. Ibarat kata, berakir-rakit kehulu, berenang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Katanya, jika dipondok ia bisa mengaji minimal satu jus sehari, namun jika dirumah, bisa dipastikan akan banyak main dibanding mengaji.

Di Jambi sebrang ada beberap pesantren, Almubarok, Saadatudaren, As'ad, ‎Nurul Iman, dan pesantren Jauharen. Sore hari dikala puasa ini, para santri keluar untuk mencari makanan untuk disantap dikala berbuka.

‎Kebanyakan mereka membeli makanan ringan, seperti gorengan, es, dan lain sebagainya. Sementara untuk membeli nasi, hanya sedikit.

"Nasi sudah disiapkan dari pesantren, jadi tinggal beli kuenyo bae lagi. Tapi ado jugo yang beli lauknyo bae," kata Ahmad santri Nurul Iman yang ditemui dipasar bedug dikecamatan Pelayangan Jambi Sebrang.

Ahmad menyebut, dirinya boleh diktakan jarang untuk belanja di pasar bedug. Faktor ekonomi dan lingkungan yang Mempengaruhi itu semua.

"Kalau makan diluar trus gek cepat habis duit jajan. Tapi kalau kawan-kawan adola yang kesini tiap sore. Tapi kalau sayo kadang-kadang," katanya.

‎Di pesantren kata Ahmad, banyak ilmu dan pengalaman yang digali, disini tak hanya menggali ilmu agama saja, namun umum jug tak ditinggalkan, termasuk jiwa sosial.

Ia merasa bersyukur diizinkan oleh orangtuanya untuk mondok, sebab sedari kecil ia memang bercita-cita menjadi seorang santri‎, dan kelak menjadi guru.

"Kalau nuntut ilmu tu memang harus susah dulu. Insya Allah suatu saat nanti Allah akan membalasnya," imbuhnya. (zak)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved