Senin, 13 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Ketika Raja Saudi Heran Bung Karno Melakukan ini di Makam Nabi Muhammad SAW

Kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al Saud, ke Indonesia, 1 Maret 2017, memperlihatkan betapa eratnya hubungan bilateral

Editor: Rahimin
Istimewa
Presiden Republik Indonesia ke-1, Sukarno, bersama Raja Saudi, Saud bin Abdulaziz Al Saud. 

TRIBUNJAMBI.COM - Kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al Saud, ke Indonesia, 1 Maret 2017, memperlihatkan betapa eratnya hubungan bilateral kedua negara tersebut.

Kedekatan Indonesia dan Arab Saudi dimulai sejak era Presiden Pertama RI Soekarno yang memang dikenal bersahabat dengan Raja Arab Saudi saat itu, Saud bin Abdulaziz al Saud.

Contoh kedekatan tersebut terlihat ketika Soekarno atau yang dikenal dengan Bung Karno menunaikan ibadah haji pada tahun 1955. Ketika itu, sang proklamator disambut sebagai tamu kehormatan oleh Raja Saudi, Saud bin Abdulaziz Al Saud.

Berbagai cara dilakukan Raja Saudi untuk mengambil hati Bung Karno, salah satunya memberikan hadiah mobil.

"Ketika aku akan kembali ke tanah air, Raja Arab Saudi mengatakan, Presiden Sukarno, mobil Chrysler Crown Imperial ini telah Anda pakai selama berada di sini. Dan sekarang saya menyerahkannya kepada anda sebagai hadiah," kata Bung Karno menirukan ucapan Raja Saudi seperti dikutip dari National Geographic Indonesia.

Tentu saja Bung Karno girang bukan kepalang dengan pemberian hadiah itu. Sebagai balasan, Bung Karno mengundang Raja Saudi untuk datang ke Indonesia.

Raja Saudi sangat mengagumi Bung Karno sebagai pendorong kemerdekaan negara negara Asia Afrika. Dia juga menemani saat Bung Karno berziarah ke makam Nabi di Madinah.

Saat itu pula, Bung Karno melepaskan semua atribut-atribut dan pangkat kenegaraan yang digunakan. Kemudian Raja Saudi keheranan dan bertanya pada Bung Karno.

"Di sana hanya ada Rasulullah SAW yang memiliki pangkat yang jauh lebih tinggi dari kita, aku, dan dirimu," jawab Bung Karno.

Komitmen Bung Karno terhadap Islam tak pernah berhenti. Kelak Bung Karno menggagas Konferensi Islam Asia Afrika yang dilaksanakan di Bandung tahun 1964.

Hubungan erat antar kedua kepala negara itu tetap berjalin, dan mereka bertemu lagi dalam Konferensi Non Blok I di Beograd tahun 1962.

Kali ini di sela-sela lobi sidang, tiba-tiba Bung Karno memerintahkan Nyonya Supeni sebagai duta besar keliling Indonesia untuk memanggil Raja Saud.

Tentu saja duta besar keliling kesayangan Bung Karno ini bingung. Bagaimana caranya ia bisa `menggeret ` Raja Saudi menuju kursi Bung Karno.

Dia harus berpikir keras mencari alasan agar sang raja mau menghampiri Bung Karno.
Nyonya Supeni teringat bahwa Raja Saud sudah diundang oleh Bung Karno untuk berkunjung ke Indonesia. Sehingga hal ini yang disampaikan Nyonya Supeni ke Raja Saudi.

"Apakah Sri Baginda masih berminat memenuhi undangan Presiden Sukarno?" Raja Saud terlihat berpikir keras dan seolah menimbang-nimbang.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved