Pemuda Jambi Ini Dulu Pilot Pesawat Militer, Kini Bawa Boeing 737

PERNAH gagal di tahap seleksi akhir tes calon taruna AKABRI, tidak membuat alumnus SMA Negeri 3 kota Jambi tahun 1996 ini patah arang.

Penulis: ridwan | Editor: Nani Rachmaini
TRIBUNJAMBI/RIDWAN JUNAIDI
Hidayat Marpaung 

TRIBUNJAMBI.COM - PERNAH gagal di tahap seleksi akhir tes calon taruna AKABRI, tidak membuat alumnus SMA Negeri 3 kota Jambi tahun 1996 ini patah arang. Bahkan itu jadi pemicu untuk menggelorakan semangatnya hingga Hidayat Marpaung (38) menjadi Perwira Penerbang TNI Angkatan Laut yang bermarkas di Pangkalan Udara TNI AL Juanda, Surabaya.

"Kegagalan tidak membuat saya putus asa. Merencanakan untuk ikut tes tahun berikutnya, saya isi waktu bekerja serabutan baik sebagai loper koran, juga agen iklan Mingguan Warta Massa Jambi milik orangtua," ungkap Hidayat yang sudah memiliki 9.000 jam terbang sebagai pilot menjawab Tribun, Selasa (24/1).

Begitulah pria yang disapa Dayat ini semasa remaja. Ia pernah bekerja serabutan, demi membiayai kursus intensif UMPTN dan kursus bahasa Inggris. Maklum, setelah ayahnya Harris Marpaung meninggal dunia pada 1989, Dayat masih duduk di kelas 5 SD Negeri 89 Pasir Putih, Kota Jambi. Itulah yang memaksanya bekerja untuk mengurangi beban keluarga dalam membiayai pendidikan.

Meski sempat duduk di bangku kuliah Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya pada 1997, dia ngotot kembali ikut seleksi perwira TNI, tapi kali ini seleksi Prajurit Sukarela Dinas Pendek Penerbang TNI/POLRI.

"Syukur Alhamdulillah, Allah menjawab cita‑cita saya untuk dapat mengelilingi dan menginjakkan kaki ke seluruh pelosok Nusantara dengan kerja dan usaha saya. Tahun 2001 setelah saya menyelesaikan pendidikan 3 tahun di Sekolah Penerbang TNI AU Yogyakarta, akhirnya saya memulai penugasan Perwira Penerbang Pesawat Serbaguna NC 212 Casa, saya bertugas dari Sabang sampai Merauke bahkan dari Timor sampai Kepulauan Sanger Talaud pernah saya darati. Suatu pengalaman sangat berkesan," kenangnya.

Menginjak tahun ke‑10 di TNI AL, akhir 2011, suami Evita Setiawan, AKt ini dihadapkan pada pilihan sulit. Karena keduanya sama‑sama dia cintai yaitu melanjutkan karier sebagai Perwira TNI atau tidak melanjutkan ikatan dinas TNI dan menjadi pilot profesional.

"Karena kecintaan saya pada dunia penerbangan, akhirnya saya putuskan menerima tawaran bergabung di perusahaan penerbangan swasta nasional yaitu Lion Air,” urainya.

Dan sekarang Dayat merupakan Captain Pilot Boeing 737 NG Batik Air di group Lion Air. Dia menerbangan Batik Air ke semua rute di seluruh wilayah Indonesia secara bergiliran, kecuali ke Jambi. Anak mantan Ketua PWI Cabang Jambi, alm Harris Marpaung ini mengaku pernah bekerja part time di percetakan sebagai tenaga desain grafis amatir.

Saat di militer sederet pengalaman sudah ditempuh Dayat. Termasuk pada operasi pemulihan keamanan di Aceh dan Papua serta Operasi Kemanusiaan Gempa Tsunami Aceh. “Ini pengalaman yang sangat berkesan bagi, karena di sini banyak tantangannya," imbuhnya.

Modal disiplin dan tidak mengenal menyerah menjadi bekal anak ketujuh dari delapan bersaudara ini menjalani Pendidikan Initial Jet Pilot di maskapai Lion Air. "Memang terasa berat pendidikan yang saya jalani, suatu lompatan teknologi luar biasa. Terbangkan Pesawat Boeing 737 Next Generation tidak pernah saya impikan sebelumnya," tuturnya.

Selain terbang dan sebagai Pilot in Command dalam misi penerbangan, dia harus dituntut memberikan transfer pengetahuan tentang penerbangan. "Ini justru menjadi tantangan bagi saya untuk dapat memperdalam ilmu pengetahuan tentang dunia penerbangan," ucapnya.

Pengalaman luar biasa didapat akhir 2013. Hidayat dipercaya mengetes pilot pada Costumer Flight Boeing 737 NG di Seattle, USA. Rangkaian uji coba terbang pesawat Boeing 737 NG yang baru selesai diproduksi sebelum akhirnya diserahkan ke pembeli atau costumer.

"Kepuasan tersendiri bagi saya, mencoba pertama kali pesawat yang baru dibeli, menerbangkan pulang ke tanah air dan mengoperasikannya pada misi‑misi rute penerbangan Batik Air," imbuh pengurus Ikatan Pilot Indonesia (IPI) yang duduk di Komite Analisa dan Pencegahan Kecelakaan (Accident Analysis and Prevention Committee).

IPI dibentuk dengan harapan dapat bekerjasama dan sebagi mitra pemerintah dalam memajukan dunia penerbangan dan menjamin berlangsungnya keselamatan penerbangan di Tanah Air Indonesia. Dalam dunia perbangan ada semboyan, "The sky is vast place but there is no room for error". Dalam bahasa Indonesia kurang lebih, "Langit itu luas, namun tidak tidak ada sejengkalpun tempat untuk berbuat salah".

Sukses ini, sambung Dayat, tidak terlepas sikap disiplin yang diajarkan alm orangtuanya Harris Marpuang. "Disiplin tetap menjadi napas saya dalam menjalani tugas sebagai pilot sambil terus mengharap ridho dan perlindungan Allah SWT, semoga selalu diberikan keselamatan dalam misi penerbangan," tuturnya. (ridwan junaidi)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved